Hujan hujatan mesti diterima Ferdian Paleka setelah ia membuat video prank di YouTube. Dalam video bertajuk “Prank Ngasih Makan ke Banci CBL” itu, ia mengerjai beberapa transpuan dengan mengirim kardus sembako yang ternyata berisi batu bata dan sampah. 

Apa yang ia lakukan itu jelas mengundang amarah publik. Ferdian sendiri kini berhasil diringkus aparat setelah ia melarikan diri.

Tentu, video prank atau acara TV yang menjahili orang bukanlah hal baru. Di Amerika Serikat, misalnya, ada acara prank di TV bernama “Candid Camera” yang usia siarannya bertahan dari 1948 hingga 2014-an.

Sementara di Indonesia, tayangan “Spontan” di SCTV juga berjaya sejak pertama kali disiarkan pada 1996. Selain menempati rating tertinggi selama tiga tahun penayangannya, Tirto.id mencatat, “Spontan” merebut penghargaan sebagai acara komedi, presenter, dan sekaligus sutradara acara terbaik.

Selain laris manis di TV, konten prank juga laku di YouTube. Video prank yang menyamar menjadi gembel, misalnya, meraih jumlah penonton yang fantastis. Video Baim Wong “gembel” ditonton lebih dari 10 juta kali dan Atta Halilintar “gembel” ditonton lebih dari 12 juta kali. Ketertontonannya yang tinggi itu barangkali yang membuat Ria Ricis membuat video serupa sebanyak dua kali dan mendulang views di atas 4,5 juta untuk kedua videonya.

Pertanyaannya, kenapa konten seburuk itu justru diminati oleh masyarakat? Kenapa orang suka menonton prank?

Koestenbaum, penulis buku Humiliation (2011), menjelaskan bahwa orang suka menonton ekspresi malu, kikuk, dan bersalah dari korban prank. Sebab, penonton prank tak bisa memprediksi reaksi apa yang bakal muncul dari orang yang dikerjai. Reaksi tak terduga itulah yang memiliki efek kejutan yang menghibur. Kenikmatan dari menyaksikan reaksi orang lain pada akhirnya menjadi candu tersendiri bagi penonton.

Motivasi voyeuristik alias senang menyaksikan reaksi orang lain tersebut lantas dikapitalisasi oleh berbagai media termasuk televisi sebagai konten hiburan untuk disiarkan di jam-jam strategis. Di Hollywood, strategi kapitalisasi ini berguna untuk menurunkan risiko kerugian dari ongkos produksi. Sebab, memproduksi video prank yang dibumbui komentar pembawa acara relatif lebih hemat biaya.

Kecanduan atas prank tak hanya dialami oleh penonton tapi juga oleh pembuat konten itu sendiri. Dari sisi psikologis, kriminolog Tony Blockley menjelaskan bahwa hasrat untuk menakuti atau memberi kejutan adalah obsesi manusia pada sensasionalisme. Jika reaksi korban prank sesuai ekspektasi, maka ini ibarat menyuapi ego sendiri. Apalagi jika pembuat konten diganjar dengan pujian bertubi-tubi dari penontonnya.

"Kita tidak membuat prank sekadar demi mengejutkan atau menakut-nakuti. Kita melakukannya untuk mencapai sesuatu," tulis Blockley.

Pencapaian apa yang ia maksud? Dominasi.

Berdasarkan video-video prank di YouTube, kebanyakan pelaku prank adalah laki-laki, sedang korbannya merupakan perempuan. Menurut Blockley, pola ini sangat jelas karena prank adalah cara bagi pria untuk mempertahankan posisi dominan mereka dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi hegemoni maskulinitas.

Blockley menambahkan, kuatnya hasrat psikologis untuk menjadi dominan, dipengaruhi oleh lingkungan yang memang memberi ruang bagi awetnya nilai-nilai ini. Saat sasaran prank berhasil ditakuti atau dikejuti, maka prankster mengalami sensasi seolah ia sudah mengendalikan orang tersebut. Karena itu, alih-alih menganggap sasaran prank sebagai korban, mereka sebenarnya memposisikan sasaran penjahilan sebagai objek semata.

Secara metode, para prankster cenderung meniru tren prank yang lagi tren. Tiruan dari video prank yang populer, menurut riset Renee Hobbs dan Silke Grafe, bisa membuat orang merasa lebih terhubung secara sosial, karena mereka secara bersamaan bisa membangun afiliasinya dengan komunitas YouTube. Inilah yang menyebabkan—masih menurut riset Hobbs dan Grafe—video terbanyak yang ditonton selalu terkait dengan prank.

 

Prank Bukan Fenomena Baru

Kegemaran orang terhadap tontonan prank sebenarnya telah terjadi sejak lama. National Post menyebutkan kegemaran ini akarnya bisa dirunut sejak 1804, dan kerap dikaitkan dengan April Fools Day atau April Mop, yang lekat dengan kebiasaan menjahili orang tiap 1 April.

April Mop sendiri katanya muncul pertama kali pada akhir abad ke-13. Itu ditandai oleh sebuah kisah dalam buku The Canterbury Tales karangan Chaucer. Kisah itu menceritakan tentang seekor rubah nakal yang mengecoh orang dengan menambah hari ke-32 di bulan Maret.

Ada juga yang mengatakan bahwa April Mop baru ada sejak abad ke-16 ketika penanggalan Kalender Julian digantikan oleh Kalender Gregorian yang kita gunakan hingga hari ini. Dalam sistem Kalender Julian, tahun yang baru dimulai pada musim semi, dan dalam Kalender Gregorian tanggal itu jatuh pada sekitar 1 April. Namun, ketika Kalender Gregorian sudah resmi dipakai, banyak orang terlambat menerima kabar ini, sehingga mereka masih menggunakan penanggalan Julian. Imbasnya, banyak orang yang merayakan tahun baru bukan pada 1 Januari, melainkan selama minggu terakhir Maret hingga 1 April.

Terlepas dari berbagai versi tentang asal-mula April Mop yang menjadi akar prank, kita bisa melihat bahwa prank kini telah berkembang menjadi pelbagai macam bentuk hiburan di media. Salah satu banyolan yang paling sukses dan populer, tulis VOI, adalah prank yang dibuat sebuah stasiun televisi Swedia. Program TV ini mengelabui penonton dengan meminta mereka menutup layar televisi hitam putih dengan kain nilon, sehingga layar TV mereka jadi berwarna-warni. Prank itu berhasil menipu ribuan orang Swedia secara massal.

Di era kontemporer, prank masih awet ditayangkan di televisi dan YouTube. Di Prancis, ada prankster terkenal, Remi Gaillard, yang sudah beraksi sejak 1999. Selama ini ia pernah membuat prank dengan menyusup ke pertandingan bola, menjahili orang di elevator, hingga mengurung diri di dalam sangkar.

Di Amerika Serikat, tayangan dengan konsep menjahili orang menjadi populer sejak 1949 lewat acara “Candid Camera” bikinan Allen Funt. Empat puluh tahun berselang, tepatnya pada 1989-1992, konten prank muncul di televisi dengan tajuk “Totally Hidden Video”.

Lalu ada “America's Funniest Home Videos” (1990), yang merupakan program hiburan prime time paling lama di ABC. Dan karena program ini sangat murah untuk diproduksi, maka formatnya pun diikuti di banyak negara. Sementara pada era 2000-an, ada acara “Just for Laugh Gags” yang juga tak kalah populer.

Di Indonesia sendiri, tren prank mulai populer di televisi seperti tampak dalam acara “Spontan, Uhuy!”, “Supertrap”, “Iseng Banget”, “Ups Salah”, dan “MOP (Mbikin Orang Panik)".