Kenapa Gue Harus Jadi si “Cantik”?
Bangku belakang

Kenapa Gue Harus Jadi si “Cantik”?

Dari cuek penampilan jadi mengkaji tentang kecantikan. Memaknai kecantikan merupakan sebuah perjalanan panjang.

OLEH: Safitri Era Globalisasi

Katanya kesan pertama itu penting banget. Tuntutan itu yang bikin gue sebagai perempuan biasa ini terancam. Setelah lulus dari bangku sekolah, gue termasuk orang yang cuek sama penampilan. Yang penting gue suka dan nyaman. 

Namun, realitas akhirnya menyadarkan gue bahwa nyaman menjadi diri sendiri itu tidak cukup. Awalnya, nyokap gue yang cerewet banget soal ini. Jadi perempuan harus feminin lah, harus kenal makeup lah, jangan pake baju item-item terus lah, harus pake bedak lah. Padahal, gue bukan entertainer yang harus memuaskan hasrat penonton. Gue mahasiswi yang cuma mau kuliah. Sebelum pergi kuliah, nyokap bakal maksa bedakin gue yang mana selalu gue tolak.

Minggu pertama perkuliahan, gue lebih excited menyandang status mahasiswa dibanding perempuan “cantik”. Tapi, rasa senang itu segera digantikan oleh rasa insecure ketika gue melihat mahasiswi-mahasiswi lain tampak “cantik”. Singkat cerita, gue mulai tertarik untuk tampil “cantik” seperti yang lain. Gue mulai memperhatikan gaya berpakaian dan wajah karena gue sadar penampilan gue rata-rata aja. 

Sekitar tahun 2014, gue juga mengikuti beauty influencers seperti Lizzie Parra, Nanda Arsyinta, Abel Cantika, dan masih banyak lagi. Hal inilah yang akhirnya mendorong gue untuk kursus makeup dan rajin beli makeup baru. Bahkan, temen-temen sering konsultasi ke gue soal makeup.

Ketertarikan gue terhadap dunia kecantikan akhirnya melampaui aktivitas mengikuti dan meniru tren kecantikan. Ketertarikan ini pula yang akhirnya mendorong gue meneliti soal budaya kecantikan, terutama representasi kecantikan dalam dunia beauty vlog untuk skripsi. Gue meneliti lima belas penonton beauty vloggers dari Bekasi. Hasilnya menarik: banyak responden yang masih percaya tentang inner beauty yang sering didengungkan para beauty vloggers tapi tidak bisa menjelaskan definisinya.

Gue sendiri juga tidak tahu apa itu inner beauty. Gue sadar bahwa ternyata gue masih belum paham dengan konsep kecantikan. Masih dengan pertanyaan yang sama, gue melanjutkan studi gue ke jenjang berikutnya. Di sini pertanyaan gue mulai mendapatkan titik cerah. Lewat karya Beauty Myth Naomi Wolf, gue belajar bagaimana standar dan mitos kecantikan itu terus direkonstruksi. Lewat feminisme, gue belajar bahwa menjadi perempuan juga berarti berjuang melawan konstruksi sosial gender. 

Dari sini gue belajar bahwa jati diri perempuan sangatlah kompleks dan memiliki fungsi ganda di mata masyarakat. Sebagai perempuan, tubuh kita tidak hanya dituntut untuk melaksanakan fungsi alaminya (kaki untuk berjalan, mata untuk melihat, dsb.) tapi juga dituntut untuk terlihat “cantik”. Ternyata, rasa insecure gue berasal dari fungsi ganda tadi. 

Ini yang akhirnya membuat gue melihat beauty vlog dengan cara yang berbeda. Gue mulai bijak dalam mengonsumsi produk-produk kecantikan. Gue juga mulai melihat beauty influencer sebagai sosok yang nyata, perempuan yang sama seperti gue. Gue mencoba berkenalan dengan mereka lewat personality karya mereka. Sekarang gue melihat mereka sebagai sosok yang mengedukasi dan empowering untuk banyak penonton, baik perempuan maupun laki-laki. 

Pengalaman dan perjalanan gue di dunia per-makeup-an yang diantarkan oleh teman-teman beauty influencer memberikan jawaban terhadap pertanyaan inner beauty. Ketika gue melihat beauty influencer, gue tidak hanya melihat kecantikan luar tapi juga kecantikan dalam mereka. Menjadi beauty influencer tak hanya sekedar harus berparas cantik tapi juga memiliki kepribadian dan pembawaan menarik. Bagaimana mereka membawakan konten mereka, bagaimana mereka merepresentasi diri mereka dalam vlog, bagaimana mereka “nyaman” dengan diri mereka, bagaimana perjalanan mereka menemukan cantik versi mereka, bagaimana mereka bisa bertahan dengan anxiety dan insecurity dan sebagainya. 

Menurut gue, inner beauty adalah faktor yang bikin mereka bisa menjadi influencer selain kemampuan makeup, fisik, dan skill komunikasi persuasif. Untuk sementara, cantik menurut gue itu bukan soal takdir maupun pilihan. Cantik menurut gue adalah hak semua orang, sesuatu yang bisa dicari dan ditemukan dalam diri sendiri melalui proses panjang. 

Gue memaknai kecantikan melebihi dari sekedar paras dan keterampilan. Tapi ini akhirnya menimbulkan pertanyaan baru. Kalau semua orang beauty, yang jadi beast-nya siapa?



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura