Bekerja sama dengan Progam Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Jakarta, Remotivi menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Realitas Kita, Realitas TV” pada Senin lalu (21/9). Bertempat di Aula D Universitas Atma Jaya, hadir Ade Armando dan Alois Agus Nugroho sebagai pembicara.

“Realitas menjadi mungkin karena ada kesadaran akan diri ‘aku’ pada manusia, dan televisi mengaburkan realitas itu sehingga ia semakin kehilangan kepercayaan dari masyarakat,” ujar Alois. Paparannya dimulai dengan menelusuri asal-usul realitas dari pemikiran Immanuel Kant perihal das ding an sich (benda pada dirinya) dan juga fenomenologi. Menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi Atma Jaya ini, pemahaman tentang realitas dimungkinkan oleh pemahaman manusia atas dirinya sendiri. “Tak akan ada realitas tanpa adanya ‘aku’. Aku memikirkan keberadaanku, kenyataanku, duniaku, dan itulah realitas,” ungkap Alois.

Ia mengatakan bahwa sekarang ini sudah tidak terlihat lagi batas antara fiksi dan fakta, sehingga yang seringkali terjadi adalah fakta mengikuti fiksi. Di sinilah “aku” berperan besar untuk tetap terjaga untuk tidak tenggelam dalam hiperealitas yang menyeruak melalui televisi.

Pembicara lain, Ade Armando, mengatakan bahwa media massa di Indonesia sudah berkhianat terhadap tujuan awal. Bukan lagi sebagai sebuah alat memelihara demokrasi atau sarana menjembatani masyarakat, namun kehadirannya hanya dimaknai sebagai mesin pencari keuntungan.

Hal ini menurutnya terutama diakibatkan oleh para pemilik media massa dewasa ini yang memandang media massa sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan semata, bukan sebagai sebuah alat memelihara demokrasi, menjembatani masyarakat, dan idealisme lainnya.

Misalnya, Ade mencontohkan, sudah banyak tayangan realitas (reality show) yang terjebak dalam manipulasi atas realitas itu. Bukan lagi kenyataan yang ditampilkan, melainkan dramatisasi: tangisan dan cucuran air mata, penyelamatan “orang miskin” oleh warga Jakarta, dan sebagainya. Bagi penulis buku Televisi Jakarta di Atas Indonesia ini, hal ini merupakan fenomena yang berbahaya, khususnya bagi televisi sendiri, karena media massa menjadi penting ketika ia dipercaya. Contoh akibat ketidakpercayaan massa pada media massa adalah penolakan atas suatu tayangan, seperti yang bisa saja dialami TV One atas kasus “acara amal rekayasa” di tayangan Socialite yang akhir-akhir ini mencuat.

Diskusi yang dipandu oleh Dorien Kartikawangi sebagai moderator ini, ditutup dengan sebuah pesan provokatif oleh Ade Armando. Ia mengajak para peserta, yang kebanyakan adalah mahasiswa, untuk bersikap kritis terhadap televisi: menonton televisi–bukan malah menjauhinya–untuk memperjuangkan kesehatan tayangan televisi kita.

“Mahasiswa harus menonton TV, tapi tolong bersuara. Suara mahasiswa pasti didengar,” pungkas Ade meyakinkan. (REMOTIVI/Berto Tukan)