Menjadi orang yang berbeda itu seringkali tidak mudah. Dalam sepakbola, yang katanya menyatukan dunia, diskriminasi terhadap warna kulit yang berbeda justru kerap terjadi. Dengan perkembangan teknologi digital, rasisme dalam sepakbola tidak hanya terjadi dalam teriakan penonton di stadion atau peliputan media massa, melainkan juga terjadi di media sosial. 

Wilfried Zaha, penyerang klub sepakbola Crystal Palace, menjadi salah satu korbannya. Zaha, pemain asal Pantai Gading, memiliki ketakutan membuka akun media sosial setelah mendapatkan serangan rasisme. Dalam wawancaranya bersama CNN, Zaha mengatakan:

“Bagi pemain sepakbola berkulit hitam, memiliki Instagram sudah tidak lagi menyenangkan. Anda tidak bisa menikmati akun Anda. Saya pun takut untuk membuka kotak pesan di media sosial. Saya sudah tidak memiliki aplikasi Twitter di telepon genggam, karena hampir bisa dipastikan Anda akan mendapat berbagai macam serangan, terutama setelah pertandingan berakhir.”

Zaha hanyalah satu dari sekian banyak pemain sepakbola berkulit hitam yang mengalami hal ini. Pemain bintang seperti Raheem Sterling, Troy Deeney, Paul Pogba, hingga Moise Kean menjadi target. Bahkan pemain akademi Ipswich Wanderers, klub tingkat 9 Inggris yang jauh dari hiruk-pikuk pemberitaan sepakbola Inggris, juga tak luput dari masalah ini. Beruntung, masih ada organisasi nirlaba yang berfokus melawan rasisme, yaitu Kick It Out, membantu para pemain sepakbola yang menjadi korban rasisme. 

Banyaknya serangan rasisme terhadap pemain sepakbola, baik di dalam stadion maupun di media sosial, membuat beberapa klub dan pemain sepakbola ikut angkat suara. Raheem Sterling misalnya, gencar mengkampanyekan perlawanan terhadap rasisme. Klub Manchester United juga memprotes keras serangan rasisme yang menimpa pemainnya, Paul Pogba. Di Indonesia, klub Persipura Jayapura mengkampanyekan “Stop Rasisme” setelah kejadian penyerangan asrama mahasiswa papua di Surabaya.

Keberanian para pemain sepakbola korban rasisme menjadi angin segar dalam dunia persepakbolaan. FIFA mulai mengkampanyekan slogan “say no to racism pada 2002, dan UEFA menggandeng Football Against Racism in Europe (FARE) satu tahun sebelumnya. Namun, belum ada langkah serius yang diambil oleh kedua otoritas tertinggi di dunia dan Eropa ini. Ketidakseriusan FIFA terlihat, misalnya, ketika membubarkan gugus tugas anti-rasisme dan diskriminasi (Task Force Against Racism and Discrimination). Padahal gugus tugas ini baru berusia 3 tahun. 

CEO Queens Park Rangers, Lee Hoos, pernah mengkritik penanganan FIFA dan UEFA atas tindakan rasisme sama seperti sedang menangani bangku rusak di stadion. Lee dan timnya harus menunggu selama lebih dari 10 minggu untuk mendapatkan keputusan terkait serangan rasisme yang menimpa timnya saat menjalani pertandingan persahabatan melawan klub dari spanyol, AD Nervion. Danny Rose, pemain tim nasional Inggris, juga pernah mengutarakan kekecewaannya atas hukuman yang tidak adil dari FIFA. Montenegro hanya diberikan denda £17,396 dan satu pertandingan tanpa penonton setelah fansnya bertindak rasis terhadap beberapa pemain Inggris. Hukuman ini, menurut Rose, lebih ringan dari hukuman terhadap mantan manajer Tottenham, Mauricio Pochettino, yang mengkonfrontasi wasit Mike Dean.



Memanfaatkan Loyalitas Suporter

Setiap klub atau pemain bintang pasti memiliki fans loyal yang selalu mengikuti perkembangan idolanya. Bermodalkan loyalitas dari para pendukungnya, pemain dan klub sepakbola akan lebih mudah mengkampanyekan perlawanan terhadap rasisme. 

Raheem Sterling misalnya, menjadi salah satu pemain yang paling sering menyuarakan perlawanan terhadap rasisme. Ia angkat suara atas kasus rasisme yang menimpa dirinya, mengkritisi pemberitaan media yang dianggap rasis, dan ikut mengkampanyekan Black Lives Matter melalui akun Instagram-nya. Selain Sterling, penyerang Manchester United Marcus Rashford pernah meminta twitter untuk menghentikan rasisme di media sosial.

Rekan satu tim Rashford, Harry Maguire, bahkan meminta facebook dan twitter membuat kebijakan verifikasi menggunakan paspor agar memudahkan kepolisian melacak pelaku rasisme. Perlawanan paling terorganisir diinisiasi oleh Professional Footballers Association (PFA) yang mengkampanyekan #Enough untuk memprotes langkah yang diambil perusahaan-perusahaan media sosial dan otoritas sepakbola dalam menangani persoalan rasisme.

Upaya pemain dan klub sepakbola ini, sayangnya, tidak serta merta menurunkan angka kasus rasisme, khususnya di media sosial. Menurut Kick It Out, pada musim 2018/2019, terdapat 274 kasus rasisme. Angka ini naik sebesar 42,7% dibanding tahun sebelumnya. Organisasi ini juga menerima 99 laporan serangan rasisme di media sosial. Kenaikan angka kasus rasisme tentunya bukan tanpa sebab. Ada peran media yang turut andil di dalamnya. 

Media Corriere dello Sport, misalnya, merilis berita dengan headline “Black Friday” dengan foto Romelu Lukaku dan Chris Smalling. Kedua pemain dan beberapa tim Serie A Italia kompak mengecam pemberitaan ini melalui akun Twitter. Di Inggris, Daily Mail dikritik oleh Raheem Sterling setelah menerbitkan dua berita tentang rekan setimnya, Tosin Adarabioyo dan Phil Foden. 

Daily Mail menyindir Tosin Adarabioyo, pemain Inggris keturunan Nigeria, karena menghabiskan uang untuk membeli rumah mewah, padahal belum pernah bermain di pertandingan Liga Premier Inggris. Perlakuan ini berbeda dari pemberitaan tentang Phil Foden yang digambarkan sedang mengatur masa depan setelah membeli rumah mewah. Bagi Sterling, pemberitaan yang tidak adil ini akan memicu meluasnya tindakan rasisme.



Perlu Pembenahan Struktural

Langkah serius ditempuh oleh Kick It Out dan Asosiasi Pesepakbola Profesional Inggris (PFA). Keduanya bertemu perwakilan Twitter UK untuk membahas konten rasis yang tersebar di Twitter. Hasilnya, Twitter UK sepakat bekerja sama dengan PFA mengadakan serangkaian program pelatihan untuk para anggotanya. 

Program pelatihan media sosial sebenarnya sudah dilaksanakan oleh Kick It out untuk pemain-pemain di Liga Inggris. Sayangnya, program tersebut masih menyisakan sejumlah masalah. Riset yang dilakukan oleh Kilvington dan Price (2019) menemukan adanya koordinasi yang buruk antara klub dan asosiasi, kerahasiaan antar klub dan FA (Otoritas tertinggi sepakbola Inggris). Selain itu, terdapat juga kekurang pedoman, kebijakan, dan sumber daya yang jelas untuk diikuti dan digunakan oleh klub. Terlepas dari kekurangan yang ada, keseriusan FA mengatasi rasisme jauh lebih baik dibandingkan FIFA dan UEFA. 

Adanya kemajuan di dunia sepakbola internasional, khususnya di Inggris, seharusnya bisa menjadi pemantik bagi PSSI untuk berbenah. Sayangnya selama ini hanya berusaha memperbaiki citranya saja. PSSI belum memandang isu rasisme sebagai permasalahan serius. Padahal bibit-bibit rasisme hampir selalu hadir di setiap pertandingan yang dilakoni tim dari Indonesia Timur, khususnya Papua. Hal ini dialami, misalnya, oleh pemain klub Persewar Waropen ketika menghadapi Sriwijaya FC, atau Mbidah Messi setelah menjalani laga melawan Persija Jakarta. 

Serangan rasisme juga sudah muncul dalam media sosial pemain sepakbola, namun PSSI hingga saat ini tidak menempatkan ranah digital sebagai bagian dari pekerjaannya. Misalnya saat Aaron Evans, yang saat itu membela PSM Makassar, mengunggah video tekel keras dari Boaz Solossa, pemain Persipura Jayapura. Kolom komentar dibanjiri hujatan dan tidak sedikit yang bernada rasis. Sayangnya PSSI tidak melakukan tindakan apapun atas komentar rasis tersebut.

Jika ini dibiarkan, bukan tidak mungkin serangan rasisme akan semakin banyak dan memicu lebih banyak kekerasan di sepakbola Indonesia. Sudah saatnya PSSI mempelajari bagaimana FA dan Kick It Out memberikan edukasi kepada para pemain, pejabat, serta suporter dalam melawan rasisme.

 

Kilvington, Daniel, & Price, John. 2019. Tackling Social Media Abuse? Critically Assessing English Football’s Response to Online Racism. Communication and Sport, Vol 7(1) 64-79