Pandemi Covid-19 membuat kita sadar bahwa informasi yang cepat dan tepat adalah hal yang penting. Sayangnya, pemerintah tidak selalu menyediakan informasi memadai tentang Covid-19. Tentu ini membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun. Eksistensi media sosial juga membuat gelombang hoaks mudah menyebar dan sulit untuk dibedakan dengan informasi yang kredibel. WHO menyebut fenomena ini sebagai infodemic dan mengklaim ini sama berbahayanya dengan Covid-19.

Menanggulangi permasalahan di atas, masyarakat dari berbagai belahan dunia berinisiatif untuk memenuhi tingginya tingkat permintaan informasi dengan menyediakan dan memverifikasi informasi yang tersebar di internet. Tentunya ini dilakukan untuk menghadang misinformasi dan agar membuat masyarakat tetap tenang karena ketidakpastian.

Berikut beberapa inisiatif dari masyarakat di berbagai negara:

  1. KawalCOVID19 - Indonesia

KawalCOVID19 diluncurkan pada 1 Maret 2020, tepat pada hari ketika Presiden Jokowi mengumumkan dua pasien pertama Covid-19. Tujuannya adalah menghimpun serta memberikan informasi berdasarkan bukti dan data valid tanpa opini dengan tujuan agar masyarakat Indonesia bisa menghadapi pandemi dengan tenang dan rasional. 

Tim KawalCOVID19 dibantu oleh relawan-relawan profesional dari dalam dan luar negeri di bidang medis dan lintas bidang. Dalam melakukan pekerjaannya, mereka bekerja sama dengan Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax Indonesia (Mafindo). Tak hanya menampilkan data dan informasi, tim ini juga memberikan saran dan protokol medis yang bisa digunakan oleh masyarakat, menjelaskan bahaya pseudo-science, hingga memfasilitasi pertanyaan dan kritik publik kepada Kementerian Kesehatan dan Presiden tentang penanganan pandemi. Sampai sekarang, situs dan semua media sosial KawalCOVID19 terus diperbarui untuk menginformasi dan mengedukasi masyarakat tentang virus ini. 

  1. #defyhatenow - Sudan Selatan

#defyhatenow merupakan organisasi asal Sudan Selatan yang berfokus pada pengembangan mitigasi ujaran kebencian, retorika konflik, dan hasutan kekerasan daring di media sosial. Sejauh ini mereka sudah menjangkau Sudan Selatan, Kamerun, Kenya, dan Ethiopia dalam melawan kebencian daring.

Organisasi ini digerakkan oleh Direktur Program Nelson Kwaje, laki-laki 28 tahun dengan latar belakang di bidang teknologi dan pembangunan perdamaian. Lewat kolektif #211CHECK dan tagar #COVID19SS, ia dan relawan-relawan muda lainnya melawan misinformasi dan menaikkan kesadaran masyarakat dalam pencegahan dan perlindungan dari Covid-19. Mereka bertugas dalam memverifikasi informasi, menguak hoaks, dan menampik obat-obatan dan solusi yang tidak terbukti menyembuhkan dan/atau mencegah Covid-19.

Dalam kerjanya, #defyhatenow melibatkan publik dengan menyediakan tagar #211CHECK di Twitter di mana melaluinya siapa pun bisa mengirimkan informasi yang berpotensial menjadi misinformasi. Nantinya informasi itu akan diverifikasi dan hasilnya dipublikasikan di situs dan media sosial mereka. Salah satu hoaks yang mereka koreksi misalnya adalah foto seorang laki-laki yang diduga kontak dengan pasien Covid-19. Namun ternyata foto tersebut dimanipulasi, padahal foto asli menunjukkan pemberitaan penangkapan gubernur Kiambu di Kenya.

Tak hanya itu, mereka juga menawarkan dukungan dan latihan editorial pengecekan fakta untuk jurnalis, blogger, dan pembuat konten.

  1. Dana Shubat - Suriah

Setelah dilanda peperangan dan tragedi, Suriah sekarang berjuang melawan Covid-19. Pembatasan bantuan yang diberlakukan oleh pemerintah Suriah dan Kurdi untuk penanggulangan Covid-19 dari Damaskus dan Irak membuat 2 juta masyarakat timur laut Suriah terancam terinfeksi virus ini. Walau begitu, beberapa organisasi menyiapkan diri untuk memberikan informasi perihal Covid-19.

Salah satunya adalah Dana Shubat yang menggunakan akun media sosialnya untuk menyebarkan informasi yang benar dan terverifikasi ke publik, mengunggah informasi-informasi ini 100 kali per hari ke berbagai laman. Ditambah mereka juga mengorganisir bantuan untuk mahasiswa-mahasiswa disabilitas lewat WhatsApp, melanjutkan tugasnya sebagai relawan Special Olympics.  

  1. Arayaa - Benin

Arayaa adalah program literasi yang ditujukan bagi negara-negara Afrika berbahasa Perancis untuk mengedukasi serta melawan misinformasi isu kesehatan, terutama isu kesehatan perempuan. Penggeraknya adalah seorang dokter bernama Hashim Hounkpatin yang juga mengorganisir komunikasi publik bertagar #AgirContreCOVID19. Lewat tagar tersebut mereka membagikan kiat-kiat aman dari Covid-19, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengenakan masker, dan mengurangi keluar rumah. 

Tak hanya itu, ia dan timnya juga mendesain aplikasi yang menampilkan pengetahuan dan informasi terpercaya ke dalam bahasa-bahasa lokal dan menghubungkan pengguna ke para ahli.

  1. Zimpapers TV Network - Zimbabwe

Meskipun jarang terdengar di berita internasional, Robert Mukondiwa seorang jurnalis dari Zimpapers TV Network terus melaporkan usaha negaranya dalam menangani Covid-19. Dalam acara live di Facebook, ia dan kru Zimpapers TV Network lainnya memberikan informasi terbaru tentang penyebaran Covid-19, kondisi Zimbabwe selama pandemi, dan menggelar diskusi tentang pembangunan berkelanjutan Zimbabwe di tengah krisis COVID-19

Selain itu, wawancara yang dilakukan Zimpapers terhadap pasien positif Covid-19 ketiga di Zimbabwe memberikan informasi yang penting. Keterangan yang diperoleh dari pasien tersebut memberikan gambaran yang lengkap mulai dari bagaimana ia terinfeksi, bagaimana keluarga dan tetangga membantunya, hingga kesaksiannya atas profesionalitas dokter dan petugas kesehatan yang menanganinya.