Situs penyedia video porno Pornhub memiliki cara “unik” untuk mencegah penyebaran COVID-19: menggratiskan layanan premium mereka sejak 25 Maret 2020. Layanan ini awalnya ditujukan untuk “menghibur” dan mendorong warga Italia, Spanyol, dan Prancis untuk mematuhi lockdown, tapi akhirnya berlaku untuk seluruh dunia.

Tak hanya itu, Pornhub juga memberikan bantuan dana serta medis, beberapa di antaranya adalah donasi 50.000 masker medis untuk New York, €50.000 ke berbagai organisasi garda depan COVID-19 di Eropa, dan $25.000 untuk Sex Workers Outreach Program.

Ini bukan pertama kalinya Pornhub melakukan kegiatan filantropis. Di bawah divisi Pornhub Cares, Pornhub telah melakukan berbagai kegiatan filantropis sejak 2012. Mulai dari memberikan beasiswa sebesar $25.000 untuk para perempuan berprestasi, menyokong riset kanker payudara dengan kampanye “Save The Boobs”, mengadakan kampanye konservasi lebah “Beesexual” dan paus “Save The Whales”, memberikan mobil untuk super-fan, hingga memprakarsai kampanye “Dirtiest Porn Ever” bersama Ocean Polymers untuk menyelamatkan lingkungan laut dari plastik.

Aksi filantropis ini menuai banyak pujian. Pujian-pujian ini terfokus ke betapa “progresif” dan “baik hati”-nya Pornhub di balik konten dewasanya yang sering dipandang negatif. Screenshot Magazine menyebutkan besarnya pengaruh Pornhub dalam menggerakkan konsumennya untuk ikut dalam kampanye mereka; AdAge menyatakan inisiatif “Dirtiest Porn Ever” mendapatkan banyak respons positif dari publik; Forbes beberapa kali meliput aksi amal Pornhub; lalu ada The Guardian yang memuji langkah Pornhub untuk menyelamatkan paus.

Meski begitu, Pornhub juga mendapatkan banyak kritikan keras mengenai aksi filantropisnya. Salah satu kritikan tersebut datang dari National Center on Sexual Exploitation (NCOS) yang menyatakan program beasiswa Pornhub digunakan untuk menutupi adanya dugaan eksploitasi terhadap anak-anak muda rentan. Kritikan ini didasarkan pada hasil riset tahunan Pornhub yang menunjukkan kata kunci “teens” sebagai kata kunci terpopuler.

Kritikan NCOS cuma salah satu permasalahan etik dan legal yang dilakukan Pornhub. Dalam beberapa tahun terakhir, Pornhub terjerat dalam kasus pornografi anak di bawah umur, perdagangan perempuan, dan revenge porn karena memfasilitasi penyebaran video-video ilegal tersebut.

Rose Kalemba, korban pemerkosaan di bawah umur, mendapati video pemerkosaannya ditayangkan di Pornhub pada 2009. Ia berkali-kali melayangkan permohonan ke Pornhub, tapi tidak kunjung mendapat balasan, dan lebih buruknya lagi, video tersebut tetap tayang.

Rose Kalemba tidak sendiri. Ada banyak kasus individual lainnya yang tidak dilaporkan ke media, tapi semuanya memiliki modus yang sama: perempuan-perempuan (terkadang di bawah umur) yang video seksnya diunggah tanpa izin ke Pornhub. Mereka memohon video tersebut untuk dihapus, tapi mereka malah mendapat respons yang lambat. Kalaupun dihapus, video yang sama akan diunggah ulang dan bahkan tersebar ke situs-situs porno lainnya. Layaknya pepatah populer: sesuatu yang sudah diunggah di internet, akan selalu ada selamanya.

Serangan terhadap lambatnya respons Pornhub dalam menghapus video non-konsensual ditanggapi mereka dengan laman kebijakan penghapusan konten. Setiap video yang dilaporkan akan tercatat metadatanya di sistem dan terhapus secara otomatis. Meski begitu, riset yang dilakukan oleh Motherboard menunjukkan sistem penghapusan Pornhub memiliki banyak kekurangan, seperti ketidakmampuan mengidentifikasi wajah korban, mudahnya mengedit metadata video sehingga video yang sama bisa diunggah ulang, dan diperlukannya aksi proaktif dari korban untuk melaporkan setiap video yang memuat dirinya.

Tak hanya mendapati videonya diunggah terus-terusan, korban juga mendapati dirinya di-doxing. Pengguna Pornhub dengan sengaja melampirkan nama asli para korban, foto-foto dari media sosial mereka, dan mengontak para korban untuk mengejek dan mengintimidasi mereka. Meski mengetahui hal tersebut, Pornhub tidak memberikan komentar atas insiden ini.

Insiden-insiden ini membuat kita perlu mempertanyakan kegiatan filantropi Pornhub. Apakah kegiatan filantropis ini murni dilakukan dengan intensi baik atau sekadar strategi promosi untuk melukis brand mereka dengan nilai “progresif”? Melihat bagaimana Pornhub begitu bersemangat melakukan dan memasarkan aksi filantropis mereka tapi cenderung abai dalam menyelesaikan permasalahan konten mereka, bisa dibilang aksi-aksi tersebut hanyalah selubung untuk menutupi betapa bobroknya sistem mereka. 

Bukan sekali-dua kali Pornhub mendapat kritikan keras: kolumnis Arwa Mahdawi mengkritik langkah Pornhub yang melakukan aksi amal untuk COVID-19 tapi lalai dalam menyelesaikan masalah revenge porn; Laila Mickelwait menunjukkan bukti Pornhub memfasilitasi perdagangan dan pemerkosaan anak dan buruknya sistem verifikasi mereka yang membiarkan anak 15 tahun yang diculik menjadi anggota terverifikasi; Warde Bou Daher mengkritik aksi filantropi Pornhub yang berkebalikan 180 derajat dengan isu etik dari dan moral dari layanan mereka yang mempromosikan kekerasan fisik dan verbal, serta menunjukkan sisi adiktif dan destruktif dari pornografi; Kayla McGhee  mempertanyakan dari mana Pornhub bisa mendapatkan 50.000 masker untuk disumbangkan ketika dunia sedang kekurangan masker; begitu juga dengan Jo Bartosch yang menunjukkan bagaimana pornografi mempromosikan misoginisme dan kekerasan seksual, serta pertanggungjawaban dalam menyebarkannya.

Sayangnya, tidak ada media di Indonesia yang melayangkan kritik tentang branding munafik Pornhub. Sejauh ini, media-media lokal hanya menayangkan sisi negatif pornografi baik bagi pengguna maupun aktornya, tapi tidak ada yang menyinggung langsung tentang sisi lain dari aksi filantropis Pornhub.

Namun lewat cerita Pornhub ini kita bisa belajar untuk menjadi lebih kritis dalam melihat strategi marketing korporasi-korporasi besar.

E:\Bangku Belakang Remotivi\WhatsApp Image 2020-05-08 at 17.59.31.jpeg E:\Bangku Belakang Remotivi\WhatsApp Image 2020-05-10 at 22.41.07.jpeg