Jurus Anti-Khilaf Belanja Online
Bangku belakang

Jurus Anti-Khilaf Belanja Online

Kalau ada cara sulit berbelanja, kenapa harus dipermudah. Sebuah tips terhindar dari godaan kalap belanja online.

OLEH: Saqib Fardan Ahmada

Membeli baju baru di zaman dulu setidaknya jadi momen sekali setahun saat Lebaran, mirip seperti lagu “Baju Baru” Dhea Ananda. Pasalnya, dengan mengkhususkan di momen tersebut, selain lebih hemat juga demi membuat saya lebih menghargai apa yang sudah dibeli.

Tradisi ini tentu saja tak bertahan lama. Seiring pesatnya teknologi dan kemudahan berbelanja online, kebiasaan “sakral” ini tak lagi diawetkan. Saya termasuk yang menyesuaikan diri dengan kemajuan berbelanja online ini. Untungnya saya tak pernah tergelincir sebagai pecandu, kendati gempuran diskon, gratis ongkir, flash sale, 12-12 datang dari pelbagai penjuru e-commerce.

Kuncinya mudah: bikin belanja online jadi sulit. Jangan terbalik ya, “Kalau ada yang sulit, kenapa pilih yang mudah.” Kedengarannya tak masuk akal tapi ini betul-betul ditulis oleh James Clear di buku “Atomic Habits”. Sesuai dengan namanya, aturan “menjadikannya sulit” dimaksudkan untuk menghindarkan seseorang dari kebiasaan buruk sekecil apapun (atomic habits). Ketika belanja online yang idealnya adalah kegiatan mudah tapi justru jadi terasa sulit, maka otomatis kita akan cenderung menghindarinya.

Contohnya begini, beberapa waktu lalu saya ingin membeli sepatu untuk kebutuhan bulu tangkis. Sudah lama saya mengincar satu sepatu merek lokal seharga Rp400 ribu di e-commerce. Kendati sepatu itu sebenarnya lebih pas dipakai untuk lari, alih-alih bulu tangkis, saya kukuh ingin membelinya. Saya segera check out dari keranjang dan berencana membayarnya keesokan hari di Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Sebagai penganut “menjadikannya sulit”, niat kuat saya tersebut terbantu dengan upaya  untuk tak mengaktifkan layanan M-Banking di ponsel dan selalu bertransaksi lewat ATM. Saya memang sengaja tak melakukannya demi mengantisipasi momen-momen keras kepala seperti ini. Ternyata menunda semalam membuat saya bisa membeli waktu untuk berpikir ulang soal urgensi sepatu itu. Setelah merenung lama, saya memilih untuk membeli sepatu Kodachi seharga Rp85 ribu yang memang spesifik untuk bulu tangkis.

Tentu saja ada banyak cara mengerem hasrat belanja online dengan jurus sakti “menjadikannya sulit”. Caranya beragam, tak mengaktifkan M-Banking adalah salah satu jalan. Bisa pula dengan menyimpan uang sesuai pos-pos dana yang sekarang disediakan banyak oleh aplikasi online. Jadi kita tak bisa sembarangan mengambil uang dari pos yang sudah dianggarkan untuk kebutuhan lain. Contoh ekstrem yang lain, titipkan uang ke bapak atau ibu yang galak, yang bahkan meminta uang itu untuk membayar belanja online saja sudah bikin malas bukan kepalang. Masih kurang ekstrem? Cobalah untuk tak memasang (uninstall) akun-akun e-commerce atau media sosial yang kerap menawarkan promosi dari toko-toko online. Ya namanya juga menjadikannya sulit, melakukan jurus-jurus ini tentu tak mudah, butuh pengorbanan. Namun, itu sebanding dengan kepuasan saat bisa mengontrol kecanduan belanja online. Selamat mencoba! Hehe



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura