Karena Teman Sibuk Main Hape, Aku Bikin Proyek Kampanye Diet Media
Bangku belakang

Karena Teman Sibuk Main Hape, Aku Bikin Proyek Kampanye Diet Media

Kesal karena temanmu sibuk dengan gawainya ketika bertemu, padahal untuk mencari waktu berkumpul susahnya bukan main

OLEH: Berliana Rizqy Andini

Seorang mahasiswi yang sedang sibuk menata mimpi. 

Twitter: @berlianarizqy
Instagram: @berlianarzqy

Cerita ini bermula ketika aku mengerjakan tugas kuliahku di jurusan Ilmu Komunikasi UPI Bandung. Ditugaskan untuk membuat proyek kampanye, aku dan teman sekelompokku mengambil tema mengenai diet penggunaan gawai ketika sedang berkumpul. Kami menamainya Disconnect To Connect.

Tema ini kami angkat karena pengalaman kami sendiri. Barangkali kalian yang membaca juga pernah merasakannya: kesal karena temanmu sibuk dengan gawainya ketika bertemu, padahal untuk mencari waktu berkumpul susahnya bukan main. Entah asyik update status atau foto-foto syantik untuk diunggah, mereka seolah lebih mementingkan mengabari netizen ketimbang menikmati momen bersama.

Untuk mengampanyekan pesan dari proyek ini, kami menggunakan YouTube dan Instagram serta aktivitas langsung di kafe. Pengalaman ini sangat berkesan dan menarik karena kami mengampanyekan diet penggunaan media namun juga melalui media. Kami harus membuat konten yang menarik dan mengumpulkan followers agar kampanye kami dapat diketahui banyak orang dan diterapkan pada keseharian mereka.

Harapan kami ketika mereka yang sedang berkumpul bersama orang-orang terdekat dan sibuk melihat layar ponsel setidaknya mereka akan membaca kampanye kami lalu segera mengangkat kepala mereka untuk menikmati momen yang sedang dialami.

Ini salah satu pesan dalam kampanye kami: “Jangan habiskan waktumu di dunia maya, karena nyatanya waktu yang kamu habiskan adalah waktu yang berjalan nyata”.

Ketika melakukan kampanye di sebuah kafe di Bandung, kami melakukannya dengan menyediakan permainan di atas meja pengunjung serta tempat untuk menumpuk gawai. Hal ini kami lakukan agar para pengunjung mengabaikan gawai mereka sejenak dan memilih menghabiskan waktu bersama orang terdekat dengan bermain bersama dan menikmati hidangan yang mereka pesan.

Hasilnya lumayan juga. Ada beberapa dari mereka yang menggunakan permainan yang kami sediakan. Atau setidaknya, mereka mengetahui kampanye kami ini. Ya, meskipun ada beberapa kelompok pengunjung yang tidak peduli dan tetap sibuk dengan gawai mereka.

Bahkan, ada satu kelompok besar yang sedang buka puasa bersama namun suasana amat sunyi dan jarang sekali ada obrolan di antara mereka. Semuanya asyik menunduk menatap layar gawai. Beberapa malah menatap kami dengan sinis saat diingatkan.

Dulu aku merasa bahwa media diciptakan untuk memudahkan kita salah satunya untuk berkomunikasi. Namun, berdasarkan pengalaman ini, aku jadi berefleksi: apakah media telah menjadi alat perusak komunikasi? Ataukah ini semata karena ketidakmampuan kita mengontrol media?



  • GLOSARIUM

  • INDEKS

  • Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kolega x MarkPlus Segitiga Emas Business Park, Jl. Prof. DR. Satrio, RT.4/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

kotaksurat@remotivi.or.id

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura

Pusat Kajian Media & Komunikasi

Kecuali dinyatakan berbeda, semua konten dalam situsweb ini menggunakan lisensi Creative Commons, CC-BY-NC. Keterangan lebih lanjut, lihat di sini.

Desain oleh: Ismi Ulfah
Pengembangan oleh: Ginanjar Seladipura