Lulus dari jurusan Sastra Jawa tanpa punya memiliki banyak keahlian tentang Jawa membuat saya ragu untuk menjadi guru. Maka ketika ada lowongan di sebuah tabloid gaib dengan secepat kilat saya kirimkan surat lamaran. Dan semenjak saat itu perjalanan saya sebagai wartawan untuk sebuah tabloid gaib dimulai.

Tabloid tempat saya bekerja ini tidak selamanya memuat hal yang berbau gaib seperti tempat mencari pesugihan atau sosok penunggu tempat keramat. Sebab, tabloid ini juga memuat tulisan tentang sejarah, tradisi, adat, dan ritual-ritual di sejumlah tempat. Hanya saja dalam menulis tentang berita-berita itu redaktur kerap meminta saya agar sebisa mungkin menyelipkan hal-hal berbau gaib.

Suatu kali saya pernah diminta menulis tentang tempat keramat yang pernah dipakai Bung Karno bertapa. Isi berita yang saya tulis itu sama dengan wartawan umumnya. Sekitar 15 menit setelah berita itu dikirim redaktur saya menelpon.

“Tulisan yang kamu buat itu terlalu umum. Coba kamu cari sisi mistisnya. Untuk mencarinya kamu harus wawancara dengan orang yang sering bertapa di sana dan tanyakan apa keistimewaan tempat yang kamu tulis itu. Dan jangan lupa orang yang kamu wawancarai itu harus kamu potret, ya! Jika tidak bisa menemukan orang yang mau diwawancarai, kamu bisa mencobanya sendiri.”

Sialnya, para pelaku ritual kerap meminta jati dirinya dirahasiakan, jadi boro-boro mau dipotret. Saya jadi sulit menemukan narasumber. Akhirnya saya sendirilah yang melakukan ritual dengan dibimbing oleh seorang rekan sesama wartawan yang kebetulan nyambi menjadi “konsultan spiritual”.

Apa yang saya lihat dan rasakan selama ritual semuanya saya tuliskan. Dan ketika selesai menjadi sebuah tulisan yang lebih mirip pengalaman pribadi ketimbang berita, saya segera mengirimkan tulisan tersebut ke redaktur.

“Tulisanmu sudah saya terima. Sippp!” balas redaktur saya.

Saya gembira karena tulisan saya telah memenuhi kriteria redaksi. Namun saya kecewa ketika membaca tulisan tersebut setelah diterbitkan. Tulisan saya telah diacak-acak dengan seenaknya. Panjangnya pun dipangkas dari 1500 menjadi 600 kata. Sedihnya lagi, dari 600 kata ini pun semuanya ditulis ulang oleh redaktur dan yang dimuat hanya peristiwa mistis dan keangkeran tempat itu saja. Menyebalkan.

Di tabloid tempat saya bekerja ini, hal-hal yang berbau gaib memang diberikan porsi lebih banyak ketimbang berita tentang sejarah, tradisi, atau adat. Kalau soal per-gaib-an ini dikurangi, jumlah pembacanya akan berkurang.

Saya mengetahui kabar ini dari pihak pemasaran. Ketika rapat bulanan pihak pemasaran kerap meminta konten mengenai tempat keramat diperbanyak. Karena, edisi tabloid yang kerap laris di pasaran adalah edisi yang banyak mengulas tempat-tempat untuk mencari pesugihan, makam keramat, dan serangkaian peristiwa mistis lainnya. Salah satu edisi terlaris adalah ketika tabloid ini menayangkan berita tentang pernikahan manusia dengan peri di Ngawi dan pernikahan jin di Klaten beberapa tahun yang lalu.

***

Menjadi wartawan tabloid gaib ada banyak susahnya tetapi tidak sedikit juga senangnya. Susahnya adalah ketika mengorek keterangan dari narasumber tentang hal-hal gaib seperti pesugihan, penglarisan, atau perjodohan. Banyak narasumber, seperti juru kunci makam, yang memilih tutup mulut ketika ditanya, terutama terhadap mereka yang baru dikenal.

Karena itu, strategi saya untuk bisa dikenal adalah dengan sesering mungkin mendatangi dan menjalin komunikasi dengan juru kunci. Ketika mampir, saya sering pakai alasan sedang berziarah atau ingin tahu sejarah dari tempat yang dijaganya. Dari sini biasanya juru kunci akan merasa dekat dan setelahnya yang bersangkutan tidak keberatan untuk cerita tentang hal-hal gaib apa saja yang sering terjadi di tempat yang dijaganya.

Tapi cara ini tidak selalu manjur. Sebab, ada pula juru kunci yang baru mau bicara jika saya berkenan melakukan ritual tertentu. Suatu waktu saya pernah bertanya kepada seorang juru kunci sekaligus seorang paranormal mengenai sebuah tempat yang kerap dijadikan jujugan (tempat keramat) bagi mereka yang ingin mendapat kekayaan dan jodoh.

Sebut saja nama juru kunci ini Mbah Purwo. Ia lebih banyak diam dan kalau pun bicara hanya sekadarnya. Kabarnya, tempat ia jaga ini adalah salah satu tempat bertapanya para raja jaman dulu. Maka untuk menggali informasi saya meminta Mbah Purwo untuk menemani saya melakukan ritual di tempat tersebut.

Selang beberapa hari kemudian, di sebuah malam yang diyakini baik untuk melakukan ritual, saya dan Mbah Purwo menuju ke sebuah sendang yang dianggap keramat oleh masyarakat Jawa Tengah. Tengah malam saya diminta Mbah Purwo untuk kungkum di sendang itu, setelah sebelumnya saya diminta untuk berdoa tentang maksud dan tujuan saya ke tempat ini.

Kurang lebih setengah jam saya kungkum di sendang itu. Malam itu dinginnya bukan main. Sesekali Mbah Purwo menyenterkan lampu kecil dari ponselnya ke wajah saya. Barangkali ia ingin memastikan saya masih hidup dan tak mati kedinginan. Saya menggerutu dalam hati ketika dari dalam sendang saya melihat Mbah Purwo sedang makan mie rebus sembari menyeruput segelas jahe hangat.

Di lain kesempatan saya pernah diajak Mbah Purwo untuk melakukan penarikan pusaka di suatu daerah. Kebetulan saat itu kantor saya juga meminta untuk dibuatkan tulisan tentang hal itu.

Saya mengira untuk melakukan penarikan pusaka dibutuhkan ritual khusus dan wajib menyediakan sejumlah sesajen. Ternyata tidak semua penarikan pusaka membutuhkan hal-hal semacam itu. Seperti yang dilakukan Mbah Joyo, salah seorang rekan Mbah Purwo yang melakukan penarikan benda pusaka di sebuah makam keramat di daerah Karanganyar, Jawa Tengah.

Mbah Joyo hanya memejamkan mata, memposisikan tangan seperti orang yang sedang meditasi sambil komat-kamit membaca doa. Tak berselang lama, tak jauh dari tempat Mbah Joyo duduk, terdengar suara benda jatuh. Sebuah keris.

Mbah Joyo memperlihatkan keris itu kepada saya dan menjelaskan fungsinya. Usai memperlihatkannya, Mbah Joyo lantas menaruh keris kecil itu di tempat semula. Dan ajaibnya lagi, sesaat kemudian keris itu menghilang lagi.

“Biarkan keris itu di sini. Kalau diambil dan dibawa pulang kasihan warga yang tinggal di sini,” kata Mbah Joyo.

Saya hanya manggut-manggut kagum dengan keputusan Mbah Joyo. Sebab saya tahu keris itu meski ukurannya kecil tapi harganya lumayan.

Selama bekerja pengalaman yang tidak mungkin saya lupakan adalah saat saya wawancara dengan orang nyalawadi (misterius). Saat itu saya dengan seorang kawan sedang meliput sebuah lubang di tengah sungai yang biasa dipakai untuk ritual pada waktu sungai mengering di musim kemarau.

Meski siang hari, tapi suasana di tempat tersebut sungguh sepi. Mungkin karena tempatnya yang jauh dari permukiman penduduk. Lewatlah seorang laki-laki yang memanggul alat untuk mencari kroto. Kami tanya-tanya sebentar dan kemudian mengutarakan maksud untuk wawancara. Orang tersebut berkenan.

Usai wawancara kami bergegas pergi. Sekitar 10 langkah dari tempat wawancara kawan saya bertanya, “Namanya bapak tadi siapa?”

Pertanyaan kawan saya ini membuat saya menepuk jidat karena saya lupa menanyakan nama orang yang saya wawancarai tadi. Saya lalu menoleh ke belakang, mencari orang tersebut. Tapi ia tak ada di sana, hilang bak ditelan bumi. Seketika itu pula bulu kuduk saya berdiri.

Bro, jangan-jangan orang tadi…,” tanya teman saya.

Saya hanya diam dan enggan menjawabnya.