Seiring dengan kemunduran perlahan media cetak, berbagai pihak berbondong-bondong melakukan transisi menuju media digital. Pertumbuhan khalayak daring memang menjanjikan. Namun, transisi ini tidaklah mudah, dunia digital berkembang dan bertransformasi dengan cepat. Dibutuhkan strategi yang berbeda untuk mengelola media dengan gerak yang demikian dinamis.

Apa yang dilakukan The New York Times bisa menjadi pelajaran berharga. Mereka berusaha melakukan inovasi dengan merilis sebuah unit newsroom baru yang berfungsi khusus untuk memprediksi dan mengulas isu-isu yang akan mencapai status viral di internet. Unit bernama Express Team ini bertugas untuk mengulas berita yang dicari dan dibicarakan pembaca di internet. Tim ini lebih berfungsi untuk mengembangkan berita tersebut daripada sekedar mengemas ulang untuk mencari “klik”.

Patrick LaForge, pemimpin tim ini, menegaskan bahwa fokus utama dari Express Team bukanlah mengejar traffic dengan mudah, melainkan menyediakan panduan bagi pelanggan The New York Times serta membantu mereka menavigasi arus informasi media sosial yang semrawut.

Eksperimen The New York Times yang telah beroperasi sejak Juli 2015 ini mempekerjakan delapan orang staf untuk mengumpulkan dan mengolah informasi secara global. Mereka pernah mengupas berbagai kisah seperti penembakan kampus di Oregon dan kontroversi siswa Muslim di Texas yang ditangkap setelah membawa jam ke sekolah dengan dugaan percobaan teror bom. Ada rencana untuk memperbesar tim, namun mereka masih meraba-raba bagaimana struktur terbaik untuk proyek ini.

The New York Times membanggakan kesuksesan transisi mereka dalam menjamah ranah daring.  Mereka berhasil menggandakan keuntungan digital mereka dalam lima tahun ke belakang, dengan jumlah kasar 400 juta dollar. Jumlah tersebut hampir sama dengan kombinasi empat saingan terbesar mereka—Huffington Post, BuzzFeed, Vox Media, dan Gawker Media. The New York Times juga telah berhasil mendapatkan satu juta pelanggan digital dalam waktu lima tahun, jumlah yang membutuhkan waktu satu abad untuk dijangkau oleh media cetaknya.

Capaian tersebut sangat mengesankan, terutama mengingat banyak masalah dan penyesuaian yang dihadapi media yang mencoba beralih ke ranah digital.  Misalnya, iklim periklanan daring yang mengalami hambatan ketimbang media cetak. Kini perangkat lunak pemblokir iklan semakin berkembang, dan berbagai format iklan yang ada dikhawatirkan tidak efektif atau justru mengganggu pembaca.

Mereka berusaha mengakali rintangan ini dengan terus menjaga kualitas jurnalistik dari konten yang mereka sediakan, dan membangun basis pelanggan yang besar dan loyal. Untuk mengakali logika periklanan yang berbeda dari media tradisional, The New York Times berupaya membangun hubungan personal dengan pembaca dengan media yang sangat personal, terkostumisasi, mengandalkan teknologi multimedia dan bersifat multiplatform.

Berbagai inovasi ini sesuai dengan pendapat Mark Thompson, CEO The New York Times, yang menganggap bahwa mereka perlu mengembangkan produk dan strategi yang membuat pembaca ingin menghabiskan lebih banyak waktu membaca The New York Times. Semuanya merupakan bagian dari taktik mencapai target ambisius mereka untuk menggandakan keuntungan digital mereka pada tahun 2020.

Hal ini menunjukkan bahwa usaha media melakukan transisi digital tidaklah mudah atau pun sederhana. Dibutuhkan pemahaman, pengorganisasian yang teratur, dan sistem yang ramah pada inovasi. (REMOTIVI/Firman Imaduddin)