Awal tahun 2021 menjadi hari-hari sibuk bagi dunia jurnalisme, baik itu pada level televisi nasional hingga kanal-kanal YouTube amatiran. Dengan tragedi beruntun dari jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182, runtutan bencana alam yakni banjir besar di Kalimantan Selatan, gempa di Majene-Mamuju, insiden tanah longsor dan gunung meletus, semua media bersaing menonjolkan headline yang paling menarik perhatian. 

Sayangnya, media mengulang lagu klise dan usang yang pekik di telinga: mereka berlomba-lomba meliput kisah paling menarik dan menggigit tanpa mengindahkan dampak yang dihasilkannya.

Ketika Sriwijaya Air SJ182 pertama kali hilang kontak pada Sabtu siang (9/1/2021), semua berita bersuara dalam intonasi yang kronologis dan teknis: jalur penerbangan, spesifikasi pesawat, hingga dugaan titik jatuh. Di hari-hari selanjutnya, berita-berita dengan aroma human interest mulai terendus di antara liputan investigatif.  Di sela update tentang proses pencarian badan pesawat dan kesaksian warga lokal, terdengar juga berita seperti profil sang pilot yang ternyata taat beragama serta identitas beberapa penumpang serta latar belakang kehidupan mereka.

Setelah semingguan berlalu, pemberitaan semacam dilakukan oleh banyak media. Konten berita nyentrik dengan judul yang tak kalah bombastis berhamburan. Misal, kisah bagaimana baju sang pilot lupa disetrika oleh istrinya. Cerita Instastory terakhir salah seorang pramugari. Ada pula yang mengompilasi kisah-kisah paling tragis kecelakaan ini

Liputan bencana alam tak kalah sensasionalnya. Terkait kasus gempa di Majene-Mamuju (14/1/2021), misal. Salah satu berita tentang usaha penyelamatan korban diisi dengan cuplikan video seorang gadis cilik yang tertimbun puing-puing bangunan. Tubuh sang gadis yang abu-abu dan menderita diperlihatkan dengan jelas. Hal seperti ini justru menambah luka mental dengan menyebarluaskan pengalaman traumatik korban ke ranah publik. 

***

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, menegaskan bahwa media punya peran penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga terhadap potensi bencana yang mendatang. Mengutip kata-kata beliau, “informasi hendaknya tidak membuat risau tetapi semakin [membuat] masyarakat tahu dan sadar, sehingga kita bisa saling mengingatkan dan mengontrol. Ini dalam [upaya] meminimalkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian.”

Selain itu, Prajarto (2008) menjabarkan bahwa peran media lebih dari sekedar melaporkan peristiwa bencana. Ia menuliskan, “keterlibatan media juga meluas dalam posisinya sebagai pelapor peristiwa dengan penggalangan bantuan, penyaluran bantuan baik langsung maupun tidak langsung, serta memonitor transparansi dan upaya agar terbebas dari pengorupan bantuan.”

Peliputan bencana yang baik dapat menginformasikan kepada publik bukan hanya kronologi melainkan juga proses ilmiah di balik sebuah peristiwa (entah itu letusan gunung api atau kendala teknis moda transportasi), pihak yang menangani, proses mitigasi dan penanggulangan serta utamanya, kepada siapa publik bisa menyalurkan bantuan. Media punya peran menyebarluaskan edukasi dan meresonansikan empati. Dalam skenario yang sempurna, publik jadi tahu apa yang perlu mereka mengerti dan dengan cara apa mereka dapat membantu.

Sebagai contoh, laman Tempo meliput tragedi Pesawat Sriwijaya Air SJ182 dengan baik. Dari barisan headline beritanya, kita bisa melihat di mana Tempo berdiri. Fokusnya tertuju pada hal-hal yang informatif seperti update pencarian korban, analisis kendala teknis yang terjadi saat penerbangan, hingga dialog antara pemerintah, maskapai, dan para keluarga korban.

Dalam proses penyampaian ini, berita-berita human interest punya fungsi yang penting. Dia adalah instrumen untuk meraih perhatian publik. Ini karena mereka terhubung dengan sifat alami manusia yang juga membutuhkan informasi emosional untuk bertahan hidup (Davis dan McLeod, 2003). Tubuh kita memang didesain untuk lebih mudah menangkap berita cerita daripada berita data. Dengan meraih emosi publik, peran media di atas dapat dilaksanakan lebih efektif.

Namun, dalam kadar yang berlebihan, berita-berita ini justru mengalihkan fokus publik. Kembali ke contoh tragedi Sriwijaya Air SJ182. Yang jadi ramai dalam pencarian kata kunci “pesawat jatuh” adalah berbagai rekaman terakhir kehidupan korban, betapa sedihnya keluarga yang ditinggalkan, hingga doa-doa aktor dan artis yang tidak relevan. Tak lupa, tidak lengkap rasanya kalau media tidak ditaburi dengan ramalan para ahli nujum abad ke-21. Informasi-informasi krusial tenggelam dalam lautan sensasi dan berita kita berubah menjadi sinetron petang hari.

Masalah ini bukan hanya mengganggu. Dalam magnitudo yang lebih besar, dia bisa jadi fatal. Abrar (2008) mencontohkan dengan studi kasusnya terhadap pemberitaan tsunami Aceh 2004 dan gempa Yogyakarta 2006. Hausnya stasiun televisi terhadap peliputan tsunami Aceh 2004 memupuk refleks publik untuk selalu menghubungkan gempa pesisir dengan tsunami. Pada gempa Yogyakarta 2006, fobia bawah sadar ini meluap. Timbul isu kalau tsunami pascagempa akan menyapu seluruh Kota Yogyakarta. Kepanikan meruyak. Momen yang seharusnya jadi langkah penanggulangan awal bencana berubah jadi histeria massal. Sementara itu, tsunami yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi.

Lebih ironis lagi, fatalitas ini malah bisa menyerang korban bencana. Pada contoh rekaman korban gempa Majene-Mamuju, media justru berpotensi menorehkan second wound dengan menyebarluaskan pengalaman traumatik sebagai sarapan publik. Padahal, Kode Etik Jurnalistik Pasal 2e secara jelas menegaskan media untuk “menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara”. Jurnalisme media tak berarah dan menjadi bahaya bagi orang-orang yang ingin diselamatkannya.

***

Dengan semua ini, kita jadi bertanya-tanya, sebenarnya media menempatkan dirinya sebagai apa? Apakah dia benar-benar mendampingi proses mitigasi dan penanggulangan? Atau mereka sebenarnya ingin membantu tapi tidak tahu bagaimana caranya? Atau mereka hanya entitas bisnis yang merayakan tragedi sebagai segepok cuan?

Barangkali salah satu cara menerawang kualitas suatu badan jurnalistik adalah dengan melihat bagaimana mereka meliput bencana. Ini karena bencana adalah topik yang sarat ancaman layaknya perang (Sabir dan Phil, 2016) dan otomatis menjadi pusat perhatian orang. Oleh karena itu, dia sangat rawan terhadap geliat sensasionalisme jurnalisme yang tidak bertanggung jawab.

Jurnalisme yang berakal budi dan berkemanusiaan tinggi tidak akan pernah berani masuk ke dalam zona merah ini. Namun, mereka juga sadar kalau berita human interest punya perannya sendiri. Mereka mengerti etika pemanfaatan emosi untuk membantu proses pemulihan bencana. Mereka paham bagaimana cara gelombang empati merambat di media. Tubuh peliputan mereka rapi dan suara mereka menenangkan.

Sayangnya, ketimbang duduk manis mendengarkan liputan profesional, kita lebih senang mengikuti semarak festival berita-berita sensasional.



Abrar, A.N., 2008, “Memberdayakan Masyarakat Lewat Penyiaran Berita Bencana Alam”, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 11(3):379-396. https://jurnal.ugm.ac.id/jsp/article/view/10993.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2019. Media Massa Berperan Tingkatkan Pemahaman dan Kesiapsiagaan Masyarakat. Diakses dari https://bnpb.go.id/berita/media-massa-berperan-tingkatkan-pemahaman-dan-kesiapsiagaan-masyarakat.

Davis, H. dan McLeod S.L., 2003, “Why humans value sensational news. An evolutionary perspective”, Evolution and Human Behavior, 24:208-216. https://doi.org/10.1016/S1090-5138(03)00012-6.

McMahon, C., Ricketson, M., Tippet, G., 2014, Ethical Reporting on Traumatised People. Diakses dari https://dartcenter.org/content/dvd-launched-ethical-reporting-people-affected-by-trauma pada 21 Januari 2021.

Prajarto, N., 2008, “Bencana, Informasi dan Keterlibatan Media”, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 11(3):287-306. https://jurnal.ugm.ac.id/jsp/article/view/10989.

Sabir, A dan Phil, M., 2016, “Gambaran Umum Persepsi Masyarakat terhadap Bencana di Indonesia”, Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, 5(3):304-326. https://media.neliti.com/media/publications/237547-gambaran-umum-persepsi-masyarakat-terhad-501404e6.pdf.