Di tengah terpaan budaya Korea, di mana identitas TV nasional? Di mana lokalitas mendapat tempat? Dan apakah selamanya masyarakat Indonesia akan jadi konsumen abadi kebudayaan pop, ataukah ada peluang yang lain? Pertanyaan macam itulah yang ingin dijawab dalam Diskusi Publik Remotivi bertajuk “Mendadak K-Pop: Badai Korea di Televisi Kita” pada 29 Februari 2012.

Bertempat di Aula Nurcholis Majid Universitas Paramadina, acara hasil kerja sama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina ini menghadirkan Budi Suwarna dan AG. Eka Wenats Wuryanta sebagai pembicara.

Budi Suwarna mengatakan bahwa K-Pop sebenarnya hanya sebagian kecil dari gelombang Korea. “Penetrasi gelombang Korea itu sendiri sudah sampai ke lifestyle,” ujarnya. Hal itu, menurutnya, bisa dilihat dari begitu banyaknya suguhan bertemakan Korea di televisi kita: film, sinetron, potongan rambut, citra grup band, pakaian, dan sebagainya.

Menyitir data dari Kompas edisi 14 Januari 2007, Budi menyebut beberapa sinetron yang menjiplak drama Korea: Benci Jadi Cinta mencontek My GirlPengantin Remaja (My Little Bride), Cinta Remaja (My Sassy Girl), Cincin (Beautiful Days), sampai Darling danJanji Jaya yang keduanya menjiplak My Name Is Kim San Soon.

Menurut wartawan Kompas ini, hal tersebut tidak lepas dari cara berpikir industri televisi yang seperti pedagang, yakni hanya memikirkan keuntungan saja. Dalam logikanya, rating,share, dan iklan menjadi “dewa”, sehingga apabila sebuah program sukses ditayangkan di stasiun TV yang satu, maka akan diikuti atau dijiplak oleh stasiun TV lainnya.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Eka Wenats. Ia mengatakan bahwa iklim yang ada saat ini adalah iklim pengekor, bukan inisiator. Kaitannya dengan budaya, pengajar komunikasi di Universitas Paramadina ini menunjukkan beberapa video hasil karya seni dalam negeri yang sebenarnya potensial bersaing dalam kancah global. Menurutnya, negara bersama dengan media harusnya berpikir untuk membangun strategi kebudayaan.

Adapun tujuan dari diskusi ini, menurut Koordinator Diskusi Publik Remotivi Muhamad Heychael, adalah untuk menunjukkan bagaimana pengaruh globalisasi, dalam kasus ini K-Poptelah melahirkan keseragaman tayangan televisi kita, dan berimplikasi pada berkurangnya ruang bagi keragaman dan lokalitas.

“Apa yang paling berbahaya dari skenario ini adalah publik yang semata-mata diposisikan sebagai konsumen,” ujar Heychael. Pun, lanjutnya, tanpa disadari “kemeriahan” ini sebenarnya mendorong prilaku konsumtif yang terutama menyasar kepada usia remaja.

Lantas, bagaimana seharusnya publik menanggapi terpaan gelombang budaya Korea ini? “Be Yourself,” tutur Budi Suwarna dengan singkat dan mantap. Dalam penutupnya, Suraya, staf pengajar  Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, yang berperan selaku moderator, juga menambahkan perlunya aktualisasi diri dan keberanian untuk menggali potensi pribadi. Sehingga, meski terpaan gelombang Korea begitu besar, tidak akan mengganggu keyakinan kita akan identitas bangsa kita sendiri. (REMOTIVI/Roselina)