Berita olahraga makin banyak dibaca seiring dengan Olimpiade Tokyo 2020 yang baru usai. Apalagi dengan adanya prestasi ganda putri Indonesia yang menorehkan sejarah. Di tengah kabar gembira dari atlet ganda putri bulutangkis , warganet dibuat geram dengan serangkaian berita mengenai atlet perempuan bulutangkis yang muncul dari Viva.co.id.

Rangkaian berita seksis dengan judul provokatif seperti  “Wow, Pose Menantang Maharatu Bulutangkis, Pakai Bikini Bikin Ngilu” atau “Bikin Ngilu, Aksi Latihan Bidadari Bulutangkis Australia Pakai Bra” itu ditulis oleh jurnalis Ridho Permana.  Baik judul berita maupun isinya  diskriminatif terhadap perempuan, eksploitatif terhadap tubuh perempuan, menimbulkan kesan cabul dan tidak menghormati narasumber. 

Jika diperhatikan dengan kacamata kerja jurnalistik, judul-judul berita tersebut tampaknya melompati kode etik jurnalistik yang memagari kinerja jurnalis. Namun penentuan apakah Ridho Permana dan Viva.co.id melanggar kode etik dan sejauh mana pelanggaran itu, adalah ranah kerja Dewan Pers.

Yang harus dipertanyakan adalah bagaimana berita seksis bisa selalu diterbitkan. Kita semua tahu, Ridho Permana yang menjadi sasaran kemarahan warganet tidak bekerja seorang diri. Di dalam alur produksi berita pada umumnya, tugas bagi reporter akan datang dari hasil rapat redaksi. Setelah dia meliput dan menuliskannya, editor akan menyunting penggunaan kata, tanda baca dan lain sebagainya. Kemudian laporan tersebut akan diseleksi oleh redaktur untuk dipublikasikan. 

Tanpa bermaksud membela dan mengecilkan peran wartawan, Ridho Permana hanyalah  satu titik dalam alur tersebut. Dalam siklus produksi berita seksis yang sepertinya selalu berputar, kita harus menuntut kendali yang lebih besar, yaitu mempertanyakan pengambilan keputusan di ruang redaksi.

 

Tatapan Laki-Laki 

Viva.co.id dan Ridho Permana bukan satu-satunya yang memproduksi berita yang diskriminatif dan eksploitatif terhadap perempuan. Ada banyak judul berita lain memakai kata atau frasa yang menonjolkan “Perempuan Cantik”, “Tubuh Molek”,  hingga “Wanita Seksi.” Judul-judul itu bisa jadi muncul dari seorang jurnalis, editor, atau redaktur laki-laki heteroseksual. Berita tersebut diproduksi di “ruang” redaksi dengan cara pandang subjektif mata laki-laki heteroseksual terhadap perempuan. 

Cara pandang ini dianalisis oleh Laura Mulvey, seorang teoris film, dalam konsep male gaze atau tatapan laki-laki. Dalam esainya, Mulvey menunjukkan bagaimana tatapan laki-laki heteroseksual terhadap perempuan mengatur cara kerja film. Perempuan didandani sesuai skenario yang disusun laki-laki, disorot kamera yang dioperasikan laki-laki, dalam arahan sutradara yang juga laki-laki. Perempuan menjadi objek pasif yang-bisa-ditonton, sedangkan laki-laki adalah subjek aktif pembuat tontonan yang bekerja di “ruang” produksi gambar. 

Meminjam konsep male gaze Mulvey, mari kita lihat judul berita yang ditulis Ridho Permana di Viva.co.id. Ada simpulan senada, tatapan laki-laki turut mengatur cara kerja media massa. Pada kasus ini perempuan tidak didandani atau direkayasa sebagaimana pemain film, melainkan dibingkai menggunakan cara pandang laki-laki heteroseksual, yang dituangkan dalam narasi judul dan/atau badan berita. 

Pembingkaian itu berlangsung di “ruang” redaksi sebagai ruang produksi berita. Maka jika “ruang” redaksi didominasi kekuasaan laki-laki, berita yang dihasilkan rentan diwarnai tatapan laki-laki. 

Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di “ruang” redaksi sangat nyata. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada Maret 2020 menyampaikan laporan The International Women’s Media Foundation (IWMF) dari Global Report on the Status of Women in the News Media (2011): pada 522 perusahaan pers di seluruh dunia, hanya ada 33,3% jurnalis perempuan yang bekerja penuh. Posisi news gathering, reporter hingga penulis (editor) didominasi laki-laki hingga 64%, sedangkan perempuan hanya 36%. 

Keadaan itu tidak berubah dalam satu dekade. Seperti ditulis Konde.co yang merujuk pada penelitian dosen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, Nurul Hasfi, jumlah jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 2020 tidak lebih dari 25%. Artinya, ruang-ruang redaksi di Indonesia masih didominasi oleh laki-laki hingga hampir 80%. 

Lalu apa yang mempengaruhi keadaan tersebut?

Penelitian Yolanda Stellarosa tentang Perempuan, Media dan Profesi Jurnalis yang terbit di Jurnal Kajian Komunikasi edisi Juni 2019 menyebutkan dominasi jurnalis laki-laki hingga ke struktur keredaksian. Jurnalis perempuan masih sedikit yang berada di puncak struktur redaksi. Pemimpin redaksi di Indonesia kebanyakan adalah jurnalis laki-laki.

Hal itu terjadi karena berbagai diskriminasi terhadap jurnalis perempuan. Dalam hal itu, Yolanda mengecualikan soal penggajian, melainkan untuk tunjangan dan fasilitas pekerjaan. Misalnya, jurnalis perempuan yang berkeluarga biasanya tetap dianggap lajang sehingga tidak disediakan tunjangan untuk keluarganya. Terjadi penggolongan area liputan, dimana jurnalis perempuan ditempatkan pada bidang liputan yang tidak strategis untuk penilaian kinerja, karena dianggap sibuk dengan urusan domestik. Akibatnya jurnalis perempuan dianggap tidak mumpuni duduk di puncak struktur redaksi.

Budaya patriarki yang kental menyebabkan jurnalis perempuan menanggung beban ganda, beban pekerjaan sebagai jurnalis dan merawat keluarga. Sayangnya, narasi yang menyebut penanggungan beban ganda oleh perempuan itu sebuah kehebatan justru dilanggengkan media. 

Jurnalis perempuan jadi tak punya ruang gerak di antara kuasa laki-laki di “ruang” redaksi. Hal itu berujung pada lemahnya kontribusi jurnalis perempuan dalam produksi berita, hingga tatapan laki-laki (heteroseksual) terhadap perempuan dalam berita, bertebaran dimana-mana.

 

Kendali Kapital

“Secara hakiki, sejak kelahirannya pers adalah sebuah industri,” demikian ditulis Bagir Manan yang disampaikan lewat Konvensi Media Massa di Jambi, 8 Februari 2012, sehari sebelum peringatan Hari Pers Nasional. Sebagai Ketua Dewan Pers saat itu, Bagir Manan menengarai industrialisasi pers adalah keniscayaan, namun pers sebagai industri hadir dengan persoalan.

Ada klausa menarik dari tulisan Pak Bagir tersebut. Ia berkata “...sebagai industri, pers adalah suatu kegiatan ekonomi yang mencari laba (sebesar-besarnya).” Interpretasinya, pers beroperasi dengan sistem produksi di bawah kendali kapital. Kapital dipakai untuk memproduksi komoditas. Komoditas dijual menjadi uang yang mengandung laba seperti maksud Pak Bagir. Supaya bisnis berkelanjutan dan membesar, maka uang beserta laba harus kembali menjadi kapital, dan seterusnya tanpa henti.

Komoditas dalam industri pers adalah berita. Di sini, berita tidak dinilai berdasarkan kegunaannya sebagai sarana informasi, sumber pengetahuan, alat kontrol kekuasaan, atau sesuatu yang menghibur. Di sini, berita diukur dalam seberapa besar ia dapat dipertukarkan untuk mendatangkan laba. Pertukaran bisa melalui skema langsung (misalnya, berita dibeli pembaca), atau skema tidak langsung (misalnya, ruang informasi dibeli pengiklan). Agar keuntungan sebesar-besarnya datang, maka pers industri harus memproduksi berita bernilai tukar besar pula. 

Mari kita kembali ke “ruang” redaksi yang kebanyakan diisi laki-laki, di mana berita diproduksi tadi. Dominasi laki-laki bekerja memproduksi berita yang harus bernilai tukar besar.

Di “ruang” itulah tatapan laki-laki dan kendali kapital berkelindan. Perempuan, dalam tatapan laki-laki (heteroseksual) adalah tontonan menarik. Laki-laki itu jurnalis yang bekerja di bawah kendali kapital dengan tuntutan memproduksi berita menarik bernilai tukar besar. Dia lalu menggunakan subjektifitas ketertarikannya untuk menggali ceruk untuk mengumpulkan audiens dengan ketertarikan yang sama. 

Pada ceruk itulah berita sebagai komoditas dipertukarkan hingga bertransformasi menjadi uang. Secara bersamaan di dalam ceruk itu, perempuan yang diberitakan menjadi komoditas yang turut dipertukarkan. 

Tidak berhenti di situ. Saat berita ada di tangan pembaca, perempuan yang diberitakan kembali menjadi objek tontonan. Dalam konteks ini perempuan mengalami dua lapis objektifikasi. Pertama, sebagai objek yang dibingkai di “ruang” redaksi. Kedua, sebagai objek tontonan mata kepala pembaca.

Dalam siklus produksi berita, jurnalis sebagai buruh mengolah data dan informasi menggunakan alat-alat produksi yang dibeli pemodal media, untuk menciptakan nilai dalam berita yang bisa dipertukarkan. Laba datang dari nilai lebih yang dihasilkan jurnalis, dalam berita yang telah bertransformasi menjadi uang.

Untuk mendapat laba sebanyak-banyaknya, seperti kata Pak Bagir, maka jurnalis harus menghasilkan nilai lebih sebanyak-banyaknya pula. Bisa ditempuh di antaranya dengan; memproduksi lebih banyak berita dalam waktu kerja yang sama; menambah waktu kerja; atau membuat ceruk yang mendatangkan banyak untuk menarik pengiklan. 

Nilai guna atau kegunaan sebuah berita bagi pembaca, boleh dikatakan, tidak dipertimbangkan di sini. Pagar kerja yang dipakai adalah keterbacaan berita yang mentransformasi nilai tukar berita, alih-alih kode etik jurnalistik. Karena itu, muncullah berita-berita seperti yang ditulis Ridho Permana di Viva.co.id.

Tampaknya Viva.co.id menghapus berita tersebut setelah deraan kemarahan publik. Tapi coba lihat, masih banyak berita lain yang serupa. Dan coba nantikan, akan muncul berita lain lagi yang serupa pula. Oleh sebab, kelindan tatapan laki-laki dan kendali kapital itu terus berkelanjutan.