Pak dan Bu Dosen, Saya Izin Tidur Dulu, Ya
Bangku belakang

Pak dan Bu Dosen, Saya Izin Tidur Dulu, Ya

Ada seorang dosen senior yang meminta jadwal kuliah dia diganti karena matanya nggak kuat lagi memelototi monitor.

OLEH: Ditogama

Mahasiswa jurnalistik yang ingin CV-nya penuh

Saya adalah seorang mahasiswa semester 4 yang kampusnya ada di Depok. Bukan Depok yang itu, tapi Depok yang satu lagi, tepatnya di Sleman, Yogyakarta. 

Sudah lebih dari satu bulan saya terpaksa menjalankan perkuliahan secara daring. Kuliah di jurusan saya menggunakan media yang cukup beragam, mulai dari grup WhatsApp, Zoom, Google Meet, hingga YouTube.

Awalnya saya senang karena tidak perlu bangun pagi lagi untuk bersiap dan berangkat ke kampus. Namun, baru minggu pertama kuliah daring berjalan, rasanya saya ingin cepat-cepat menarik perkataan saya itu. Kuliah seperti ini membuat jam tidur saya tidak teratur, melakukan apa pun malas dan membuat saya nggak bisa bertemu teman-teman. Yang jelas, suasana saat ini berbeda 180 derajat dengan perkuliahan biasanya.

Agenda rutinnya: bangun tidur, cek grup WhatsApp, mengirim pesan “Selamat pagi, Pak/Bu. Siap menyimak materi hari ini” sebagai tanda check-in bahwa sudah hadir di kelas. Setelahnya? Entah scrolling media sosial atau kembali pulas. Dan terbangun kembali untuk mengirim pesan “Terima kasih, Pak/Bu. Sehat selalu semuanya”.

Pada salah satu mata kuliah yang menggunakan video, saya bertanya kepada salah seorang teman, “File PowerPoint dari Pak A sudah didapat belum?”. Lantas ia menjawab “Emang udah selesai ya kelasnya? Aku dari tadi tidur”. Wow.

Memang hal-hal di atas tidak selalu terjadi. Saya juga sering melontarkan pendapat maupun pertanyaan. Lewat kuliah daring ini, saya dan beberapa teman yang biasanya pasif di kelas, tiba-tiba jadi sering nyerocos. Ini bagus karena diskusi di kelas daring jadi lebih hidup.

Di balik itu semua, kuliah daring ini membuat saya terenyuh kepada dosen-dosen. Ada seorang dosen senior yang meminta jadwal kuliah dia diganti karena matanya nggak kuat lagi memelototi monitor.

Pada mata kuliah lainnya, tim pengajar mengajak seluruh mahasiswa untuk membuat wefie pada pertemuan terakhir, dan tiap orang diminta memegang kertas berisi tulisan ucapan selamat dan tetap senantiasa semangat. Lagi-lagi saya terenyuh.

Di saat banyak mahasiswa yang hanya check-in dan check-out di grup WhatsApp kelas, para dosen mencari cara untuk tetap membuat mahasiswa semangat belajar pada masa sulit ini. Di saat banyak mahasiswa tidak menyimak penjelasan dosen saat kuliah daring, para dosen tetap berusaha mempelajari cara menggunakan aplikasi-aplikasi, yang barangkali itu semua sebelumnya asing buat mereka.

Refleksi saya, teknologi media digital dapat menjadi jembatan antara mahasiswa dengan dosen dalam pendistribusian informasi. Selain bahwa teknologi media juga turut berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran dan kepedulian sosial pada masa pandemi.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Tower Borneo Kalibata City
RT.9/RW.4, Rawajati
Pancoran
South Jakarta City, Jakarta 12750

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura