Diskusi tentang keberpihakan media di Indonesia terhadap politisi kerap mengeras ketika momen pemilihan umum kepala daerah maupun presiden datang. Pada 2014 misalnya, keberpihakan media bahkan berujung pada pemberitaan peristiwa yang sama dengan kesimpulan yang sama sekali berbeda. Dalam hasil hitung cepat yang dilakukan lembaga survey, Metro TV menunjukkan kemenangan bagi pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Sementara TV One punya hasil yang sebaliknya: Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa memenangkan Pemilu. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut bisa terjadi karena perbedaan afiliasi politik pemilik medianya.

Hal tersebut bukan rahasia lagi meski tidak ada deklarasi terbuka bahwa media-media tersebut mendukung calon tertentu. Yang agak berbeda justru ketika Jakarta Post memberikan dukungan secara terbuka kepada pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Dalam editorialnya yang bertajuk Endorsing Jokowi (4 Juli 2014), Jakarta Post menulis bahwa mereka merasa wajib menunjukkan dukungan secara terbuka kepada pasangan calon presiden-wakil presiden yang “menolak kolusi kekuasaan dan bisnis”.

Dalam kehidupan jurnalisme dan media di Indonesia pasca 1965, dukungan terbuka semacam ini adalah hal yang jarang. Karena itu banyak respon negatif terhadap apa yang dilakukan oleh Jakarta Post. Pertanyaannya, bagaimana dengan media yang tidak mendeklarasikan dukungan secara terbuka tapi berita-berita justru menunjukkan keberpihakan yang gamblang?

Untuk ini, kita bisa belajar dari pengalaman Amerika Serikat dan Inggris. Dalam tradisi jurnalisme di dua negara tersebut, dukungan terbuka dari media bukanlah hal tabu, bahkan menjadi sebuah kewajaran. Setiap menjelang hari pencoblosan, media-media secara terbuka mengumumkan kandidat yang akan mereka dukung melalui halaman editorial. Dalam pemilihan presiden Amerika Serikat di tahun 2012, misalnya, ada 76 media yang memberikan dukungan terbuka kepada dua kandidat yang berlaga saat itu.

Sebagaimana didokumentasikan oleh The American Presidency Project, jumlah tersebut terbagi menjadi dua yaitu 41 media (dengan total sirkulasi 10.014.980 eksemplar) memberikan dukungan kepada Barack Obama. Beberapa media tersebut antara lain New York Times, Washington Post, dan Boston Globe. Sementara itu 35 media (total sirkulasi 6.475.815 eksemplar), di antaranya adalah New York Post dan Daily News mendukung Mitt Romney.

Dalam pemilu 2015 di Inggris, media-media besar menggelar dukungan terbukanya terhadap partai yang mereka dukung. Media-media yang dalam tradisi politik Inggris disebut sebagai media sayap kanan seperti Daily Telegraph, Daily Mail, The Sun, dan London Evening Standard mendukung partai Konservatif. Sementara media-media dengan tradisi politik kiri seperti Mirror dan Guardian mendukung Partai Buruh.

Dukungan terbuka seperti yang dilakukan media-media di Amerika Serikat dan Inggris tersebut bukan hal baru karena telah berjalan selama puluhan tahun. New York Times pertama kali memberikan dukungan secara terbuka ini pada pemilihan presiden tahun 1860. Saat itu mereka mendukung Abraham Lincoln. Di pemilihan presiden tahun 2016, New York Times juga sudah mengumumkan secara terbuka bahwa mereka mendukung Hillary Clinton.

Yang perlu diperhatikan, dukungan dalam editorial media tidak secara otomatis membuat kualitas jurnalistiknya tetap terjaga. Ia hanya memberikan panduan bagi pembaca untuk melihat potensi bias berita yang muncul. Sebab, dukungan terbuka semacam ini tetap bisa berpotensi membuat liputan jurnalistik yang dipraktikkan menjadi tidak obyektif.

Hal ini sempat menjadi perdebatan di Inggris ketika tingkat partisan media yang begitu besar bisa mengacaukan kualitas jurnalisme. Pemimpin redaksi Spectator Andrew Neil menyebut bahwa dukungan yang kebablasan bisa membuat pemisahan antara berita dan opini hilang. Dalam kondisi semacam ini, jurnalisme kalah oleh kepentingan politik. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)