Beberapa waktu lalu, pengguna internet Indonesia ramai membanjiri akun Instagram aktris Han So Hee dengan makian “pelakor” atau perebut laki orang. Serangan ini ia dapatkan karena memerankan Yeo Da Kyung, perempuan selingkuhan Lee Tae Oh dalam serial drama TV The World of The Married. Perilaku tersebut sampai mendapatkan sorotan dari media di Indonesia dan Korea Selatan, di mana orang Indonesia  dianggap tidak bisa membedakan antara kenyataan dengan akting.

Hal serupa juga pernah menimpa rapper Rich Brian dan Joji. Brian mendapatkan banyak kritik dari fans girlband Loona bernama “Orbits” yang mengunggah ulang cuitan-cuitan lamanya yang tidak pantas, diikuti dengan tagar #RichBrianIsOverParty. Hal ini terjadi setelah Brian, Loona, dan artis-artis lainnya tampil di konser daring Asia Rising Forever.

Beberapa hari setelahnya, giliran Joji yang dikritik karena masa lalunya sebagai Filthy Frank, persona humor absurd di YouTube. Hal ini dimulai oleh para fans kpop muda yang baru menyadari bahwa Filthy Frank dan Joji adalah orang yang sama. Mereka mempermasalahkan konten-konten Filthy Frank yang rasis dan stereotipikal, tidak menyadari bahwa persona Filthy Frank (dan karakter-karakter Joji lainnya) adalah sebuah bentuk satir yang merefleksikan tingkah manusia di media sosial. 

Dalam studi fandom, orang-orang yang passionate dalam membenci karakter, selebritas, media, dan lainnya ini dikenal sebagai “anti-fan”. Seperti namanya, mereka adalah anti-tesis dari fans. Apabila fans memuja dan mendukung idola mereka, maka anti-fans akan membenci, memaki, dan mencari keburukan dari para idola ini. Aktivitas anti-fans meliputi hate watching, snark, berkumpul di klub dan situs anti-fan untuk mendiskusikan kebencian mereka, hingga yang paling ekstrim adalah mencelakai subjek kebencian di dunia nyata.

Meski keberadaannya cukup menonjol dalam diskursus fandom, analisis tentang anti-fan terhitung minim. Penelitian anti-fan pertama baru dilakukan pada 2003, jelas tertinggal dibandingkan dengan studi fans yang sudah dimulai sejak pendirian studi kebudayaan (cultural studies). 

Penelitian anti-fans sendiri diprakarsai oleh Jonathan Gray (2003), di mana ia secara tidak sengaja ketika dalam wawancara menemukan perbedaan antara fans The Simpson dan pasangan mereka yang non-fans dan anti-fans. Gray menemukan bahwa non-fans dan anti-fans mempunyai pengetahuan yang dalam tentang suatu teks, tapi menginterpretasikannya secara berbeda.

Logikanya, orang yang tidak menyukai sesuatu tidak akan mencari tahu objek yang mereka tidak sukai. Tapi, anti-fans justru melakukan hal yang sebaliknya. Mereka mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang objek yang mereka benci sehingga bisa membuat basis alasan ketidaksukaan mereka.

Sedangkan Matt Hills (dalam Kimberly Springer, 2013) menyatakan anti-fans melakukan distant reading, yaitu mendapatkan pemahaman tentang objek yang mereka tidak sukai lewat cuplikan teks, film, dan sumber sekunder lainnya lalu mengaplikasikan pandangan moral dan kultural yang mereka lewat media. 

Kimberly Springer berargumen bahwa para anti-fans memperlihatkan agensi sekaligus kreativitas luar biasa dalam menunjukkan kebenciannya. Kebencian ini juga tidak bisa diremehkan karena pada dasarnya ia adalah kritik kultural yang integral dalam diskursus fans, fandom, dan budaya pop.

Layaknya fans, anti-fans juga kerap mencari atau bahkan membentuk klub sesama pembenci. Misty Lane, pendiri komunitas LiveJournal “Rachael Ray Sucks Community”, misalnya, menceritakan motivasinya membentuk klub anti-fan, yaitu ketidaksukaannya terhadap tips-tips memasak yang diberikan Rachael dan gestur tubuhnya yang ia anggap menyebalkan.

Meskipun tujuan dan isi grup tersebut negatif, Misty menyatakan bahwa klubnya dipenuhi dengan orang-orang yang aktif berkomentar dan humoris. Keberadaan klub anti-fan ini, lanjut Misty, juga menciptakan ikatan dan perasaan bahwa mereka tidaklah aneh dan sendirian karena tidak menyukai suatu hal yang populer. 

Secara jenis, Jonathan Gray mengklasifikasikan anti-fans sebagai berikut:

  1. Competitive Anti Fandom, yaitu mereka yang memiliki kecenderungan untuk membenci fandom pesaingnya, seperti fans Star Wars yang cenderung membenci Star Trek.

  2. Bad Object, adalah mereka yang setuju bahwa suatu objek melawan nilai moral dan estetika yang mereka pegang.

  3. Disappointed Anti-Fandom, merupakan kelompok penggemar yang kecewa dengan arahan atau aspek suatu media. Kekecewaan itu mereka salurkan dengan mengubah bagian yang mereka tidak sukai. Fans fiction, yang membuat versi berbeda dari sebuah cerita film atau komik, misalnya, adalah contoh dari jenis anti-fans ini.

  4. Anti-Fans Anti-Fandom merujuk pada fans yang membenci sesama fans. Kebencian ini biasanya berawal dari ketidaksukaan terhadap praktik fandom orang lain, seperti membuat fanfic, fanvideo, dan lain-lain.

Tipe anti-fans ketiga dan keempat tadi memiliki kekuatan untuk mengubah arahan diskursus fandom dan bahkan konten yang sama sekali baru dari versi aslinya. Meski kritikan yang baik berfungsi sebagai refleksi, tapi seringkali kritikan mereka juga merujuk ke hal-hal yang kontraproduktif, seperti sengaja mencari kesalahan sang idola atau media.

Untuk menggaet orang-orang, mereka menggunakan bahasa “SJW” dan cancel culture agar suatu media terlihat “problematis”. Salah satu aspek yang paling sering diproblematisir adalah menunjuk suatu pasangan fiksi sebagai pasangan yang mempromosikan kekerasan, inses, atau pedofilia meskipun pada kenyataannya tidak begitu.

Kerasnya suara anti-fans di internet sering dianggap sebagai gangguan. Anti-fans tak hanya membuat pengalaman mengonsumsi media menjadi tidak menyenangkan, tapi juga membuat fans dan tim kreatif merasa tidak aman karena dihina, dibeberkan informasi pribadinya, hingga diancam keselamatannya.

Walaupun keberadaannya meresahkan banyak orang, sayangnya tidak ada yang bisa benar-benar menghentikan anti-fans untuk membenci sesuatu.