November 2014 lalu, majalah Rolling Stone menurunkan laporan reportase yang menggegerkan Amerika Serikat. Jackie—nama samaran—mahasiswi University of Virginia, diperkosa secara bergiliran oleh tujuh orang laki-laki di asrama fraternitas Phi Kappa Psi pada 28 September 2012.

Laporan bertajuk “A Rape on Campus: A Brutal Assault and Struggle for Justice at UVA” tersebut menyebar cepat. Kunjungan online laporan tersebut mencapai angka 2,7 juta, mencetak rekor kunjungan terbanyak artikel non-selebritis yang pernah terbit di lamanonline Rolling Stone. Penerbitan liputan itu mengundang perhatian banyak media pada kasus pemerkosaan tersebut. Akibatnya, University of Virginia melarang kegiatan fraternitas. Kepolisian Charlottesville pun melakukan penyidikan atas kasus tersebut.

Keraguan atas laporan reportase Rolling Stone muncul ketika Sabrina Rubin Erdely, wartawan Rolling Stone yang membuat liputan tersebut, diwawancarai oleh Slate.Wawancara ini mengindikasikan bahwa Erdely tidak melakukan wawancara dengan salah satu tertuduh pemerkosa. Sean Woods, penyunting naskah liputan tersebut, mengonfirmasi hal ini“Kami tidak bicara dengan mereka,” tuturnya pada Washington Post“Namun kami memverifikasi keberadaan mereka. Kami puas mengetahui orang-orang ini benar-benar ada.”

Kejanggalan-kejanggalan lain segera mengemuka. Berbagai kesaksian Jackie tidak bisa dikonfirmasi atau, setelah diverifikasi media lain, keliru. Hal ini membuat kredibilitas laporan tersebut dipertanyakan. Fakta-fakta baru itu membuat Erdely menyatakan keraguan atas sumber laporannya, Jackie. Will Dana, editor Rolling Stone, akhirnya mengeluarkan permintaan maaf pada publik pada 5 Desember 2014.

Tak hanya berhenti di situ, Rolling Stone mengambil langkah lebih jauh. Majalah tersebut meminta Steve Coll, pemenang penghargaan Pulitzer serta dekan Columbia School of Journalism, untuk menyelidiki kesalahan-kesalahan yang terjadi selama peliputan.

Pada 5 April 2015, hasil penyelidikan tersebut dipublikasikan secara penuh dalam lamanRolling Stonemenggantikan peliputan Erdely yang ditarik pada hari yang sama. Laporan Coll itu dideskripsikan sebagai sebuah produk jurnalistik “tentang kegagalan jurnalisme”.

Menurut Coll, terdapat kesalahan di semua level dalam peliputan tersebut dan menyebutRolling Stone telah “mengabaikan atau menganggap praktek-praktek esensial dalam jurnalisme tidak lagi diperlukan.”

Erdely sebenarnya mendapati sejumlah keganjilan ketika mewawancarai Jackie. Perempuan itu menolak untuk menyebutkan nama asli Drew, salah satu pemerkosa yang ia kenal dari tempat kerjanya di kolam renang kampus. Ia membujuk Jackie, namun menyerah karena takut perempuan itu menolak untuk diwawancarai sama sekali.

Erdely pun melewatkan tiga saksi kunci lainnya: teman-teman tempat Jackie mengadukan pemerkosaan yang ia alami. Menurutnya, ketiga temannya itu tidak mau membantunya melaporkan kasus tersebut dengan alasan takut tidak bisa diundang dalam acara pesta fraternitas lagi. Dalam penyelidikannya, Coll berhasil mewawancarai ketiga orang tersebut dan mendapati kesaksian yang berbeda tentang tanggapan ketiganya atas cerita Jackie.

Coll juga menunjukkan bahwa meskipun Jackie menolak memberikan identitas para pelaku pemerkosaan, masih ada berbagai cara lain untuk memverifikasi pernyataan Jackie melalui “petunjuk-petunjuk” dalam ceritanya. Namun, Erdely tidak melakukan itu dan malah menulis hanya berdasarkan pernyataan Jackie. Wood dan Dana, sebagai editor Rolling Stone, pun tidak cukup keras meminta Erdely untuk memverifikasi laporannya. Dana bahkan tidak mengetahui bahwa bagian-bagian tertentu dalam liputan tersebut belum diverifikasi.

Menurut Coll, salah satu area yang harus diperhatikan oleh jurnalis adalah “menyeimbangkan kepekaan terhadap korban dan tuntutan verifikasi”. Karena korban pelecehan seksual kerap mengalami trauma, jurnalis mesti menghargai otonomi korban. Namun, Woods menyadari bahwa, “Kami terlalu mengistimewakan sumber kami, memenuhi terlalu banyak permintaannya. Kami seharusnya lebih berani, dan dengan tidak melakukannya, kami malah merugikannya.”

Dalam laporan sepanjang 12.000 kata tersebut, Coll memberi tiga masukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Nama samaran. Penggunaan nama samaran adalah hal yang tidak diinginkan dalam jurnalisme, karena ia memasukkan unsur fiktif. Coll menyarankan untuk melarang penggunaan nama samaran sama sekali, atau membatasinya dengan sangat ketat.

Memeriksa informasi yang merugikan pihak lain. Erdely menelan mentah-mentah semua kesaksian Jackie tentang Drew dan ketiga temannya tanpa melakukan verifikasi atas hal-hal yang dikatakan Jackie tentang mereka. Ini adalah kesalahan fatal dalam jurnalisme.

Menghadapkan subjek pada detil cerita. Ketika mengonfirmasi asrama Phi Kappa Psi tentang tuduhan pemerkosaan oleh anggota fraternitasnya, Erdely melakukannya dengan hanya bertanya: “ada komentar?” Banyak kesalahan-kesalahan fakta dalam laporan tersebut bisa dihindari apabila Erdely melakukan konfirmasi secara detil. (REMOTIVI/Yovantra Arief)