Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 mengejutkan banyak pihak. Di antaranya adalah media-media yang selama masa kampanye sebagian besar memprediksi Hillary Clinton akan menang. Para jurnalis dan media saling berdebat mengenai apa yang membuat mereka gagal selama masa kampanye.

Untuk mengevaluasi berbagai pemberitaan tersebut, Nieman Reports menerbitkan rangkaian artikel yang diberi tajuk Election ’16: Lessons for Journalism. Dalam berbagai artikel tersebut, Nieman Reports membahas berbagai isu seputar jurnalisme dalam pemilu presiden dari keberagaman dan sikap politik ruang redaksi sampai bagaimana strategi menghadapi berita-berita palsu yang begitu masif di media sosial.

Salah satu kegagalan yang dibahas dalam artikel-artikel tersebut adalah media terlalu banyak memberikan ruang bagi polling, yang hampir muncul setiap minggu. Tidak terkecuali dengan polling yang dilakukan oleh media. Fokus pada polling yang sebagian besar memenangkan Hillary Clinton membuat media abai pada isu-isu yang lebih substantif dan relevan dengan kepentingan warga. Dan kegagalan ini terbukti dari hasil akhir pemilu.  

Perry Bacon, wartawan NBC News, menyebut ada tiga hal yang bisa jadi pelajaran berharga bagi jurnalisme khususnya dalam pemberitaan pemilihan umum. Pertama, media dan para jurnalis tidak boleh terlalu sering memberikan prediksi tentang siapa yang akan memenangkan pemilu. Berlebihan membuat prediksi, termasuk dalam meliput hasil polling, hanya akan membuat suara publik pelan-pelan terlupakan.

Kedua, jurnalis harus memberikan ruang yang lebih lebar bagi kondisi sosial masyarakat, baik itu ras, identitas, gender, dan juga budaya. Hal-hal ini yang akan menentukan sejauh apa suara publik dengan berbagai kepentingannya bisa diwadahi di media, bukan hanya suara elit politik. Dalam konteks Amerika Serikat, misalnya, muncul kritik bahwa media gagal memahami keinginan para pemilih, khususnya di daerah rural yang selama ini termarjinalkan dan terabaikan oleh kebijakan-kebijakan politik di Washington. Suara-suara ini yang kemudian termanifestasikan dalam hasil akhir kotak suara.

Ketiga, jurnalis harus mengawasi berbagai pernyataan yang disampaikan oleh kandidat. Mengawasi yang dimaksud di sini adalah tidak membiarkan seorang kandidat bebas mengungkapkan opini yang tidak berbasis pada data dan fakta. Media mesti menghadapkan pernyataan-pernyataan tersebut dengan sikap maupun posisi sang kandidat di masa lalu. Media juga perlu melihat apakah pernyataan-pernyataan tersebut bohong atau tidak.

Bacon mengusulkan hal terakhir karena melihat pemilu 2016 menghadirkan sosok kandidat, Donald Trump, yang berbeda dari normalnya pemilihan umum di Amerika Serikat. Trump adalah sosok pembohong yang kerap memberikan pernyataan berbeda dari apa yang disampaikannya di masa lalu.

Apa yang dilakukan Nieman Reports ini menarik untuk dipelajari. Apalagi jika menilik problem jurnalisme pada Pemilu Indonesia 2014 lalu, yang relatif sama dengan Amerika Serikat. Membincangkan dan memperdebatkan secara terbuka tentang kegagalan-kegagalan jurnalisme akan lebih baik bagi media itu sendiri. Dan terutama bagi publik yang setiap hari membaca berita. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)