Dalam edisi 23 Oktober 2016, koran New York Times memberikan dua halaman secara khusus untuk menampilkan daftar nama orang, institusi, maupun tempat yang pernah dihina oleh Donald Trump. Hasilnya luar biasa. Total ada 281 orang, institusi, dan tempat dalam daftar tersebut.

Daftar tersebut bisa bertambah panjang lagi karena 281 nama itu hanya yang dihina oleh kandidat presiden Amerika Serikat tersebut melalui akun Twitter. Beberapa nama yang dicaci Trump antara lain Hillary Clinton, Bill Clinton, New York Times, Washington Post, Wall Street Journal, Meksiko, dan Iran.

Menariknya, New York Times tidak hanya menyebutkan nama-nama saja tetapi juga kata-kata yang digunakan oleh Trump untuk mencaci. Hillary Clinton yang menjadi saingannya dalam pemilu ia sebut dengan beberapa kata seperti “licik”, “pembohong”, “hipokrit”. Sementara itu salah tayangan di CNN disebut Trump sebagai “satu jam kebohongan”.

Pada pemilu 2016, daftar semacam ini tidak hanya dibikin oleh New York Times. The Atlantic punya rubrik khusus yang dinamai “The Daily Trump: Filling a Time Capsule”. Rubrik yang dimulai sejak 20 Mei 2016 ini berisi berbagai pernyataan yang dikeluarkan Trump dalam berbagai aktivitasnya baik itu dalam kampanye, debat presiden, konferensi pers, telewicara, termasuk juga di Twitter.

Sementara itu, koresponden Toronto Star Daniel Dale secara khusus memeriksa berbagai pernyataan Trump. Dalam waktu 33 hari, ia menemukan fakta bahwa hanya dalam waktu satu bulan, Trump dalam berbagai aktivitasnya telah menyampaikan 253 kebohongan atau kekeliruan. Ratusan kebohongan dan kekeliruan ini meliputi banyak isu yang terus-menerus diulang.  

Dari berbagai daftar tersebut, omongan-omongan Trump yang selama masa kampanye ini dikenal kasar, rasis, misoginis, dan kontradiktif ini bisa terarsip dengan baik. Dengan arsip yang mudah diakses tersebut, pembaca juga dengan mudah bisa memeriksa kebohongan-kebohongan dan inkonsistensi yang disampaikan Trump.

Apa yang dilakukan New York Times, The Atlantic, dan Toronto Star tersebut bisa menjadi pelajaran penting bagi media-media di Indonesia, apalagi di era pemilihan umum yang mulai memanas saat ini. Dalam kondisi tersebut, media punya tanggung jawab mengingatkan publik mengenai berbagai pernyataan yang pernah disampaikan para kandidat. Tidak hanya pernyataan-pernyataan kasar atau bohong, tetapi juga janji-janji yang penting untuk ditagih ketika seorang kandidat terpilih menjadi pejabat.

Dengan begitu, media bisa membantu publik untuk menentukan mana kandidat yang punya konsistensi dalam berpendapat dan bersikap. Juga melihat mana kandidat yang omongannya sering berubah-ubah dan kontradiktif. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)