Mengenal Self-Love Usai Menonton Beauty Influencer
Bangku belakang

Mengenal Self-Love Usai Menonton Beauty Influencer

Beauty influencer membuatku tegak di hadapan pengalaman traumatis body shaming.

OLEH: Aulia Maghfiroh

Seorang feminis yang selalu menunjukkan brighter side di akun @firafiroh.

Cerita ini aku tulis berdasarkan pengalaman pribadiku. Aku seorang perempuan 25 tahun yang sekarang masih membangun kepercayaan diri. Ternyata membangun kepercayaan diri bukanlah hal yang mudah apalagi bila kamu pernah mengalami kejadian tak mengenakkan. Sejak SD sampai SMA, aku adalah korban bullying. Aku di-bully karena penampilan fisikku. Aku memiliki gigi yang besar, kulit gelap yang kusam, dan postur tubuh yang membungkuk karena skoliosis. Karena aku tidak memiliki kelebihan dalam hal fisik, aku berambisi memiliki kelebihan dalam hal “otak”. Aku menginginkan kepintaran. 

Saat di bangku SMA, aku terkenal sebagai salah satu siswa yang pintar. Tapi sayang, banyak yang membenciku karena aku tidak mau memberikan contekan ujian akhir sekolah kepada teman-teman sekelas. Buat apa aku memberikan mereka contekan kalau mereka selalu saja menghina fisikku. Akhirnya, ada suatu kejadian yang tidak pernah aku lupakan sampai saat ini. 

Aku berada di dalam sebuah geng yang terdiri dari delapan orang. Sebut saja nama mereka Mawar, Melati, Matahari, Lily, Kamboja, Daisy, dan Anggrek. Di antara kesemuanya, aku hanya dekat dengan Melati. Melati yang paling mengerti isi hatiku saat Mawar, Matahari, dan Kamboja menghujatku. 

Suatu hari, Matahari mengajak aku berkunjung ke tempat kos Daisy karena ingin mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Ternyata, mereka bukan ingin mengerjakan pekerjaan rumah bersama melainkan merundungku. Di kamar kos Daisy, Kamboja memarahiku dan menghinaku. Dia mengatakan bahwa aku tidak tahu diri dan dibenci banyak orang karena kesombonganku atas kepintaranku. Kemudian, Mawar menambahi. Mawar terkenal paling galak dan “nyablak”. Ia mengatakan bahwa aku sudah jelek, hitam, tidak tahu diri pula. Mawar mengatakan aku harus berkaca dan berubah jika ingin disenangi banyak orang. 

Aku menangis sejadi-jadinya. Kepercayaan diriku, yang pada saat itu mulai bangkit, runtuh. Saat kejadian tak ada yang membelaku, bahkan Melati. Semuanya diam kecuali Mawar, Matahari, dan Kamboja yang terus mengataiku harus berubah agar disenangi banyak orang. Akhirnya, aku memutuskan untuk mendengarkan kata-kata mereka. Aku memberikan contekan pada mereka dan berusaha menjadi “putih” seperti yang mereka sarankan. Ya, aku kehilangan jati diriku. Aku mengikuti kata mereka dan diterima walau kehadiranku saat pertemuan jarang dianggap. 

Meski sekarang aku sudah bekerja dan menyelesaikan kuliahku di jurusan Hubungan Internasional, luka di masa lalu itu masih bersisa. Ternyata, susah sekali membangun kepercayaan diri kembali. Aku terpuruk dan kerap merasa minder atas kemampuanku dan penampilan fisikku sampai akhirnya di usia 23 tahun, aku menonton YouTube dan mengikuti akun seorang beauty influencer bernama Rachel Goddard. 

Rachel Goddard bercerita mengenai kehidupannya di dalam video “Draw My Life”. Ia merupakan seseorang yang awalnya underprivileged dan fisiknya kerap dihina tapi tetap memiliki kepercayaan diri untuk menggapai impian. Aku suka kulit hitam Rachel Goddard karena sama dengan kulit hitamku. Aku suka postur muka Rachel Goddard karena sama dengan postur mukaku. Setelah melihat-lihat videonya, aku jadi lebih suka mengikuti video tutorial makeup-nya hingga video curhat time-nya. 

Di dalam video curhat time-nya, Rachel Goddard kerap membahas masalah insecurity, kesehatan mental, dan body shaming. Dari video Rachel Goddard, aku baru sadar bahwa aku telah mengalami body shaming yang menyebabkan aku mengalami insecurity hingga kehilangan kepercayaan diri. Karena kejadian itu telah terjadi bertahun-tahun lalu, tak dapat dipungkiri bahwa itu mengganggu kesehatan mentalku. Semenjak itu, banyak beauty influencer yang membahas masalah insecurity, body shaming, dan kesehatan mental agar kita lebih aware. 

Aku berterima kasih pada para beauty influencer yang mempromosikan nilai-nilai body positivity dan self-love, khususnya Rachel Goddard. Kini aku sadar bahwa aku harus bangga dengan ketidaksempurnaan diri dan bangkit untuk kembali membangun kepercayaan diri.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura