Apakah Anda membaca berita dengan membuka langsung portal berita atau yang dibagikan melalui media sosial? Kalau menjawab yang kedua, Anda serupa dengan sebagian penduduk negara-negara di Asia Pasifik. Berdasarkan riset terbaru yang dirilis Reuters Institute, kecenderungan orang membaca berita melalui media sosial memang semakin tinggi.

Di Singapura dan Malaysia, lebih dari 25% responden yang diwawancarai menjadikan media sosial sebagai sumber utama dalam mengakses berita. Angka ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan di Inggris yang hanya 8% dan di Amerika Serikat 15%. Angka ini berbanding lurus dengan popularitas penggunaan telepon genggam yang jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan komputer dan tablet untuk mengakses berita.

Data riset Reuters Institute ini sendiri merupakan kombinasi dari data dalam Digital News Report 2016 yang dilakukan di 26 negara dan riset tambahan di 4 negara yaitu Hong Kong, Singapura, Taiwan, dan Malaysia. Direktur riset Reuters Institute Rasmus Kleis Nielsen menyebut riset ini menunjukkan hubungan antara perusahaan media dan platform teknologi seperti media sosial tidak saling meniadakan. Sebab sebelumnya banyak kekhawatiran bahwa media sosial akan menggantikan perusahaan media.

Dalam riset tersebut, media sosial sangat penting di Amerika Utara dan Eropa Barat, sementara perusahaan media juga tetap mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari publik. Tingkat kepercayaan yang tinggi ini melekat kepada perusahaan media alih-alih kepada akun-akun media sosial jurnalis.

Meski begitu ada catatan terkait tingkat kepercayaan yang berbeda-beda terhadap media ini. Di Hong Kong dan Singapura, publik masih sangat percaya kepada berita-berita media. Namun angkanya turun drastis di Taiwan, dan sebagian Malaysia, yang mulai tidak percaya kepada berita-berita yang dianggap penuh kepentingan.

Riset ini akan menarik jika dibandingkan dengan di Indonesia. Meski belum ada data yang spesifik sejauh apa media sosial digunakan sebagai medium untuk memperoleh berita. Namun riset terbaru dari Asosiasi Penyelenggaran Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis beberapa saat lalu setidaknya bisa menjadi petunjuk.

Dari data APJII, lebih dari 50% atau 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Dari angka tersebut 63,1 juta orang atau 47,6 persen mengakses dari telepon pintar. Hal ini menarik untuk dilihat lebih jauh jika melihat perilaku netizen yang selain berbagi berita-berita dari media arus utama, juga rentan terhadap berita-berita palsu. Pertanyannya, bagaimana mengatasi situasi tersebut? (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)