Tayangan televisi yang memuat kekerasan pada hewan berkontribusi terhadap perilaku individu. Seseorang yang kasar, masa kecilnya adalah penyiksa hewan. Hasil sebuah riset tersebut disampaikan Wiwiek Bagja di kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Jakarta, Jumat, 13 Januari 2012. Dialog mengenai tayangan hewan di televisi ini diadakan sebagai tanggapan atas Surat Terbuka Remotivi kepada KPI, yang didukung beberapa lembaga pemerhati hewan seperti ProFauna, Jakarta Animal Aid Network, Wildlife Crime Unit, Lembaga Advokasi Satwa, dan Equator Indonesia.

Wiwiek Bagja adalah Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Ia menjelaskan bahwa terdapat azaz kesejahteraan hewan (principles of welfare) yang penting untuk diketahui dalam penggunaan hewan untuk berbagai kepentingan, yaitu untuk bebas dari haus dan lapar, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit akibat cidera dan penyakit, bebas dari ketakutan dan ketertekanan, dan bebas untuk mengekpresikan perilaku alamiahnya. Untuk itu, lanjut Wiwiek, penggunaan hewan harus didampingi oleh ahli hewan.

Divisi Advokasi Remotivi Jefri Gabriel menegaskan kembali pokok permasalahan yang ada dalam tayangan televisi yang melibatkan hewan, bahwa (1) beberapa tayangan memuat unsur kekerasan dan sadisme, (2) adanya pengabaian hak anak-anak atas pendidikan serta rasa aman dan nyaman, (3) memuat informasi yang keliru, (4) mengabaikan kesejahteraan hewan, serta (5) mendorong penyimpangan hobi.

Untuk itu, Remotivi menilai bahwa perlu adanya perbaikan dalam hal (1) perubahan konsep tayangan ke arah yang lebih edukatif, tidak eksploitatif, dan tidak menampilkan kekerasan terhadap hewan, (2) kesadaran sikap bahwa ada penonton anak-anak, (3) perhatian pada kesejahteraan hewan, (4) ketepatan informasi yang membutuhkan observasi mendalam, dan (5) sikap KPI yang kurang memberi ruang pada P3-SPS terkait isu hewan.

Diwakili oleh Irma Herawati, ProFauna menjelaskan bahwa terdapat banyak sekali masalah terkait hewan yang ditampilkan di televisi. Ia mencontohkan penggunaan satwa langka dalam iklan yang mendorong peningkatan penjualan satwa tersebut di pasar gelap. Begitu pula dengan tindak kekerasan yang menyebabkan hewan menjadi stres, sakit, dan takut. Atas banyaknya pengaduan mengenai tayangan televisi yang mengeksploitasi hewan, ProFauna ingin mendorong masyarakat untuk memperlakukan hewan dengan etis.

Beberapa judul tayangan yang disebut bermasalah antara lain: Petualangan Panji, Gadis Petualang, Steve Ewon Sang Pemburu (ketiganya disiarkan Global TV), Mancing Mania, dan Berburu (keduanya disiarkan Trans 7). Irma mengindikasikan adanya unsur rekayasa dalam tayangan seperti Petualangan Panji yang menampilkan ketidaksinkronan antara jenis ular dan habitatnya.

Ketua KPI Dadang Rahmat Hidayat berpendapat, “Kami berharap bukan dihilangkan, bahkan ditambah (tayangan mengenai hewan). Tapi harus dalam lingkup edukasi.” Ia menambahkan, tayangan-tayangan yang disajikan harus mempertimbangkan agar anak-anak mempunyai perspektif yang tepat mengenai hewan-hewan yang ditampilkan.

Roy Thaniago, Koordinator Remotivi, menegaskan, bahwa selain perlindungan terhadap hewan, adalah penting bagi tayangan-tayangan di televisi agar memperhatikan perlindungan terhadap publik. Baginya, sensitivitas publik terhadap segala bentuk kekerasan mesti dipertinggi, bukan diperendah dengan membiarkan kekerasan terhadap hewan dialami sebagai sebuah tontonan atau pengalaman yang wajar.

“Ini adalah tentang bagaimana manusia beradab. Manusia beradab dan bermoral tidak boleh mempermainkan makhluk ciptaan Tuhan,” ujar Wiwiek bersetuju atas pendapat Roy. Tayangan Berburu di Trans 7, misalnya, disebutnya sebagai salah satu contoh yang buruk.

Ezki Suyanto, salah satu Komisioner KPI, mengatakan bahwa etika harus dijunjung tinggi dalam memproduksi suatu acara, walau hal itu tidak disebut dalam regulasi.

Namun disayangkan sekali, acara yang ditujukan sebagai kesempatan berdialog ini, tidak digunakan dengan baik oleh perwakilan stasiun TV yang hadir. Tak ada tanggapan yang substantif yang mereka sampaikan pada dialog ini.

“Kita tunggu update dari lembaga penyiaran,” ujar Ezki menutup acara.(REMOTIVI/Indah Wulandari)