Ada banyak tantangan menjadi jurnalis di era digital seperti saat ini. Di antaranya, semakin banyak orang bisa menjadi jurnalis dan membuat media. Perangkat teknologi memungkin setiap orang bisa melakukan hal itu. Bisa jadi, kerja-kerja jurnalis yang tidak mempunyai pengalaman tersebut jauh lebih baik ketimbang jurnalis di media arus utama.

Tantangan lain, media sosial. Meningkatnya penggunaan media sosial juga membuat relasi antara jurnalis, narasumber, dan pembaca ada dalam situasi yang baru. Banyak jurnalis yang kini menggunakan media sosial untuk mendapatkan narasumber.

Di satu sisi, perangkat teknologi semacam itu bisa memudahkan jurnalis dalam menjalankan kerjanya. Namun di sisi lain, juga membawa potensi masalah. Ada banyak kasus di mana jurnalis terlibat perang kata-kata (di Twitter biasa disebut “twitwar”) dengan narasumber, atau jurnalis dari media lain. Misalnya ketika beberapa kali Tempo diserang buzzer Ahok pertengahan tahun lalu. Beberapa wartawannya terlibat perdebatan di media sosial.

Bagaimana sebenarnya jurnalis melihat diri mereka sendiri di era digital seperti saat ini? Jika mengacu pada berbagai survei yang dilakukan terhadap para jurnalis di Amerika Serikat selama puluhan tahun, para jurnalis di sana mengkategorikan dirinya sendiri ke dalam dua jenis.

Di dekade 1980an, jenis tersebut pertama adalah jenis disseminator, penyebar pesan yang objektif dan independen dari pengaruh kepentingan-kepentingan tertentu. Sementara yang kedua adalah jenis interpretives, jurnalis yang percaya bahwa untuk menghasilkan karya jurnalistik yang baik mereka harus terlibat dengan masyarakat dan ikut mengadvokasi beberapa isu tertentu.

Dua jenis tersebut menjadi sedikit berubah ketika memasuki dekade 2000an. Perubahan tersebut menjadi adversarials, yang menggambarkan relasi lebih kritis antara media dengan pemerintah dan bisnis. Dan populist mobilizers, jurnalis yang fokus memberikan suara kepada kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini tidak memiliki akses.   

Riset terbaru yang dibuat oleh Karen McIntyre, Nicole Smith Dahmen, Jesse Abdenour memberikan kita jenis ketiga: contextualist. Ini adalah jenis jurnalis yang merupakan perpaduan dua jenis sebelumnya di mana jurnalis mempercayai tanggung jawab sosialnya, berkontribusi terhadap kepentingan masyarakat termasuk tantangan dan peluang yang dihadapi.

Riset ini sendiri berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 1.300 jurnalis di Amerika Serikat yang medianya setidaknya punya oplah minimal 10.000 eksemplar per hari. Seperti yang diungkapkan oleh penelitinya, jenis ini merefleksikan kecenderungan pemberitaan yang tidak sekadar berita-berita aktual. Maksudnya berita-berita yang hanya fokus pada fakta-fakta keras.

Jurnalis dalam jenis ketiga ini mencoba melampaui hal tersebut dengan memberikan pemberitaan-pemberitaan mendalam. Dengan kata lain, tidak hanya pada apa yang terlihat di permukaan, tetapi juga gambaran lebih besar.  Ini yang pelan-pelan mulai memunculkan apa yang disebut sebagai jurnalisme solusi, jurnalisme yang tidak sekadar mengeksplorasi persoalan, tetapi memberikan jawaban atas persoalan tersebut. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)