Pada 12 Oktober 2002, ratusan orang meninggal dan luka-luka setelah bom meledak di Legian, Bali. Peristiwa tersebut merupakan salah satu peristiwa terorisme terburuk dalam sejarah di Indonesia dan menandai rangkaian teror yang terjadi selanjutnya. Pada periode menegangkan semacam ini, menarik untuk menyimak bagaimana isi berita-berita media mengenai peristiwa Bom Bali I dan kaitannya dengan isu terorisme.   

Salah satunya bisa kita lihat dari riset Arifatul Choiri Fauzi yang diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Kabar-Kabar Kekerasan dari Bali (2007). Arifatul melakukan analisis isi teks-teks media terkait peristiwa tersebut. Secara spesifik berita-berita yang dianalisis berasal Kompas dan Republika dalam periode 14-18 Oktober 2002. Pemilihan waktu yang relatif pendek ini bukan tanpa alasan.

Arifatul membatasi penelitiannya pada lima hari pertama karena menganggap media masih memberitakan secara spontan apa yang terjadi di lapangan pada hari-hari tersebut. Artinya berita-berita masih banyak mengupas sisik-melik peristiwa pada dirinya sendiri. Ini berbeda dalam berita-berita yang muncul di minggu-minggu selanjutnya yang pasti akan banyak dipengaruhi berbagai kepentingan yang ada seiring perkembangan penyelidikan kasus.  

Selama 5 hari tersebut, Republika mengeluarkan 19 berita berkaitan dengan peristiwa tersebut di halaman pertama. Dari keseluruhan berita tersebut ada 78 narasumber yang menjadi sumber berita dengan 34, 62 persen (27 orang) dari pihak berwajib seperti polisi, 17, 95 persen  (14 orang) pejabat pemerintahan, dan 15, 38 persen (12 orang) dari kalangan praktisi atau profesional seperti pengamat intelijen.   

Data tersebut dibagi lagi menjadi tiga kategori mengenai siapa yang dituduh sebagai aktor intelektual di balik peledakan bom. 71, 79 persen (56 orang) bersikap netral dengan tidak buru-buru menyebut siapa pelakunya, 3, 85 persen (3 orang) menuduh teroris Islam, dan 24, 36 persen (19) menyebut negara Barat sebagai pelaku utama yang membuat konspirasi sehingga peristiwa tersebut terjadi.   

Dengan menggunakan analisis framing, Arifatul melihat ada dua tema umum dalam berita-berita republika di hari setelah peristiwa peledakan bom terjadi. Pertama, mengangkat tuduhan Amerika Serikat bahwa pelaku bom adalah jejaring organisasi teroris Al-Qaeda yang berada di Indonesia. Ini berarti membangun logika bahwa Indonesia sudah menjadi sarang teroris. Kedua, peristiwa bom tersebut adalah konspirasi asing untuk menghancurkan Indonesia dari dalam.

Republika juga mengaitkan peledakan bom ini dengan isu kemerdekaan Papua. Dalam berita berjudul “Waspada dan Tetap Bersatu” di halaman pertama Republika edisi 14 Oktober 2002, kalimat “… ada kekhawatiran kejadian di Bali berujung lepasnya Papua akibat pemerintah pusat makin lemah,” menjadi penutup berita. Kemudian dalam berita “Bom Itu Biasa Dipakai Militer Asing” (15 Oktober 2002), Republika menggunakan sumber anonim untuk menjelaskan spesifikasi bom yang digunakan dan menghubungkannya dengan militer asing.  

Sementara itu, terdapat 25 berita yang dianalisis dari Kompas, dengan 172 narasumber yang ada di dalamnya. Dari total narasumber, 40,70 persen (70 orang) berasal dari pejabat pemerintahan, 19,77 persen (34 orang) berasal dari pihak berwajib, dan 12,79 persen (22 orang) berasal dari praktisi atau profesional. Lebih spesifik, 91,28 persen (157 narasumber) bersikap netral dengan tidak buru-buru menunjuk aktor peledakan, 6, 39 persen (11 orang) menuduh teroris Islam, dan 2,23 persen (4 orang) menunjuk Barat sebagai pelaku.  

Kompas melihat peristiwa ini sebagai “bahaya nyata dan ancaman bagi keamanan nasional”. Namun, alih-alih menyalahkan Barat sebagai pihak yang melakukan konspirasi, Kompas menitikberatkan perhatian pada berbagai langkah yang diambil oleh pemerintah dan otoritas untuk menginvestigasi peristiwa tersebut. Koran ini juga menggunakan banyak pendapat dari organisasi-organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah yang mengutuk pengeboman tersebut.

Fokus Kompas ini bisa dilihat misalnya dalam berita tanggal 16 Oktober 2002 berjudul “Pascapeledakan Bom di Bali 27 Orang Diperiksa”. Isinya tentang pemeriksaan orang-orang yang dicurigai terlibat. Ketika salah satu narasumber dari Polri ditanya mengenai indikasi pelaku merupakan anggota jaringan Al-Qaeda, ia menjawab dengan hati-hati dan mengatakan masih dalam tahap penyelidikan.  

Setelah Bom Bali I ini sendiri, rangkaian peristiwa terorisme semakin sering terjadi di Indonesia. Pada titik ini media memiliki peran penting dalam memberitakan apa yang sebenarnya terjadi. Meski memang ada sejumlah catatan, seperti misalnya disebutkan  Farid Gaban, peliputan terorisme di Indonesia masih minim etika dan verifikasi media. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)