Rara mengatakan, wajah arwah itu cantik tapi terlihat sedih. Persis seperti yang diungkapkan dokter di rumah sakit. Rara hanya bisa nangis, ibunya menenangkan, tapi tangisan makin menjadi ketika mendengar kalimat lembut keluar dari tubuh tantenya yang wajahnya menyerupai nenek. "Ikut sama nenek, yuk. Sini, sama nenek saja". Kalimat itu terdengar lembut di telinga. 

 

Anda mungkin menduga penggalan cerita di atas saya ambil dari novel horor atau YouTube jurnalrisa. Jika ya, Anda salah. Paragraf di atas dikutip dari artikel “Cerita Rara Ditempeli Arwah Neneknya Usai Koma di Rumah Sakit” yang terbit di Okezone. Lucunya, kisah yang tayang di sebuah portal berita dan disusun oleh jurnalis di atas cara penulisannya serupa novel atau film horor—sama-sama menggunakan teknik “make-believe”.

Okezone bukan satu-satunya portal berita yang terobsesi pada horor atau cerita mistis. Kisah-kisah serupa Rara juga mudah ditemukan di banyak media daring lain. Saya berani bilang hampir semua media daring yang Anda tahu memiliki tagar seperti “mistis,” “gaib,” “horor,” dan semacamnya. Tulisan ini tidak hendak mempersoalkan kebenaran kisah-kisah mistis yang diproduksi media daring seperti Okezone atau mempertanyakan etis atau tidaknya sebuah portal berita memproduksi informasi mistis. Soal itu, kita serahkan saja pada ahlinya: Dewan Pers. 

Penting juga untuk dipahami bahwa hubungan jurnalisme dengan mistisisme tidak selalu problematis. Liputan media mengenai aspek mistis budaya suatu kelompok masyarakat valid-valid saja dilakukan. Namun, bukan liputan semacam itu yang menjadi subjek pemantauan tulisan ini. Fokus saya adalah pada kisah-kisah mistis bergaya “reality show”. Contoh konkretnya, kisah kantor Young Lex berhantu atau Indadari muntah darah saat berdakwah. Bila jurnalisme yang sebelumnya disebutkan hendak mencerdaskan pembacanya lewat paparan sudut pandang kebudayaan kelompok masyarakat tertentu, yang satu ini bertujuan membuat Anda “merinding”. 

Dalam tulisan ini, saya ingin menjelaskan bagaimana media daring merekonstruksi pengalaman mistis menjadi kisah yang membuat kita “merinding”. 


Menandu “Imajinasi"

Baik dalam film maupun produk non-fiksi seperti berita, audiens dituntun agar mereka seolah menjadi “saksi langsung” cerita yang disampaikan. Mengapa? Seni yang efektif ialah seni yang menyembunyikan bahwa dirinya merupakan rekaan (Wolf, 2009). Semakin sebuah cerita berhasil mengesankan bahwa ia “nyata,” semakin orang tersedot ke dalamnya. 

Sebagai contoh, film Hollywood biasanya bersusah payah merekonstruksi tabrakan menggunakan kendaraan asli. Tak jarang kendaraannya sampai rusak bak terkena kecelakaan betulan. Dengan cara ini, film Hollywood meyakinkan kita bahwa kita tengah menyaksikan langsung sebuah kecelakaan, melupakan bahwa ia adalah seni, dan memikat kita kepadanya. Itulah yang disebut Wolf sebagai “make-believe”. 

Karena pentingnya sensasi nyata inilah, “kedekatan” harus dibangun dalam karya. Kisah yang disajikan film atau tulisan mesti dipersepsi oleh penikmatnya sebagai sesuatu yang dekat. Dalam kasus kisah-kisah mistis di Okezone, kedekatan ini dibangun menggunakan subjek, latar, dan konstruksi logis narasi. 

Simak penggalan kisah bertajuk “Cerita Riri Lihat Penampakan Hantu Menyerupai Teman di Kantor”:

Tak bisa dipungkiri, beberapa kantor memang memiliki fenomena mistis yang beragam. Seperti kisah Riri yang melihat sosok penampakan hantu yang wujudnya menyerupai rekan satu kantornya. Saking miripnya, ia pun bahkan tidak dapat membedakan sosok hantu tersebut.

Singkat cerita Riri memutuskan untuk datang ke kantor lebih pagi. Biasanya ia tiba di kantor sekira pukul 08.30, tapi entah kenapa pagi itu ia datang lebih awal sekira pukul 08.00. Ia pun langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa merasa sedikit pun hal aneh, tak terpikir melihat penampakan hantu sekalipun.

Dua paragraf di atas adalah pembuka cerita pengalaman mistis Riri di kantornya. Dua paragraf tersebut memperkenalkan pembaca kepada latar dan tokoh utama: Riri dan kantor. Siapa Riri? Dalam cerita ini, Riri hanya dideskripsikan sebagai pekerja kantoran. Dengan menghilangkan keterangan spesifik mengenai Riri, ia bisa menjadi siapapun. Ia bisa jadi tetangga atau rekan kerja kita. Nama Riri sendiri sangat banyak dipakai di Indonesia. Dengan cara ini, Riri menjadi referensi kultural yang dekat dengan pembaca.

Taktik lain untuk membangun kedekatan tokoh dengan pembaca adalah menjadikan selebritas sebagai subjek cerita. Hal ini misalnya tampak dari artikel semacam “Andhika Pratama Ungkap Alami Kejadian Mistis di Kediamannya” atau “Maliq & D’Essentials Ungkap Pengalaman Mistis di Soundrenaline”. Berbeda dengan strategi pertama yang mengaburkan subjek agar merepresentasikan perempuan Indonesia, strategi kedua membuat pembaca percaya karena orang yang mengalaminya adalah tokoh “riil”. Meski berbeda, baik tokoh awam maupun selebritas berita Okezone sama-sama tidak perlu diperkenalkan. Setiap dari kita tahu Riri dan Maliq D’Essentials. Dengan cara ini, pembaca bisa langsung terhubung dengan cerita tanpa harus berlama-lama mengenali tokoh.

Kedekatan juga dibangun dengan memberi latar cerita yang akrab dengan pembaca. Kedekatan latar terkait dengan dua hal. Pertama, dekat karena ruang yang menjadi latar merupakan bagian integral hidup kita (misal, rumah atau kantor). Kedua, dekat karena konteks kultural—dalam hal ini, latar yang dipakai memang sudah biasa menjadi latar cerita mistis seperti rumah sakit, kereta malam, rumah tua, dan lainnya. 

Lokasi-lokasi yang tersebut dalam tabel adalah latar dari banyak urban legend Indonesia. Terlihat, film maupun cerita mistis yang sehari-hari kita dengar acap mengambil latar tempat seperti rumah sakit, rumah tua, museum. Berita mistis melakukan “make-believe” dengan menggunakan latar yang sudah diingat pembaca sebagai “angker”. 

Simak bagaimana paragraf pembuka artikel berjudul “Dirawat di Rumah Sakit, Annisa Diajak Ngobrol Pasien yang Sudah Meninggal” mengaktivasi imajinasi angker kita dengan penggunaan latar rumah sakit:

Rumah sakit memiliki sejuta kisah mistis yang banyak dialami orang-orang. Tak jarang pasien rawat inap, tenaga medis, maupun pengunjung sering diganggu hantu penunggu rumah sakit.

Rumah sakit dalam cerita ini tidak bermakna harfiah melainkan menandai situs “mistis”. Rumah sakit berulang kali dipergunakan sebagai latar artikel mistis Okezone. Contoh lainnya adalah artikel berjudul “Misteri Bel Nurse Call untuk Suster Ria saat Piket Malam, Horor Banget!”:

Rumah sakit adalah salah satu bangunan yang memiliki kesan horor. Salah satu penyebabnya mungkin karena beberapa pasien ada yang menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Entah itu karena sakit atau korban kecelakaan yang tidak tertolong.

Lebih dari sekedar menunjuk rumah sakit, paragraf di atas juga mengaktivasi hubungan rumah sakit dengan kematian dalam memori kolektif kita. Di titik ini, taktik membangun latar yang “dekat” saja tidak cukup tanpa melekatkannya dengan taktik berikutnya yakni “konstruksi logis cerita”. Untuk memahaminya, mari lihat penggalan cerita pengalaman mistis personel Maliq D’Essential:

“Jadi waktu dulu, lupa tahun berapa, tapi di sini (Bali), kita pernah jadi bintang tamu. Nah yang laki-laki ini kan terkadang suka malas ke toilet ya kalau mau pipis,” Indri membuka cerita.

“Nah jadi si Angga ceritanya pipis nih, tapi bukan di toilet. Enggak berapa lama kita berfoto bareng, eh tahu-tahu ada yang aneh,” lanjut Indri.

Paragraf di atas berfungsi menjelaskan peristiwa mistis yang dialami oleh personil Maliq. Dalam foto bareng para personel usai festival Soundrenalin, ada penampakan kepala harimau. Rupanya, salah satu dari mereka kencing sembarangan. Penjelasan semacam ini mendekatkan cerita dengan pembaca karena pengalaman mistis acap diajarkan sebagai konsekuensi perbuatan kita. Di Jawa, misalnya, ada keyakinan bahwa kencing sembarangan di bawah pohon mendatangkan sial; anak yang main di luar rumah ketika bedug Maghrib bertalu bisa digondol wewe gombel; mereka yang hobi meriung di depan pintu sukar dapat jodoh. Berbagai gambaran di atas memang relatif sukar dinalar, tapi mereka hidup dan terus-menerus diulang hingga menjadi pengetahuan yang lazim. 

Ilustrasi lain penggunaan taktik ini dalam berita Okezone adalah penjelasan Annisa yang dihantui pasien meninggal di rumah sakit tempatnya dirawat:

Menurut keterangan Annisa bahwa Nenek itu sakit jantung, anaknya jarang ada yang besuk hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya di kasur sebelahnya.

Keterangan di atas menjelaskan mengapa nenek tersebut menghantui Annisa. Konstruksi logis cerita sangat familiar dengan pembaca—nenek tetap bergentayangan lantaran gelisah, tidak ada yang menjenguknya.
 

Make-Believe adalah Permainan Imajinasi

Dalam manuver-manuver “make-believe” yang telah kita diskusikan di atas, rasa “ngeri” tidak ditimbulkan dengan mendatangkan ketakutan dari luar diri melainkan dengan mengaktivasi kode kultural yang sudah ada dalam kebudayaan dan benak kita. Cerita, dalam hal ini, menghidupkan tanda-tanda menakutkan yang kemudian memicu imajinasi (atau teater pikiran). Dengan deskripsi yang ciamik, Wolf mengatakan:

Sementara representasi ilusionis menyediakan skenario, berbekal pengetahuan dan pengalamannya sendiri, khalayak yang menerimanya diajak untuk berperan sebagai sutradara yang menghidupkan imajinasi dari skenario tersebut dalam pikirannya sendiri. (Wolf, 2009:47)

Dari kutipan di atas, kita diajak memahami bahwa make-believe adalah permainan imajinasi. Kata “pocong”, “kamar jenazah”, atau “museum” mencuatkan visual mengerikan di benak tetapi kengerian itu sendiri lahir dari pengalaman kebudayaan kita terhadap tanda-tanda tersebut. 

Sekali lagi, dalam konteks ini “kedekatan” adalah kuncinya. Seorang sutradara akan kesulitan menghidupkan naskah dalam pikirannya kala naskah tersebut ditulis dalam bahasa yang tidak dipahaminya dengan baik. Itulah mengapa film-film Suzana bisa membangunkan bulu kuduk, sementara cerita vampir produksi Hollywood tidak. Kode kultural kita mengenai orang mati, kuburan, atau rumah sakit berbeda dengan yang dipahami Hollywood.

Okezone paham betul soal ini. Karenanya, ia menyuguhkan kepada kita kisah Annisa, rumah sakit angker, dan nenek yang semasa hidupnya gelisah. Selanjutnya, kitalah sutradara yang membuat kisah tersebut hidup dan menyeramkan.

 

 

Pengumpulan data untuk tulisan ini dibantu oleh Purnama Ayu Rizky

Wolf, W. (2009). Illusion (Aesthetic). Dalam J. P. Peter Hühn, Naratologia. New York: Walter de Gruyter.