Istilah "menonton televisi", biasanya diasosiasikan dengan praktik duduk manis di hadapan layar televisi sambil memegang remot. Jika ada tayangan tertentu yang diminati, kita akan menunggu jam tayang tertentu pula. Kini, pemahaman tradisional tersebut sepertinya harus diubah. Perkembangan teknologi komunikasi memungkinkan orang memposisikan televisi sama seperti buku, bisa dibuka atau dibaca kapan saja dan di mana saja.  

Pengalaman Netflix bisa dijadikan contoh untuk melihat bagaimana perubahan pemaknaan terhadap televisi—dari mulai model bisnis, isi siaran televisi, sampai perilaku warga menonton televisi—bisa demikian dramatis. Netflix merupakan jaringan yang menyediakan layanan menonton tayangan televisi atau film secara daring (dalam jaringan). Ketika didirikan oleh Reed Hastings tahun 1997, ia awalnya merupakan perusahaan penyewaan DVD.

Tahun 2007, Netflix mulai menjalankan model layanan secara streaming. Tayangan televisi atau film yang bekerja sama dengannya bisa diakses langsung dari komputer personal.  Michael Wolff, penulis buku Television is the New Television: The Unexpected Triumph of Old Media in the Digital Age (2015) menyebut bahwa Netflix merupakan pembunuh televisi tradisional. Salah satu yang membuatnya unggul dari televisi konvensional adalah tidak adanya iklan yang mengganggu ketika pemirsa sedang menyaksikan tayangan tertentu. Hal ini bisa dimungkinkan karena pendapatan yang mereka peroleh berasal dari biaya berlangganan penonton. Perlahan-lahan, perkembangan teknologi digital menjadi bagian dari bisnis televisi.

Inovasi Netflix itu mendapat respon positif dari para penonton. Angka pelanggannya meningkat pesat. Dari 300 ribu pelanggan di tahun 2000 menjadi 31 juta pelanggan di tahun 2007. Tidak mau kalah, NBC dan Fox membuat Hulu, laman yang memungkinkan penonton menyaksikan tayangan televisi yang sedang dan sudah berlangsung. Jason Kilar, CEO Hulu 2008-2013, menjelaskan bahwa bisnis televisi tradisional tidak melayani penonton karena terlalu banyak iklan di sana. Padahal industri televisi mestinya adaptif dalam melayani penonton. Salah satunya bisa memahami kondisi ketika para penonton ingin menyaksikan sebuah tayangan sesuai waktu yang mereka inginkan, bukan dalam waktu yang ditentukan stasiun televisi.

Dalam konteks integrasi antara televisi dengan dunia digital tersebut, Ken Auletta menulis bahwa nasib industri televisi lebih baik dibandingkan dengan musik dan suratkabar. Dalam industri musik dan suratkabar, platform digital cenderung menghilangkan platform lama. Misalnya bisa dilihat dari turunnya jumlah eksemplar koran edisi cetak dan semakin sedikitnya orang yang mengakses musik melalui kaset dan tape recorder. Sementara dalam industri televisi, platform lama dan baru tidak saling meniadakan.

Pada 2016, lebih dari setengah stasiun televisi yang ada di Amerika Serikat diprediksi akan menggunakan model streaming untuk menemui penontonnya. Meski terlihat menjanjikan, ancaman tetap mengiringinya. Auletta menggarisbawahi bahwa ada dua problem utama yang mungkin dihadapi televisi era baru ini. Pertama, model iklan di televisi yang berubah dan mesti beradaptasi terhadap ancaman turunnya pendapatan. Apalagi jika melihat kecenderungan para penonton televisi yang lebih suka tayangan televisi tidak diganggu iklan.

Problem kedua terdapat pada eksistensi layar televisi itu sendiri. Dengan akses terhadap tayangan televisi yang bisa dilakukan dari mana saja, entah dari smartphone, komputer, dan lain sebagainya, kotak kecil yang selama ini kita kenal sebagai pesawat televisi itu lamat-lamat terancam hilang. Indonesia mungkin masih jauh dari kondisi ini. Namun, melihat kecenderungan perkembangan teknologi, hal tersebut hanya menunggu waktu. Pada saatnya nanti, bisa jadi kita akan mengucapkan selamat tinggal untuk pesawat televisi tradisional. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)