Kamis sore, 28 April 2011, pendingin ruangan di auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) berfungsi seperti biasa. Namun dinginnya seakan tidak mengusir kegerahan sebagian orang yang duduk mendengar pemaparan Titin Rosmasari.

Titin adalah pemimpin redaksi Trans 7. Sore itu ia bicara sebagai salah satu pembicara pada sesi kedua seminar ‘Anak dan Televisi’ yang diadakan di kampus UI, Depok. Selesai bicara, belasan peserta kontan mengangkat tangan mengajukan berbagai pernyataan dan pertanyaan.

“Mengapa Crayon Sinchan masih disiarkan Trans 7?” keluh seorang penanya. “Apakah Opera Van Java pantas ditayangkan pada jam di mana anak ikut menonton?” susul lainnya, lalu seterusnya, hingga seorang ibu yang berkata bahwa anaknya tidak mau mencuci tangan sebelum makan karena dalam tayangan Bolang produksi Trans 7, Si Bolang tidak mencuci tangannya sebelum makan.

Dalam seminar yang diselenggarakan Departemen Susastra dan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) FIB-UI itu, Titin hanya sedikit sekali menjelaskan ketentuan-ketentuan dasar serta kategori-kategori dalam program anak di televisi. Namun untuk program-program anak yang disiarkan Trans 7, porsinya justru lebih besar. Misalnya: variasi tayangannya lebih beragam dibanding stasiun tv lain, performanya paling tinggi di antara stasiun swasta lainnya, banyaknya aspek edukasi yang terkandung di dalam tayangan-tayangannya, hingga berkeluh bahwa tayangan Bocah Petualang-nya kalah dari sinetron remaja Indosiar Kepompong dalam KPI Awards 2008 (KPI Awards adalah ajang pemberian penghargaan olek Komisi Penyiaran Indonesia kepada stasiun televisi atas tayangan-tayangannya yang berkualitas).

Lewat data AGB Nielsen Media Research (lembaga survey untuk radio dan televisi), paparan Titin juga memuat ragam tayangan anak yang ada, untuk kemudian dibandingkan dengan tayangan yang disiarkan Trans 7, seakan ingin menunjukkan bahwa program Trans 7 paling berkualitas. Seperti, misalnya, ia menyayangkan bahwa tayangan Cinta Juga Kuya di SCTV dimasukkan dalam kategori program anak. Tak lupa, Titin turut memperlihatkan judul-judul episode tayangan Si Bolang dan Laptop Si Unyil – yang sepertinya menjadi tayangan kebanggan Trans 7.

Sore itu Titin menjadi pembicara tunggal karena pembicara kedua, Arist Merdeka Sirait dari Komnas Perlindungan Anak, batal hadir. Padahal kehadiran Arist dinilai penting untuk melihat bagaimana pandangan-pandangannya terhadap tayangan anak yang ada: apakah pihak stasiun TVsudah berpihak kepada anak?

Pada sesi tanya jawab seorang peserta bertanya mengapa tayangan ‘Crayon Sinchan’ masih saja ditayangkan Trans 7, padahal ketika masih disiarkan RCTI, penolakan dari masyarakat sudah sangat tinggi. Titin pun menjelaskan berbagai macam hal terkait dengan hal itu. Namun, di ujung penjelasan, ia akhirnya mengatakan, “Segera akan kita ganti (tayangan crayon sinchan tersebut).” (Remotivi/Indah Wulandari