Judul Buku
Catatan Kaki dari Gaza         

Penulis
Joe Sacco

Tahun
2014 (terjemahan Indonesia)

Penerbit
Gramedia 

Jumlah Halaman
418

Judul Buku
Catatan Kaki dari Gaza         

Penulis
Joe Sacco

Tahun
2014 (terjemahan Indonesia)

Penerbit
Gramedia 

Jumlah Halaman
418

Agaknya setiap negeri selalu saja punya episode kelam yang terlupakan. Entah yang sengaja disingkirkan secara resmi dari wacana ilmu sejarah maupun yang dihilangkan secara resmi dari catatan-catatan tertulis. Pemerintahan sebuah rezim biasanya terlibat dalam upaya penghilangan ini. Hal seperti ini cukup lumrah terjadi. Khan Yunis, 1956, salah satunya.

Khan Yunis adalah sebuah kota kecil di Selatan jalur Gaza, Palestina, sebuah negeri yang nasibnya malang. Orang-orang Palestina menuai penderitaan akibat hasrat maniak terhadap kekuasan dan tanah pemerintahan Zionis Israel sejak Palestina memerdekakan diri pada 1948. Penindasan dan pendudukan di Palestina berjalan tahun demi tahun.

Dalam spiral berisi kekerasan, pembunuhan, dan aneksasi tanah ini, Joe Sacco “menulis ulang” satu babakan penuh rasa takut yang—menurutnya—menjadi sumber kebencian orang-orang Palestina. Khan Yunis tahun 1956 adalah situs pembunuhan sistematis 275 orang Palestina oleh tentara Israel. Sebelum Sacco, hanya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang pernah merilis dokumen tentang peristiwa tersebut. Dokumen lain—menurut Sacco—sulit ditemukan sebab, “nyaris tak ada bahan apa pun yang ditulis dalam bahasa Inggris mengenai peristiwa itu”. Bagi Sacco, minimnya bahan penulisan adalah masalah besar.

Tragedi Khan Yunis menjadi sebuah peristiwa yang “tidak bisa dilupakan begitu saja”. Hal itulah yang menuntun Sacco untuk “menulis ulang” tragedi tersebut melalui komik berjudul Footnotes in Gaza. Komik ini sudah diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2014 dengan judul Catatan Kaki dari Gaza (selanjutnya disingkat Catatan Kaki). Melalui komik, jurnalis “Barat” kelahiran Malta ini mencatat tragedi tersebut dengan caranya sendiri. Dia tidak hanya menggunakan susunan huruf, melainkan juga mencampurkannya dengan reka visual yang dijajarkan berturut-turut. Dengan kata lain, ia menggunakan bahasa visual komik.

Jurnalisme Komik

Catatan Kaki bukanlah karya jurnalistik pertama Sacco yang berbentuk komik. Sebelumnya ia pernah merilis Palestine (1996) dan Safe Area Goražde (1987) yang juga sempat mampir di industri perbukuan komik di Indonesia. Dari ketiganya, kita dapat mengenali pilihan Sacco untuk bernarasi. Sacco memilih narasi jurnalistik, sebuah reportase dalam bentuk komik. Dengan kata lain, dia menggoreskan garis dan menambahkan komposisi utuh anatomi seorang manusia guna meniupkan ruh dirinya ke dalam karyanya itu. Sebagai seorang jurnalis, Sacco hidup di dalam semesta sekuensialnya sendiri. Dalam semesta ketiga karya jurnalisme komiknya, Sacco menggali informasi tentang berbagai macam tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina (Palestina dan Catatan Kaki) dan Bosnia (Safe Area).

Dalam Catatan Kaki, Sacco menghadirkan dirinya ke dalam narasi yang secara intens berinteraksi dengan sumber-sumber kisahnya untuk mencari bahan narasi. Sekali pun demikian, Sacco tidak merampas esensi sejarah peristiwa pembantaian Khan Yunis 1956; dalam arti dia bukanlah objek dominan yang merampas perhatian penikmat karyanya.

Meski saya menggunakan kata “jurnalistik” di sini, tidak berarti bahwa Sacco terobsesi pada aktualitas berita. Catatan Kaki menarik karena mula-mula ia bukanlah sebuah karya jurnalisme yang terobsesi pada aktualitas peristiwa. Lebih dari itu, Catatan Kaki adalah ruang sekuensial bagi Sacco untuk meletakkan obsesinya seputar peristiwa Khan Yunis 1956. Alih-alih mengarahkan cakar jurnalisnya pada sumber berita dan mengolahnya di dalam mesin jurnalistik demi mendapatkan aktualitas berita, Sacco mengajak penikmat karyanya menyusuri rangkaian cerita orang-orang yang menjadi saksi peristiwa sejarah tersebut.

Melalui Catatan Kaki, komitmen sosial Sacco terhadap Khan Yunis 1956, yang disebutnya sebagai tragedi yang terlupakan di pusaran sejarah Palestina, merupakan satu petunjuk berharga guna mengetahui pandangan personal sang jurnalis. Dengan nada berapi-api, dalam “Prakata”, Sacco menyatakan bahwa pembantaian menewaskan 275 jiwa itu “tidak pantas ditutup-tutupi”. Membaca pernyataan tegas semacam ini membuat kita berpikir bahwa luapan kemarahan dalam diri sang jurnalis menjadi sebuah ekspresi yang tidak bisa ditawar. Namun agaknya Catatan Kaki berjalan lebih jauh dari sekadar kemarahan individual yang bisa berubah menjadi banal. Di bagian yang sama Sacco mengatakan:

“Tujuan utama saya adalah mencatat kisah para warga Palestina yang menyaksikan peristiwa pembantaian di Khan Yunis dan Rafah. Namun 50 tahun itu jeda waktu yang lama untuk menunggu bertanya kepada orang mengenai apa yang mereka ingat tentang satu hari itu. Kenangan-kenangan yang dimuat dalam buku ini telah diperiksa dengan mempertimbangkan kaburnya ingatan, dan perbandingan rincian antara kenangan: Apakah orang-orang yang selamat mengingat hal yang sama?” (huruf miring oleh saya)

Kata-kata di atas menjadi penjelas bagi para penikmat karyanya: persoalan paling penting yang ingin disodorkan oleh Sacco lewat Catatan Kaki—selain tragedi yang ingin ia kuak—adalah “ingatan”.

Sacco menjalankan jurnalisme komiknya dengan cara mengais sisa-sisa ingatan dari para penyintas tragedi Khan Yunis 1956. Dengan segala resiko dan kesulitan tersendiri—antara lain bahwa kerja jurnalistik membutuhkan fakta yang akurat dan bisa dipertanggung-jawabkan, sementara cerita seorang penyintas bisa saja salah setelah sekian puluh tahun tragedi berlalu—Catatan Kaki menjadi sebuah karya yang menarik untuk diselami.

Ingatan Patah-patah

Sejarah lisan, menurut John Roosa (2008), “tampak sebagai sebuah metode untuk menggali pengalaman orang biasa, mengatasi keterbatasan dokumen-dokumen tertulis yang tidak banyak dan sering tidak terawat.” Hal inilah yang dilakukan oleh Sacco dalam berhadapan dengan tragedi Khan Yunis 1956. Catatan Kaki merupakan ruang bagi Sacco untuk menggali pengalaman orang biasa tentang kenangan buruk dan rasa kehilangan sanak saudara. Pada titik ini, adalah tepat bila pendapat John Rossa di atas digunakan untuk menyebut Catatan Kaki sebagai sebuah karya dalam bentuk komik yang menerapkan pendekatan sejarah lisan.  

Karena judul tersebut adalah sebuah karya jurnalistik dalam bentuk komik, maka yang terlintas di benak, biasanya adalah obsesi total pada objektivitas jurnalistik sambil menepikan empati terhadap korban pendudukan Israel.

“Saya tidak ingin terlalu banyak menunjukkan emosi ketika menggambar diri sendiri. Cerita itu tentang orang lain, bukan saya. Saya lebih suka menekankan perasaan mereka”, ujar Sacco dalam sebuah wawancara dengan The Guardian yang dimuat 22 November 2009. Penekanan pada cerita liyan (para penyintas tragedi Khan Yunis) itulah yang menjadi fokus Sacco di sepanjang narasi di dalam Catatan Kaki.

Menekankan narasi sekuensial pada perasaan para penyintas (yang berarti menyelami subjektivitas tuturan dari sang penutur ingatan) tentu saja bertolak belakang dengan objektivitas jurnalisme. Jurnalisme umumnya mengharuskan wartawan untuk membentangkan jarak dari sumber beritanya, bebas dari prasangka dan tidak berat sebelah ketika menyajikan reportase. Empati Sacco kepada para penyintas membuat objektivitas dingin dan berjarak menjadi tidak memungkinkan untuk tampil.

Akan tetapi rekonstruksi masa lalu yang dilakukan Sacco menemui beberapa kesulitan, terutama ketika ia menggali lebih dalam tentang subjektivitas ingatan para penyintas yang dituturkan kepadanya. Dengan kata lain, berhadapan dengan begitu banyak narasi orang-orang yang dibangun dari ingatan, kekaburan memori menjadi masalah pelik.

Masalah semacam itu berkaitan erat dengan karakteristik wawancara. Pendek kata, sangat sulit menemukan seorang narator, para penyintas, yang cerita dan ingatannya bisa sangat diandalkan tanpa memerlukan proses klarifikasi lebih lanjut. Sacco memperlihatkan kesulitan tersebut melalui Catatan Kaki, dengan cara yang sangat baik.

Dalam sebuah bab berjudul ‘Kenangan dan Kenyataan’, misalnya, dusta sekaligus pengaburan ingatan ditunjukkan dengan baik melalui sosok seorang penyintas bernama Khamis. Sebagai seorang penyintas, Khamis ingat dengan baik tentang bagaimana ia lolos dari pembantaian dan bagaimana dia bersama keluarganya menyaksikan langsung adiknya, Subhi, mengalami kematian akibat luka tembak. Sacco menggambarkan dengan tegas tentang keyakinan Khamis bahwa dia menyaksikan adiknya meregang nyawa di ruangan rumahnya. Akan tetapi ibunda Khamis (Omm Nafez) memberikan kesaksian berbeda: anaknya itu justru tidak hadir ketika Subhi tewas.

Di sini ada “dusta” sekaligus “pengaburan” ingatan yang justru membuat narasi ingatan personal bertambah pelik. Siapa yang “berdusta”, siapa yang dengan sengaja melakukan “pengaburan” fakta-ingatan, menjadi tidak relevan lagi. Apa yang tersisa hanya benang kusut yang tidak bisa diurai oleh Sacco. Sang jurnalis cum komikus itu tidak memberikan jawaban yang tegas siapa di antara Omm Nafez atau Khamis yang paling benar. Tampaknya hanya ingatan tentang agoni dan rasa frustrasi paling gamblang, yang bisa ditunjukkan oleh Sacco kepada kita.

Rasa frustrasi dan agoni tergambar jelas ketika narasi jatuh pada sebuah bab berjudul “3 Nov 1956. Bag 1. Pusat Kota”. Sacco memvisualisasikan wajah-wajah ketakutan lelaki Khan Yunis menjelang pembunuhan massal. Tentara bengis dan wajah-wajah para korban yang ketakutan dicampur-adukkan menjadi satu, bersamaan dengan wajah-wajah perempuan yang menjerit dan hanya bisa pasrah setelah melihat orang-orang yang mereka cintai menjadi mayat yang dibariskan di dekat tembok. Semuanya itu divisualisasikan dan dinarasikan berdasarkan ingatan para penyintas dan para perempuan yang kehilangan suami dan anak-anaknya ketika tragedi terjadi. Di titik ini, Sacco menunjukkan empatinya kepada para penyintas dengan cara demikian pilu.

Akan tetapi setelah agoni dan rasa frustrasi habis diresapi oleh pembaca, apa lagi yang tersisa? Bila opini dan perasaan saya sepanjang membaca karya ini boleh dirangkum, Sacco tidak terlihat sedang menempatkan suara korban dan para penyintas sebagai mutlak benar adanya. Seringkali Sacco justru menempatkan korban dan keluarga, maupun para penyintas, sebagai orang-orang yang hanya bisa pasrah menerima apa yang terjadi pada mereka adalah kehendak pemberi hidup. Bagi orang yang terbiasa hidup normal, keputusan untuk menerima segala macam tragedi (yang paling pahit sekalipun) yang menimpa diri barangkali sulit dicerna.

Siapa yang tidak benci dan ingin menumpahkan kemarahan, sekaligus bersikap paling benar, ketika seseorang menjadi korban kebiadaban negara? Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang Palestina tidak memiliki kemarahan maupun kebencian kepada Israel. Apa yang mau saya katakan adalah di tengah tragedi aneksasi dan pengusiran yang terus terjadi di Palestina, ada sisi di mana bukan kemarahan maupun kebencian yang terus menerus ditonjolkan, melainkan rasa pasrah dan juga ketidakberdayaan; keduanya menjadi sesuatu yang ditonjolkan lewat Catatan Kaki.

Pada akhirnya, menikmati karya Sacco seperti menyesap sebuah adagium: bahwa apa yang terjadi di Palestina sekarang tidak akan bisa dipahami tanpa terlebih dahulu berbicara tentang masa lampau. Masa lampau itu bukan berada dalam laporan pendek PBB, melainkan ada di ingatan orang-orang yang tinggal di sana serta para penyintas tragedi Khan Yunis 1956.

Catatan Kaki dari Gaza tidak hanya patut ditempatkan dalam posisi sebagai karya jurnalistik dalam bentuk narasi visual-sekuensial (mungkin inilah cara tepat guna mendefinisikan apa itu jurnalisme komik). Dalam kadar tertentu karya ini juga bisa dianggap sebagai sumber pengetahuan sejarah. Walau mungkin tidak sepenuhnya tepat, jurnalisme komik yang dikerjakan Sacco dengan kemarahan meluap-luap bergerak sedemikian rupa, hingga cara kerjanya kurang lebih mirip dengan hasil kerja seorang sejarawan yang sedang berusaha menerapkan metode sejarah lisan. []


Pustaka:

Roosa, J., & Ratih, A. 2008. "Sejarah lisan di Indonesia dan kajian subjektivitas". Dalam Perspektif baru penulisan sejarah Indonesia. KITLV/Yayasan Obor Indonesia