Mendadak Minder Karena Instastory
Bangku belakang

Mendadak Minder Karena Instastory

Satu per satu teman-teman yang dahulu duduk di kelas perkuliahan yang sama mulai meraih pekerjaan dan pencapaiannya masing-masing. Mereka mengunggahnya di Instastory mereka.

OLEH: Aryanto Wijaya

Seorang editor dan alumni Jogja yang kini bekerja di Jakarta.

Tahun 2017 adalah tahun turbulensi dalam hidup saya. Setelah mengecap empat tahun di Jogja, tahun itu saya harus hijrah ke Jakarta. Di megapolitan ini saya mendapat pekerjaan sebagai seorang editor untuk sebuah organisasi non-profit. 

Awalnya, perpindahan ini terasa lancar-lancar saja. Saya menikmati pekerjaan dengan gaji yang diberikan tiap bulannya. Tidak besar, tetapi amat cukup untuk memenuhi kebutuhan pria lajang kala Itu. 

Tapi, setelah enam bulan, goncangan terasa semakin keras. Bukan karena tekanan di tempat kerja semakin berat, tetapi karena… Instagram Story. 

Satu per satu teman-teman yang dahulu duduk di kelas perkuliahan yang sama mulai meraih pekerjaan dan pencapaiannya masing-masing. Mereka mengunggahnya di Instastory mereka. Salah? Tentu tidak. 

Tapi, mengonsumsi itu setiap hari, setiap malam sepulang kerja lama-lama membuat saya jadi bertanya-tanya. Kok bisa ya mereka sekaya itu? Kok keren banget ya kerjaannya kayak begitu? Kok hebat banget bisa ketemu orang penting? Kok asyik banget bisa dikirim ke situ? Dan sederet pertanyaan kok-kok-kok lainnya yang tiada berujung. 

Strategi bersyukur dan berpikir positif pun saya keluarkan. 

Tapi, rasanya strategi itu tak cukup mampu menahan silaunya “keberhasilan” teman-teman yang muncul di Instastory. 

Akhirnya, langkah besar pun saya mulai. Per Juni 2017, saya memutuskan untuk absen dari jagad Instastory selama waktu yang tak ditentukan. Tapi saya tidak bikin pengumuman apapun mengenai rencana ini. Tahu-tahu menghilang saja dari lingkaran pink di atas apps Instagram. 

Sehari dua hari, terasa nyaman. 

Tapi, hari-hari setelahnya saat bertemu dengan teman-teman, saya jadi orang yang ketinggalan berita, jadi orang yang tak asyik diajak ghibah. 

“Eh, si itu kayaknya baru putus tau deh, kasian yaaa,” kata seorang teman. 

“Hah? Kok kalian tau sih?” saya mengernyit. 

“Ya tau lah, itu loh liat postingan storynya.” 

Jleb. Bagaimana bisa tahu wong saya sendiri absen sekian waktu dari jagad per-story-an itu. 

Kejadian itu sempat membuat saya ingin masuk kembali ke jagad Instastory. Tapi saya masih bergeming. Saya tidak ingin cepat-cepat kembali ke sana sebelum saya bisa memiliki pandangan yang kebal terhadap segala kesilauan di dunia Instastory. 

Setahun absen Instastory, lahir cara pandang baru 

Juni 2017 sampai setahun setelahnya saya betul-betul absen dari Instastory. Barulah di Juli 2018, ketika saya membeli ponsel anyar yang lebih mumpuni, saya memutuskan untuk kembali memasuki dunia itu. 

Selama setahun absen, saya memang merasa ketinggalan informasi. Tetapi, dalam hati saya merasa lebih nyaman karena tidak mudah terpancing oleh pencapaian-pencapaian orang lain. Namun, absen dari jagad Instastory agaknya tidak akan menjadi sebuah perjalanan apa-apa jika tidak dibarengi dengan niatan untuk membangun mindset yang menghargai pencapaian diri sendiri. 

Dalam puasa Instastory itu, saya belajar untuk memaknai bahwa pekerjaan saya adalah panggilan yang mulia. Kesuksesan pekerjaan tidak melulu diukur berdasarkan gaji dan ketenaran. Tetapi, bisa juga diukur berdasarkan dampak atau kepuasan emosional yang didapat. 

Sebagai editor, saya bisa memaknai suksesnya diri ini dari setiap tulisan yang menjadi lebih ciamik dan lebih mudah dipahami pembaca. Dan, ketika tulisan itu menyentuh hati para pembaca, tentu hati saya pun ikut terenyuh. 

Berangkat dari pemaknaan ini, saya berani untuk masuk kembali ke dalam jagad Instastory. 

Meski pernah dibuat minder olehnya, saya tidak mau jadi orang yang antipati terhadapnya. Dengan mindset yang baru, Instastory tak lagi jadi momok yang menakutkan, malah ia menjadi sebuah medium yang baik untuk saya membagikan cerita perjalanan saya, baik itu tentang pekerjaan, maupun keluyuran saya mencari cerita sejarah dan refleksi.



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura