Pernah membayangkan cuitan Anda di Twitter dibeli seharga Rp 42 miliar? Sulit bagi saya membayangkannya, bahkan untuk cuitan dari selebtwit populer sekalipun. Tapi, transaksi ini sungguh terjadi bagi Sina Estavi, seorang warga Malaysia, untuk tweet pertama milik Jack Dorsey pendiri Twitter. 

Cuitan yang tertulis "just setting up my twttr" pada tanggal 22 Maret 2006 ini dilelang di situs Valuables, setelah dikonversi dalam bentuk Non-Fungible Token (NFT) atau sebuah token digital untuk mensertifikasi kepemilikan. Transaksi dilakukan dengan Ethereum, salah satu jenis mata uang kripto yang memfasilitasi fitur NFT, dengan nilai 1630.5825601 ETH atau setara dengan USD 2,9 juta saat penjualan. 

Transaksi semacam ini hanya dimungkinkan terjadi ketika sebuah “karya” digital--dalam hal ini sebuah cuitan--dapat disertifikasi kepemilikannya bagaimanapun salinannya tersebar luas di jagat maya. Di sinilah fungsi utama Non-Fungible Token (NFT), yang bekerja dengan cara menghasilkan token berupa kode khusus berbasis blockchain untuk menandai pemilik aset berupa karya digital hingga bisa sah diperjualbelikan.

Kehadiran NFT tak hanya dianggap sebagai alternatif metode distribusi karya digital, tetapi juga menjawab permasalahan yang dihadapi kreator digital, terutama soal minimnya royalti yang didapat kreator. Lebih dari itu, NFT digadang-gadang mampu menyingkirkan middlemen (perantara) dalam distribusi karya seni, seperti spekulan, broker, hingga kolektor yang memonopoli karya untuk keuntungan dirinya sendiri. 

Sistem blockchain yang menjadi ekosistem NFT memungkinkan hubungan peer to peer antar pengguna NFT sehingga transparansi distribusi karya dapat terwujud. Sayangnya, transaksi karya digital dengan NFT juga rentan dengan spekulasi pasar karena nilai mata uang kripto sendiri masih sangat fluktuatif.

 

Cara Kerja NFT di Semesta Blockchain 

Tercatat pada kuartal pertama 2021, NFT sudah menembus nilai transaksi dua miliar  dolar. Nilai yang cukup fantastis untuk jenis aset baru dalam pasar saham. Prinsipnya sama seperti semua jenis aset, nilai harga terbentuk dari permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar. Apalagi NFT identik dengan prinsip kelangkaan--produksinya dibatasi dalam jumlah tertentu bahkan sebagian besar dibuat hanya satu buah.

Seperti namanya, sebuah NFT tidak bisa dipertukarkan dengan NFT lain. Pasalnya  setiap NFT memiliki nilai yang berbeda-beda. Ia hanya mewakili satu objek nyata baik fisik maupun digital dari sebuah karya. Dalam NFT ada kode khusus yang tercantum dalam NFT, tempat NFT terdaftar sebagai sertifikat kepemilikan data digital.

Kode khusus tersebut berbentuk metadata yang tidak bisa diduplikasi lagi. Sekalipun karya digital diduplikasi sebanyak apapun, metadata dari sebuah karya digital hanya satu buah. Sementara itu, blockchain berfungsi layaknya buku pencatatan berbagai bentuk transaksi, kepemilikan, hingga aktivitas keuangan lainnya dalam mata uang kripto. 

 

NFT sebagai Alternatif

Posisi NFT yang dibangun dalam sistem blockchain menjadikan model baru distribusi karya digital yang lebih demokratis dan menguntungkan kreator maupun audience. Pasalnya, blockchain mengikis peran perantara dalam distribusi karya. 

Penulis lagu dan produser Imogen Heap pernah menyebut bahwa musisi tak pernah mendapat transparansi keuntungan royalti dari karyanya. Potensi kecurangan pembayaran royalti karena label rekaman tak membuka data penggunaan karya musisi, menurut Imogen, akan teratasi jika ada direktori bersama yang bisa diakses siapa saja termasuk calon pengguna hak cipta. Teknologi blockchain yang ditawarkan NFT memungkinkan terwujudnya direktori tersebut.

Ketika perantara dipangkas dalam transaksi NFT, posisi kreator bisa lebih mandiri. Perupa, misalnya, bisa saja tak memusingkan galeri untuk menjual karyanya atau musisi tak mencemaskan royalti penggunaan karyanya. Begitu juga untuk audiens yang dapat berkomunikasi langsung dengan kreator untuk setiap karya yang diinginkannya.

Selain itu, kreator dapat memprogram royalti dalam NFT untuk menerima persentase penjualan setiap kali karyanya dijual kepada pemilik baru. Fitur pemrograman tersebut menarik karena umumnya kreator tidak menerima keuntungan di jangka panjang setelah karyanya pertama kali dijual, terutama karya yang harganya melejit berkat monopoli spekulan, broker, atau kolektor. Demokratisasi dan desentralisasi ini terwujud karena prinsip utama blockchain, yaitu:

  1. Berbasis Data Terdistribusi: Setiap pihak di blockchain memiliki akses ke seluruh database dan riwayat lengkapnya. Tidak ada satu pihak pun yang mengontrol data atau informasi tersebut. Setiap pihak dapat memverifikasi catatan mitra transaksinya secara langsung, tanpa perantara.

  2. Transmisi Peer-to-Peer: Komunikasi terjadi secara langsung antara pengguna bukan melalui simpul khusus yang terpusat. Setiap pengguna menyimpan dan meneruskan informasi ke pengguna lainnya.

  3. Transparansi dengan Nama Samaran: Setiap transaksi dan nilai terkaitnya dapat dilihat oleh siapa saja yang memiliki akses ke sistem. Setiap pengguna pada blockchain memiliki alamat alfanumerik 30 karakter unik yang mengidentifikasinya. Pengguna dapat memilih untuk tetap anonim atau memberikan bukti identitas mereka kepada orang lain. Sementara, transaksi terjadi antara alamat blockchain.

  4. Catatan yang Akuntabel: Setelah transaksi dimasukkan dalam database dan akun diperbarui, catatan tidak dapat diubah, karena mereka terkait dengan setiap catatan transaksi sebelumnya dalam satu mata rantai. Berbagai algoritma dan pendekatan komputasi dikerahkan untuk memastikan bahwa rekaman pada database bersifat permanen, berurutan, dan tersedia untuk semua orang lain di jaringan.

  5. Logika Komputasi: Sifat digital dari buku pencatatan berarti bahwa transaksi dalam blockchain dapat dikaitkan dengan logika komputasi terprogram. Sehingga pengguna dapat mengatur algoritma dan aturan yang secara otomatis memicu transaksi antar pengguna lainnya tanpa otoritas terpusat.

 

Masih Meninggalkan Masalah Lama

Sudah banyak bukti seniman atau kreator yang sukses memanfaatkan NFT. Mike Winkelmann, yang lebih populer dengan nama Beeple, membuat kolase lima ribu gambar digitalnya berjudul "EVERYDAYS: The First 5000 Days." Karyanya telah terjual senilai 69,3 juta dolar, rekor harga tertinggi NFT. Dari musisi, ada Kings of Leon yang menjual 6,5 ribu eksemplar “NFT Yourself” dengan total harga 2,2 juta dolar untuk akses konser VIP seumur hidup lengkap dengan pemandunya.

Segala potensi NFT ini tak lepas dari masalah. Salah satu yang utama adalah potensi adanya fluktuasi harga, dan potensi munculnya gelembung valuasi suatu komoditas baru. Gelembung ini membawa pengguna komoditas mengalami kerugian karena inflasi yang terjadi seketika menandakan pecahnya gelembung. Tandanya persis seperti yang terjadi pada NFT, dimana eskalasi nilai yang cepat akan diikuti inflasi yang cepat juga. Seperti yang disampaikan esais dan seniman Martin L. Ostachowski.

         Ostachowski menyebut naik turunnya nilai NFT juga diperparah oleh mata uang kripto yang juga sangat fluktuatif. Orientasi nilai pasar yang rapuh ini yang memungkinkan spekulan, broker, hingga kolektor dapat bermain lebih jauh. Sehingga visi yang dibawa NFT rentan tersandera masalah lama distribusi karya. Kondisi ini telah disadari oleh pengguna NFT, solusi yang ditawarkan cukup rasional: membentuk komunitas.

Pengalaman kolumnis tema teknologi Kevin Roose bergabung dengan Pudgy Penguins menyebut komunitas NFT dapat membantu menstabilkan harga dan menjaga etik pengguna NFT. Dua hal yang penting dijaga untuk mewujudkan visi demokratis dan desentralisasi yang jadi tujuan NFT.