Hoax atau berita palsu menjadi salah satu penanda penting dari tahun 2016 yang baru saja berlalu. Di berbagai negara, berita-berita palsu bahkan sudah mendelegitimasi peran jurnalisme media-media arus utama.

Peristiwa-peristiwa penting seperti keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit), pemilihan presiden Amerika Serikat,  hingga konflik yang masih berkepanjangan di Suriah berkelindan dengan berita-berita palsu yang menyebarkan misinformasi. Dalam konteks di Indonesia, beberapa peristiwa seperti aksi besar-besaran 4 November dan 2 Desember juga tak luput dari peran berita-berita palsu yang ikut memprovokasi dan memanaskan suasana.

Dalam situasi ketika hoax semakin dipercaya, peran apa yang mesti dilakukan oleh jurnalisme? Nieman Lab meminta komentar dari berbagai pakar media untuk membaca kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di tahun ini. Sebagian prediksinya tidak jauh-jauh dari upaya membongkar berita-berita palsu agar tidak semakin merusak jurnalisme. Beberapa di antaranya adalah:

Verifikasi Semakin Penting

Claire Wardle, peneliti di First Draft, menyebut bahwa kerja kolaborasi untuk memverifikasi berita-berita palsu, khususnya yang masif beredar, akan semakin sering dilakukan. Kolaborasi ini tidak hanya dilakukan oleh media, tetapi juga oleh organisasi-organisasi independen yang mempunyai kebutuhan untuk membabat berita-berita palsu yang berseliweran.

Media juga akan mulai membongkar berita-berita palsu tersebut, khususnya yang berkaitan atau yang menyerang media itu sendiri. Hal ini dilakukan dalam rangka menanggulangi krisis kepercayaan terhadap media arus utama melalui informasi-informasi palsu yang semakin sering beredar dan bisa berbahaya.

Menjebol Bilik Gema

Bilik gema (echo chamber) menjadi salah satu faktor yang menyebabkan berita palsu bisa tersebar luas. Dalam konteks di media sosial, bilik gema membuat orang hanya mau membaca pendapat dan informasi yang sama dengan yang ia yakini.

Jurnalisme, seperti disebut jurnalis Der Spiegel Ole Reißmann, harus berperan dalam menembus bilik gema ini. Bagaimana cara beradaptasi dalam tujuan berkomunikasi dengan orang yang tak menganggap fakta sebagai hal yang penting? Bagaimana media bisa menembus dinding keyakinan orang-orang jika tidak mau memahami kondisi mereka?

Otokritik Jurnalisme

Di berbagai peristiwa yang terjadi tahun 2016, banyak media arus utama yang gagal memahami kehendak publik. Alih-alih menyuarakan keresahan di bawah, jurnalisme justru menjadi perpanjangan tangan elite yang membaur dengan tuntutan meraih klik. Tak heran jika Brexit dan kemenangan Donald Trump dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Padahal, bisa jadi kejutan itu muncul karena media semakin berjarak dari publik.

Menurut Zizi Papacharissi, profesor komunikasi di University of Illinois-Chicago, apabila jurnalisme ingin kembali mengambil peran, media-media harus fokus pada substansi persoalan yang ada, bukan semata pada omongan-omongan akrobat para politisi.

Relasi Baru Media dan Pembaca

Salah satu kritik yang muncul dalam jurnalisme dan media saat ini adalah keberjarakan antara jurnalis dan pembacanya, tidak adanya ruang lebar untuk saling beriteraksi, juga tidak terlalu kentaranya strategi media-media besar lawas untuk mendekati pembaca-pembaca dari generasi milenial.

Di tahun 2017, Tracey Powel, pendiri AllDigitocracy, menyebut bahwa semestinya media mulai membangun kembali kepercayaan pembaca. Apabila media gagal melakukan hal tersebut, maka mereka hanya akan mengulangi kesalahan di 2016. Di Amerika Serikat tahun lalu, misalnya, angka kepercayaan terhadap media arus utama menurun drastis yang diakibatkan oleh bias atau sikap partisan yang keterlaluan. Ini bisa berbahaya jika ketidakpercayaan terhadap media arus utama mengakibatkan kepercayaan tersebut justru jatuh pada berita-berita palsu atau hoax. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)