Dalam perang Suriah yang terjadi beberapa tahun belakangan, termasuk memunculkan apa yang disebut Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS), media memiliki peran yang signifikan. Salah satunya bisa dilihat dari Orient TV, stasiun televisi yang dimiliki kelompok oposisi anti pemerintahan Suriah di bawah Bashar al Assad.

Stasiun televisi ini dididikan oleh Ghassan Aboud di Damaskus pada tahun 2009 dan mulanya menayangkan film dan drama serial. Namun sejak Musim Semi Arab di berbagai negara Timur Tengah merembes masuk ke Suriah, Orient TV malih lupa menjadi media bagi kalangan oposisi untuk menjatuhkan pemerintah.

Elizabeth Dickinson dalam tulisannya di Columbia Journalism Review menyebut bahwa, dalam kondisi perang, tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan oleh reporter-reporter Orient TV. Turun langsung ke medan artinya sama dengan menyerahkan nyawa. Apalagi konflik tersebut melibatkan berbagai front dengan posisi politik berbeda-beda. Karena itu reporter-reporter Orient TV membangun basis data ribuan aktivis di Suriah yang memiliki pandangan politik serupa dengan mereka. Ribuan aktivis ini yang memberikan video serta kabar terbaru dari lapangan.

Pada momen ini juga, seperti disebutkan Dickinson, generasi baru jurnalis warga di Suriah muncul. Hal ini ditandai dengan naiknya jumlah pengakses telepon genggam dari 46 % di tahun 2011 menjadi menjadi berkali lipat hari-hari belakangan. Seperti dijelaskan oleh pemilik Orient TV Ghassan Aboud, redaktur-redaktur di televisinya melatih para aktivis oposisi cara mencari berita dan melaporkannya dengan media sosial seperti Skype. Mereka juga mengajari para aktivis menguntit militer yang berkeliling di daerah-daerah tertentu.

Antara 2011 dan 2012, Aboud menjelaskan timnya sudah melatih lebih dari 1.000 aktivis dalam keterampilan dasar pemberitaan. Dengan cara itu, Orient TV tetap dapat menampilkan berita dari lapangan meski eskalasi konflik terus meningkat. Model pencarian berita melalui jurnalis warga yang berasal dari kelompok aktivis oposisi ini semakin penting ketika Orient TV terpaksa eksil dan melakukan siaran melalui satelit dari Dubai, Uni Emirat Arab, sejak tahun 2009. Hijrahnya stasiun tersebut disebabkan oleh sejumlah represi pemerintah, salah satunya dengan meminta para pekerja di Orient TV untuk menandatangi perjanjian bahwa mereka akan keluar dan tidak mau lagi bekerja di stasiun tersebut. Perlakuan ini disebabkan oleh popularitas tayangan Orient TV yang menarik sebagian besar warga Suriah, sehingga merebut pangsa pasar televisi pemerintah.

Sejak saat itu Aboud memutuskan pindah ke Dubai dan mengubah orientasi televisi yang sebelumnya mengunggulkan tayangan hiburan tersebut menjadi pemberitaan politik yang runcing terhadap pemerintah. Lebih dari 70% beritanya berkisar dalam isu-isu politik.

Sejak pindah ke Dubai, jurnalis-jurnalis Orient TV mengalami fase radikalisasi di mana mereka menjadi partisan sepenuhnya dan anti-pemerintah. Dalam bahasa Aboud, “mereka menganggapnya personal karena Suriah adalah tanah kelahiran mereka.”   

Meski pada awalnya menjadi “suara resmi” kelompok oposisi, model pemberitaan ala Orient TV ditiru oleh kelompok-kelompok oposisi pemerintah Suriah yang semakin terfragmentasi, tidak terkecuali juga ISIS. Masing-masing kelompok memiliki media, kanal media sosial, dan jejaring sendiri untuk menyebarkan berbagai informasi. Dalam mereproduksi informasi, mereka didorong oleh apa yang disebut Dickinson sebagai “sikap partisan, sektarian, dan penuh motivasi kebencian.”  

Lebih dari itu, dalam situasi perang seperti yang terjadi Suriah, media terlibat secara aktif dalam kekerasan yang terjadi. Perang informasi terus terjadi. Dan pada akhirnya tidak hanya masyarakat luas yang menjadi korban, tetapi juga media itu sendiri. Inilah yang dihadapi oleh Orient TV. Jika dulu mereka direpresi pemerintah Suriah, saat ini mereka berhadapan dengan ancaman kekerasan dari ISIS. Seperti yang dicatat Dickinson, sejak tahun 2011 sudah 6 jurnalis Orient TV terbunuh dan 15 orang dipenjara. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)