Gagal Cantik
Bangku belakang

Gagal Cantik

Aku menyerah mengikuti beauty influencer di tengah pandemi.

OLEH: MW. Telaumbanua

Seorang perempuan biasa. Temui penulis @mesra_telaumbanua

Banyak orang yang berkata bahwa aku cukup cuek terhadap penampilan. Aku sendiri mengakui hal itu. Lantaran cuma bermodal foundation yang di atasnya ditaburi bedak bayi serta sedikit polesan lipstik yang kadang malah tidak tampak, aku sering terlihat sangat kusam ketika berada di antara teman-teman perempuan. 

Ketiadaan makeup di wajahku sebenarnya disebabkan banyak faktor. fAku sendiri tidak mahir menggunakan produk-produk kecantikan. Belum lagi biaya peralatan dan perlengkapan kecantikan itu cukup mahal. Aku belum rela mengeluarkan banyak anggaran hanya untuk produk kecantikan. Untuk itulah, aku lebih memilih jalan menjadi seorang yang tidak mau menggunakan produk-produk kecantikan. 

Meski begitu, aku bukan seorang yang anti terhadap perempuan-perempuan yang memiliki kecenderungan untuk selalu menghias wajah. Aku sendiri menaruh kagum pada kelihaian mereka yang begitu mahir menggunakan produk kecantikan. Siapa yang berani menolak mengakui keindahan wajah-wajah mereka?

Semua berubah ketika aku mulai mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang kulakoni memang tak secara eksplisit mengharuskanku menggunakan seperangkat produk kecantikan lengkap. Tapi pekerjaan ini mengharuskanku untuk berpenampilan rapi, sopan, dan menarik. 

Sejauh ini, aku memang belum pernah mendapat teguran langsung soal penampilanku. Namun, perasaan minder mendadak timbul ketika aku harus bertemu dengan rekan kerja perempuan lainnya. Makeup mereka tidak begitu cetar. Tapi, perpaduan kosmetik yang mereka pakai membuat mereka percaya diri sepanjang hari. Dari hasil pengamatanku selama kurang dari sebulan, diri dan wajah yang sudah terhias ternyata menambah banyak poin penting. Mereka mendapat rasa percaya diri yang tinggi dan memberikan kenyamanan kepada klien.

Dengan banyak pertimbangan, aku pun memutuskan untuk belajar menghias diri. Hal ini tidak bisa ditawar lagi. Media cukup membantuku untuk memberitahu apa yang diperlukan oleh seorang pemula. Sebelum mencari tutorial ber-makeup, aku mencari tahu jenis kulit dan wajahku dulu. Dari pencarian di internet, aku mengetahui kondisi wajahku. Kulit berwarna sawo matang, jenis kulit kombinasi, bibir kering berwarna gelap dan sebagainya. 

Aku tidak mengikuti satu-dua beauty influencer. Tutorial-tutorial makeup yang kucari di YouTube dan Google kusesuaikan dengan kondisi wajahku. “Tips makeup untuk kulit sawo matang”, “warna lipstik yang cocok untuk bibir wajah gelap”, “jenis foundation” dan sebagainya menjadi kata kunci pencarian. Jadi, bisa dibayangkan betapa randomnya guru kecantikanku.

Aku mulai mengeluarkan uang untuk membeli produk-produk yang mesti kugunakan itu. Sama seperti narasumber kecantikanku yang random, produk-produk kecantikan yang kubeli pun tidak berasal dari satu melainkan banyak brand! Aku bahkan membeli beberapa yang belum kutahu kegunaan dan cara pakainya.

Dengan tutorial makeup yang sudah kuunduh, aku mulai belajar menggunakan produk-produk kecantikan itu. Hasilnya jauh dari yang kubayangkan. Tips “makeup minimalis untuk pemula” yang kutonton tidak lantas membuat tanganku mahir menggunakan pensil alis atau gagang blush on. Aku berkali-kali menghapus sapuan alat-alat kosmetik yang sudah kuberikan di wajahku. Aku yang tidak berbakat atau aku yang tidak percaya diri, aku tak mengerti. Yang jelas, setelah hari ketiga aku menggunakan produk-produk kecantikan itu, aku kembali kepada konsumsi produk kecantikanku dulu yang ala kadarnya. Foundation, bedak tabur, lipstik.

Aku cukup menyayangkan uang yang sudah terlanjur kukeluarkan untuk membeli produk itu. Tapi, ya sudahlah. Pikiranku justru mencari cara lain untuk bisa tetap percaya diri di tempat kerja.

Ah, pandemi yang sedang terjadi memang membuatku ketakutan dan kesulitan. Tapi, ssttt, ada hal lain yang membuatku cukup bersyukur. Aku justru merasa bahwa pandemi telah menyelamatkan aku dari keharusan untuk ber-makeup. Pekerjaan-pekerjaan yang harus dikerjakan dari rumah serta keharusan untuk senantiasa menggunakan bermasker sedikit melegakanku. Saat ini, aku sedang berhenti untuk mencari tutorial penggunaan produk-produk kecantikan. Kurasa, hal yang paling tepat kutelusuri adalah bagaimana caranya berani keluar dari zona nyaman dan percaya diri (termasuk untuk menggunakan makeup). I'm so sorry, beauty influencers. Aku stop mengikuti kamu di tengah pandemi ini.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura