Anak-anak muda saat ini kerap disebut sebagai digital natives yang apatis terhadap berita-berita maupun informasi politik. Media sosial yang menjadi penanda generasi hanya menjadi medium untuk memperoleh hiburan, bukan berita politik. Tapi benarkah demikian?

Riset yang dilakukan PEW Research Center terhadap 2.901 orang selama 19 Maret sampai 29 April 2014 menunjukkan bahwa sebagian besar anak-anak muda di Amerika Serikat justru rutin mencari berita-berita politik dan aktif menyebarkannya. 61 persen anak-anak generasi millennial ini mengakses berita-berita politik melalui media sosial seperti Facebook. Sementara 37 persen mengaksesnya melalui stasiun televisi. Generasi millennial adalah sebutan untuk mereka yang lahir antara tahun 1981 sampai 1996.

Temuan tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh generasi orang tua anak-anak tersebut. Generasi yang disebut sebagai baby boomer (mereka yang lahir antara tahun 1940 sampai 1964) menjadikan televisi sebagai rujukan utama dalam mengakses berita. Tercatat 60 persen responden yang mencari berita melalui televisi, sementara hanya 39 persen yang memperoleh informasi melalui media sosial.  

Dalam riset yang lebih baru, temuan Media Insight Project juga menghasilkan kesimpulan yang relatif serupa. Survei yang merupakan kerjasama antara Associated Press-NORC Center For Public Affairs Research dan American Press Institute dilakukan terhadap 1.045 remaja selama 5 Januari sampai 2 Februari 2015. Salah satu temuannya yaitu 69 persen dari remaja ini mengakses media sosial secara rutin untuk mencari tahu tentang perkembangan berita-berita terbaru.

Menariknya, hampir 75 persen dari jumlah tersebut mencari tahu lebih jauh ketika membaca sebuah berita yang tidak sesuai opini atau pendapat mereka atas suatu isu. Ini artinya anak-anak muda ini tidak hanya menelan mentah-mentah berita atau informasi yang mereka dapatkan dari media sosial. Seperti dikutip Time, ada empat kategori remaja yang bisa disimpulkan dari riset tersebut.

Pertama, remaja yang tidak terikat (unattached). Mereka adalah anak-anak muda yang  apatis dan cuek terhadap informasi-informasi sosial politik. Rata-rata remaja yang berada dalam kategori ini berusia antara 18 sampai 24 tahun. Sebagian besar hanya mencari informasi yang berkaitan dengan hiburan. Kedua, penjelajah (explorers), yaitu mereka yang secara aktif mencari berbagai informasi dari berita-berita politik sampai hiburan dan menjadikannya sebagai aktivitas sosial. Tingkat usianya beririsan dengan mereka yang ada di kategori pertama.

Ketiga, remaja yang bimbang (distracted). Generasi millennial yang masuk kategori ini berada dalam usia 25-34 tahun. Dalam kondisi kehidupan personal yang penuh dilema (seperti pernikahan, pekerjaan, keluarga), akses terhadap berita atau informasi lebih didasari pada pertimbangan pragmatis. Khususnya pada berita-berita yang relevan dengan pekerjaan maupun gaya hidup mereka.  

Dalam arsiran usia yang sama dengan kategori ketiga, terdapat kategori keempat yaitu aktivis. Di tengah berbagai tantangan kehidupan pribadi yang mereka alami, anak-anak muda dalam kategori ini aktif mencari berita karena hal tersebut bisa membuat mereka menjadi warga negara yang baik. Karena itu mereka tidak hanya membaca melainkan juga aktif menyebarkan berita-berita mengenai isu tertentu dan terlibat aktif dalam perbincangan publik di dalamnya.

Jika kita cermati dari survei-survei tersebut, tidak tepat jika dikatakan bahwa anak-anak muda enggan mengakses informasi-informasi “serius” semacam berita politik. Jumlah remaja yang membaca berita secara aktif melalui media sosial bahkan jumlahnya lebih besar dari mereka yang menjadikan media sosial hanya sebagai sarana hiburan. Persoalannya kemudian adalah tentang apakah anak-anak muda ini mampu memilah berita-berita yang berkualitas baik di tengah tsunami informasi atau tidak. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)