Judul Buku
Global Muckraking, 100 years of investigative journalism from around the world.

Penulis
Anya Schiffrin (Editor)

Tahun
2014

Penerbit
The New Press, New York    

Jumlah Halaman
296

Judul Buku
Global Muckraking, 100 years of investigative journalism from around the world.

Penulis
Anya Schiffrin (Editor)

Tahun
2014

Penerbit
The New Press, New York    

Jumlah Halaman
296

Seumur hidupnya, Edmund Dene (E.D.) Morel tak pernah membayangkan bakal bekerja menjadi seorang jurnalis. Apalagi menulis laporan-laporan yang menjadi berita besar dan membawa perubahan politik di sebuah negeri. Tapi praktik penindasan terhadap buruh-buruh perkebunan karet di Kongo telah mengubah jalan hidup lelaki yang hidup antara tahun 1873 hingga 1924 itu menjadi wartawan investigatif dan aktivis politik yang membela kaum buruh.

Sebelum menjadi jurnalis, Morel bekerja sebagai pegawai maskapai perkapalan Inggris Elder Dempster yang berbasis di Liverpool. Maspakai ini melakukan perdagangan antar negara bahkan antar benua. Elder Dempster juga memegang hak monopoli jalur kapal-kapal yang berlabuh di Pelabuhan Antwerp, Belgia, khususnya kapal yang hilir-mudik antara Belgia dan Kongo. Tugas Morel di maskapai itu adalah mengawasi proses bongkar-muat barang tiap kapal milik maskapai Elder Dempster yang baru pulang maupun akan pergi ke Kongo.

Selama berdinas di Pelabuhan Antwerp, Belgia, Morel adalah sosok pemuda yang tekun bekerja. Ia hapal proses bongkar muat berikut isi muatannya. Muatan kapal yang pulang dari Kongo adalah timbunan gading-gading gajah Afrika berukuran raksasa dan tumpukan karet dalam volume besar untuk menyuplai industri otomotif. Sementara muatan kapal saat berangkat ke Kongo adalah pasukan, senjata, amunisi, dan kebutuhan logistik tentara!

Kisah penyelidikan Morel terhadap penindasan buruh di Kongo bermula dari amarahnya kala menjadi pegawai Elder Dempster. Ia protes kepada atasannya dan mendesak agar perusahaan tak lagi terlibat dan mendukung praktik perdagangan seperti itu. Tapi si bos menolak, karena nilai kontrak bisnis yang diterima maskapai itu terlampau besar. Si bos malah menawarkan posisi dengan gaji tinggi jika Morel tetap bungkam. Morel menolak tawaran itu. Ia keluar dan menjadi wartawan, membongkar dan menyiarkan kasus besar itu kepada publik di Eropa.

Laporan-laporan investigasi Morel dalam halaman utama majalah Speaker mendapat sorotan publik, termasuk dukungan aktivis politik dan NGO. Seperti terbakar amarah, Morel bahkan menerbitkan koran yang khusus memberitakan penindasan buruh di Kongo dan mendirikan organisasi Congo Reform Association.  Inisiatif Morel mendapat dukungan sejumlah kolega dan pembacanya. Sejumlah wartawan lain ikut mengungkap penyiksaan yang memicu kematian massal terhadap buruh-buruh paksa perkebunan karet di Kongo. Konon,  populasi penduduk di Kongo yang semula berjumlah 20 juta jiwa berkurang hingga tinggal separuhnya.

Setelah lebih dari satu dekade kerja jurnalistiknya ditambah kampanye-kampanye politik oleh organisasi yang didirikannya,  perjuangan Morel berbuah hasil. Akhirnya, pemerintah kerajaan Belgia mengubah kebijakan perdagangannya dengan Kerajaan Kongo di bawah Raja Leopold II.

Jurnalisme investigasi di media cetak

Potongan kisah perjuangan Morel sebagai jurnalis investigasi di atas menjadi cerita pembuka dalam buku berjudul Global Muckraking; 100 Years of Investigative Journalism from Around the World. Seperti judulnya, buku yang disunting oleh Anya Schiffrin ini memuat deretan kisah dan laporan yang membongkar kejahatan dan penyimpangan kekuasaan yang terjadi di benua Afrika, Asia, Amerika hingga Australia sepanjang satu abad. Kisah dan laporan itu terutama berasal dari reportase jurnalis-jurnalis media cetak.

Schiffrin menggunakan kata “muckraking” dan “investigative” secara bergantian. Keduanya bermakna sama, hanya saja kata “muckraking” lebih dulu dikenal dan populer pada awal abad ke-19. Istilah “muckraking” dipopulerkan oleh Presiden Theodore Roosevelt menunjuk para jurnalis yang menulis dan melaporkan kejahatan korporasi, eksploitasi industri, skandal korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, penjajahan, perdagangan buruh, dan penyimpangan kekuasaan lainnya. Lewat karya-karya jurnalistik yang tajam dan mendalam, sejumlah jurnalis di masa itu terlibat dalam kampanye dan aktivisme politik. Ikut memobilisasi publik untuk melawan ketidakadilan lewat reportase investigatif mereka. Karena itu, dalam pandangan Schiffrin, jurnalisme investigasi (muckraking journalism) adalah jurnalisme dengan dampak. Tujuannya memengaruhi para pengambil kebijakan, politisi, dan penguasa untuk bertindak, memperbaiki keadaan atau menghentikan kejahatan (hal. 2).

Namun berbeda dengan buku yang mengangkat tema sejenis, Schiffrin tak memasukkan nama-nama jurnalis beken yang ikut menorehkan sejarah di AS. Direktur program media dan komunikasi di Sekolah Hubungan Internasional dan Publik di Universitas Columbia, AS, itu tidak memasukkan kisah heroik duet jurnalis kondang Carl Bernstein dan Bob Woodward yang liputan investigasinya dalam membongkar skandal Watergate berhasil mendorong Presiden Richard Nixon mundur dari jabatannya.

Dalam pengantar buku ini, Schiffrin menyatakan, ia memilih untuk menelisik dokumen-dokumen reportase investigasi yang dihasilkan oleh jurnalis-jurnalis di luar negaranya. Jurnalis yang tak dikenal dunia, bahkan di negeri si jurnalis itu sendiri. Schiffrin dibantu koleganya, menyeleksi karya-karya jurnalis investigatif dengan beragam topik dari sejumlah negara, khususnya Amerika Latin, Eropa Timur, Afrika hingga Asia.

Karya-karya yang dimuat dalam buku ini diseleksi cukup ketat. Schiffrin meminta pendapat sejumlah akademisi, sejarawan, dan jurnalis investigasi di sejumlah negara untuk ikut mencalonkan kandidat jurnalis dan hasil liputan investigasi terbaik sepanjang tahun 1900 hingga 2000an. Para akademisi, sejarawan, dan jurnalis tadi bertindak sebagai kontributor yang memberi komentar, memaparkan konteks dan latarbelakang munculnya reportase investigasi yang dilaporkan sang jurnalis. Mereka juga mengulas sosok dan motivasi para jurnalis di balik reportase investigasi tersebut. Sehingga pembaca, khususnya wartawan peminat jurnalisme investigasi, dapat memperoleh inspirasi dari sosok tersebut.

Hasilnya, buku ini menampilkan 47 potongan karya jurnalis investigatif di kawasan Amerika Latin, Afrika dan Asia yang sebelumnya kurang dikenal. Laporan-laporan tersebut dikategorikan dalam 9 tema besar, antara lain perburuhan, antikolonialisme, korupsi, minyak dan tambang, polisi dan militerisme, bencana alam dan kerusakan lingkungan, komunitas marjinal, kelaparan dan kemiskinan, dan masalah ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Persoalan-persoalan tersebut hingga kini masih banyak terjadi dan dialami oleh masyarakat di bawah sistem yang demokratis dan tata pemerintahan yang modern.

Jurnalisme Investigasi sebagai Alat Perjuangan

Dalam buku ini Schiffrin juga memasukkan laporan investigasi karya wartawan Indonesia tentang praktik perdagangan antar negara yang tidak seimbang dan penindasan buruh. Isu perburuhan yang diangkat adalah kasus buruh pabrik sepatu yang menjadi kontraktor Nike, produsen sepatu dunia (hal. 45). Salah satu pabrik sepatu itu berada di Tangerang.

Taufiqulhadi dan Usmandi Andeska, dua wartawan harian Media Indonesia melaporkan ketimpangan antara upah buruh sepatu yang bekerja untuk perusahaan sepatu dunia itu. Harga sepasang sepatu Nike kala itu rata-rata dibanderol $75, bahkan hingga $175. Sementara, gaji perhari buruh sepatu itu di Tangerang sangat rendah, hanya Rp986! Upah itu jauh di bawah upah minimum yang berlaku di Jawa Barat saat itu, Rp1.600 perhari.

Belakangan, reportase yang mengungkap borok sistem perburuhan mendapat perhatian media asing. Liputan-liputan perburuhan memicu kampanye dan advokasi dari NGO-NGO internasional. Konsumen di sejumlah negara maju kian kritis atas barang yang mereka beli. Kerja kolaboratif antara jurnalis dan aktivis politik yang melakukan advokasi terhadap isu perburuhan menghasilkan perubahan penting. Pada dekade 1990an, perusahaan sepatu raksasa seperti Nike akhirnya mengubah dan memperbaiki kebijakan dan sistem perburuhan yang semula menindas menjadi lebih manusiawi.

Isu kesejahteraan buruh-buruh pabrik perusahaan internasional ini masih berlanjut hingga di era digital awal abad 20. Misalnya kasus di Cina ketika sejumlah buruh perusahaan Foxconn, pabrik yang memproduksi gawai untuk Apple tewas bunuh diri akibat beban kerja tinggi sedang upah yang mereka dapat sangat rendah. September 2015, seperti dilansir situs publicintegrity.org, ratusan mantan buruh pabrik produsen gawai ternama Samsung di Korea Selatan menderita kanker. Mereka menderita penyakit mematikan itu akibat terpapar zat kimia beracun selama bekerja di pabrik milik perusahaan elektronik raksasa itu.

Selain isu penindasan terhadap buruh, laporan-laporan investigasi terkait penyimpangan kekuasaan dalam bentuk korupsi, kolusi, pelanggaran HAM, perusakan lingkungan, eksploitasi korporasi, kemiskinan, hingga kekerasan terhadap perempuan yang dikutip dalam buku ini adalah tema yang tak pernah lekang oleh ruang dan waktu. Karena itu laporan investigasi yang ditulis oleh para wartawan media cetak yang dirangkum dalam buku ini dapat menjadi referensi dan sumber inspirasi bagi para jurnalis di era digital.

Rangkaian laporan-laporan investigasi yang dimuat dalam buku ini seakan menegaskan bahwa jurnalisme investigasi adalah puncak dari praktik jurnalisme yang senantiasa ditunggu publik. Para jurnalis yang melakukan reportase investigasi memiliki satu misi: mengungkap kebenaran yang sengaja ditutup rapat-rapat oleh penguasa, baik itu penguasa politik maupun penguasa ekonomi. Sejalan dengan apa yang dikatakan Schiffrin di bagian pembuka dari buku ini, meski zaman telah memasuki era serba digital, pola kejahatan yang canggih hingga trik korupsi sistematis dan terorganisir akan selalu menjadi medan perjuangan baru bagi jurnalis. Karena itu, esensi dari eksistensi pers sebagai pengawas kekuasaan tak boleh mati. []