Dua Minggu Diet Digital, Ujung-Ujungnya “Gagal”
Bangku belakang

Dua Minggu Diet Digital, Ujung-Ujungnya “Gagal”

Awalnya ada rasa lelah dan muak yang sulit dijelaskan ketika aku berselancar di Instagram.

OLEH: Farah Putrizeti

Farah masih dalam pencarian panjang untuk menemukan sesama pecinta buku yang cocok dijadikan teman diskusi. Menulis tentang buku di blog Far’s Books Space.

Aku pertama kali membaca buku Digital Minimalism sekitar dua bulan lalu. Persinggunganku dengan buku ini sendiri terjadi ketika aku tengah berada dalam hubungan tidak sehat dengan ponsel dan media digital secara umum.

Kesadaran bahwa hubunganku dengan media digital mulai bersifat destruktif muncul perlahan. Awalnya ada rasa lelah dan muak yang sulit dijelaskan ketika aku berselancar di Instagram. Perasaan ini juga setia menemani ketika aku memantau akun Twitter pribadi dalam frekuensi semakin tinggi dari hari ke hari.

Puncaknya adalah ketika aku bangkit dari tempat tidur—setelah berjam-jam menghabiskan waktu di Twitter–dan dihantam kesadaran bahwa satu hari sudah berlalu begitu saja. Aku belum menuntaskan apa yang harus dituntaskan hari itu. Aku pun mulai serius mencari solusi untuk masalah yang muncul perlahan dalam diam ini.

Metode diet digital yang dicanangkan dalam Digital Minimalism agaknya sesuai dengan tujuanku. Detoks digital ala Carl Newport, sang penulis buku, adalah kegiatan untuk meminimalisasi, membatasi, atau sedapatnya meniadakan interaksi dengan media digital selama tiga puluh hari.

Menurut Newport, interaksi minimal dalam selang waktu ini akan membuat kita bisa mundur sejenak dan lebih bijak dalam mengevaluasi hubungan diri sendiri dengan media digital yang sudah seperti kebutuhan pokok pada zaman sekarang. Kesadaran yang didapat dari hasil evaluasi inilah yang kemudian menjadi fondasi untuk membangun kembali hubungan sehat dengan media digital.

Argumen ini terdengar lumayan beralasan di telingaku. Aku pun beralih melakukan beragam kegiatan baru untuk mengisi waktu yang bisanya dilalui bersama ponsel. Mulai dari mengisi buku TTS, memulai sebuah bullet journal, bahkan sampai mengangsur baca buku-buku yang sudah tertumpuk menganggur selama berbulan-bulan.

Seperti yang sudah dibocorkan judul tulisan ini, percobaan kecilku tidak sepenuhnya berhasil. Kalau indikatornya adalah konsumsi minimum media digital selama satu bulan, aku memang boleh dibilang gagal.

Aku hanya sanggup bertahan dua minggu. Harus kuakui, dalam masa singkat itu muncul perasaan ringan yang sudah lama tidak singgah dalam benak. Mungkin perasaan inilah yang orang-orang maksud ketika mereka berkata bahwa “ignorance is a bliss”.

Di satu sisi, kegagalan ini adalah produk dari minimnya kontrol diri untuk mematuhi aturan yang aku buat sendiri. Di sisi lain, aku juga merasa percobaan kecilku bukan tanpa hasil. Dalam dua minggu menyenangkan itu, aku setidaknya berhasil membangun imunitas terhadap Instagram dan kebiasaan menonton film, video, atau serial TV secara maraton.

Namun satu hal yang masih sulit kutangkal adalah godaan Twitter yang masih sering membuat lupa waktu. Ironis memang kalau mengingat bahwa kesempatan untuk menulis pengalaman ini aku temukan lewat Twitter, media sosial yang susah payah ingin aku lepas belenggunya.

Pada akhirnya, cerita “gagal” ini menyadarkanku akan fakta bahwa diet digital adalah proses tidak berkesudahan. Media sosial sepertinya tidak akan lenyap dalam waktu dekat. Oleh karena itu, aku hanya bisa menerima kenyataan bahwa diet digital adalah satu dari berbagai tantangan yang harus kuhadapi setiap harinya.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura