Deddy Corbuzier, Young Lex, dan Jerinx adalah tiga selebritas yang terang terangan mengatakan bahwa wabah Corona merupakan sebuah konspirasi. Ketiganya percaya adanya pihak yang menciptakan grand design dan mendapat keuntungan dari kekacauan beberapa bulan ini: bahwa vaksin adalah produk ciptaan manusia, redistribusi kekayaan dengan adanya krisis ekonomi akibat Corona, hingga pengerukan keuntungan dari vaksin yang akan dibuat. Jerinx bahkan secara vulgar mengatakan media menyembunyikan kenyataan, bahwa wabah Corona tidak semematikan dan semenyeramkan itu.

Teori konspirasi juga berkembang di berbagai belahan dunia, dengan narasi yang beragam pula.  Di Amerika misalnya, berkembang teori bahwa Covid-19 berasal dari laboraturium biologi yang bocor di Wuhan, China. Sebaliknya, otoritas China meyakini dan bahkan sempat menyatakan secara terbuka bahwa Covid-19 merupakan virus yang direkayasa di Amerika.

Di sepanjang sejarah, pandemi memang jadi ladang subur bagi teori konspirasi, dengan ditopang berbagai konteks sosial-politik. Mundur jauh ke belakang, ketika wabah hitam merebak pada abad ke-14, orang-orang Yahudi jadi kambing hitam. Mereka dituduh meracuni sumur warga. Ujungnya, cerita ini turut berkontribusi pada pembantaian ribuan warga Yahudi di kota-kota besar Eropa pada periode tersebut (Gottfried, 2008).

Lebih dari satu abad yang lalu, pada tahun 1908, Flu Spanyol menghantam keras Amerika Serikat di tengah Perang Dunia pertama. Ketika itu muncul teori konspirasi yang menuding bahwa kapal selam Jerman telah menyebarkan virus tersebut di Amerika.

Kenapa teori konspirasi bisa begitu kuat menjangkiti kita dan apa andil media?

 

Budaya Paranoia Media

Ada banyak teori konspirasi yang berkembang di Indonesia. Bahkan kita mesti mengakui bahwa salah satu momen sejarah besar Indonesia dibangun di atas teori konspirasi yang menempatkan Partai Komunis Indonesia sebagai dalang utama dan satu-satunya atas kudeta gagal pada 1965. Teori ini menghilangkan ratusan ribu jiwa manusia dan disebarkan dalam berbagai bentuk medium oleh pemerintahan Orde Baru, hingga menjadi narasi hegemonik yang diyakini oleh banyak orang (Anderson & McVey, 2009; Roosa, 2006).

Soeharto menggunakan Departemen Penerangan sebagai mesin yang menyebarkan narasi pemberontakan “G30S/PKI”. Departemen Penerangan pada periode Orde Baru memiliki kendali untuk melakukan kontrol dan sensor terhadap konten media. Departemen Penerangan bahkan memiliki hak untuk membredel suatu media apabila membangkang dari narasi tunggal Orde Baru (Dhakidae, 2003). Hal ini berarti teori konspirasi didukung dan terlembagakan dalam institusi negara.

Salah satu kunci keberhasilan Soeharto dan Orde Barunya dalam menyulap teori konspirasi menjadi “kebenaran” adalah media. Media, di bawah Orde Baru, bertanggungjawab dalam menyebarkan dan meyakinkan masyarakat akan kebenaran teori ini. Hal yang membuat membuat dirinya dapat mempertahankan rezim Orde Baru dan menjadi Presiden Indonesia selama puluhan tahun.

Pasca tumbangnya Orde Baru, kontrol atas media dan narasi tunggal perlahan pupus (Sen & Hill, 2012). Keberadaan internet yang menghubungkan masyarakat Indonesia dengan masyarakat global juga menjadi pupuk yang menyuburkan teori konspirasi hasil dari kawin silang dengan budaya luar.

Modernisasi telah menyeret masyarakat di berbagai negara Barat ke dalam budaya paranoia (Melley, 2000). Budaya ini menjadi fondasi dari berbagai teori konspirasi, seperti “New World Order”, konspirasi di belakang kematian Putri Diana, Osama Bin Laden, serangan 11 September, dan lain sebagainya.

Di Amerika Serikat, berbeda dari Indonesia, institusi negara tidak mengambil peran utama dalam mengembangkan teori konspirasi. Setelah terjadinya skandal politik di Amerika, seperti Watergate atau operasi hitam CIA, industri hiburan lah yang berperan dalam menanamkan budaya paranoia dalam benak masyarakat Amerika.

Skandal ini menginspirasi munculnya film-film “thriller paranoia”, seperti All the President’s Men (1967), The Parallax View (1974) dan Three Days of the Condor (1974). Narasi ini terus direproduksi dalam genre yang lebih luas, seperti serial The Matrix dan Da Vinci Code. Televisi juga ikut merayakan budaya paranoid ini dengan serial populer seperti X-Files, 24, dan Profiler.

Reproduksi paranoia dalam produk budaya populer ini berimplikasi pada pengaburan antara fakta dan fiksi, kenyataan dan rekaan, menjadi bagian dari proses membudayakan konspirasi (Aupers, 2012).

Produk film dan televisi Amerika Serikat ini juga menjadi konsumsi masyarakat Indonesia, dengan pemutaran di bioskop dan televisi, dan menjadi horizon kita juga. Budaya paranoia dan teori konspirasi yang dibawa oleh produk-produk ini melatih kita untuk menjadi skeptisis berlebihan terhadap realitas yang kita jalani.

Budaya media ini juga diperparah dengan lemahnya kemampuan berpikir analitis warga Indonesia, serta berbagai ideologi yang mengendap seperti rasisme, atau fasisme keagamaan. Hal inilah yang jadi latar bagi suburnya teori konspirasi yang menyuarakan bahwa Yahudi adalah pengendali dunia, atau Syiah yang ingin menggembosi Islam secara sistematis.

 

 

Anti-Sains sebagai Konspirasi dan Bagaimana Kita Melawannya

Pada dasarnya, teori konspirasi memiliki persamaan dengan kreasionisme, yang meyakini bahwa alam semesta, Bumi, kehidupan, dan manusia, berasal dari dorongan supernatural dari ciptaan ilahi. Dalam kreasionisme, ketika terjadi bencana, kita akan menuding dewa-dewa, keusilan setan, atau skenario iblis sebagai penyebabnya.

Sementara penganut teori konspirasi membangun cerita untuk menjelaskan peristiwa yang mengancam, dan menunjuk pihak yang bertanggungjawab atasnya. Karena hal ini, Karl Popper, seorang filsuf analitik, menyatakan bahwa teori konspirasi pada dasarnya adalah versi sekuler dan modern dari kepercayaan terhadap agama (Popper, 2013).

Layaknya mereka yang mendaku beriman, pendukung teori konspirasi berupaya mengaitkan klaim mereka dengan argumen saintifik yang setengah-setengah. Menjadi sangat masuk akal bila warga Indonesia, dengan cara pandang relijius-spiritual yang kental, akan lebih mudah memercayai teori konspirasi (Hammer, 2001).

Teori konspirasi pada dasarnya menentang apa yang disebut Popper sebagai metode falsifikasi. Dalam bukunya Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (1962), Popper menjelaskan bahwa teori dapat dibuktikan kebenarannya apabila ia dapat disangkal, hal tersebut yang akan membedakan antara teori yang bersifat ilmiah dan dapat terus progresif, dengan dogma. Mereka yang mengimani teori konspirasi cenderung akan memilih fakta ilmiah yang dapat mendukung “kebenaran” dalam versi keyakinan mereka.

Teori konspirasi juga cenderung menggunakan apa yang disebut penalaran melingkar (circular reasoning), sebuah kesesatan logika di mana sebuah argumen memiliki premis dan kesimpulan yang dapat dipertukarkan. “Bill Gates adalah bagian elite global yang memantik kepanikan terkait wabah Covid-19”, di lain kesempatan kita akan mendengar pembalikannya, “kepanikan wabah Covid-19 terjadi karena pemantiknya adalah Bill Gates yang merupakan bagian dari elite global”.

 

Karena dua hal inilah, teori konspirasi akan selalu bersifat anti-sains. Ia tidak pernah benar memenuhi dalam hal pembuktian deduktif dan kaidah penalaran ilmiah.

Mereka yang memercayai konspirasi selalu berpikir bahwa berbagai efek dari sebuah peristiwa disebabkan oleh tindakan yang disengaja, terutama oleh mereka yang mendapatkan manfaat (melalui maxim “cui bono?”—siapa yang diuntungkan). Hal ini juga dianut bahkan untuk gejala alam (Sunstein & Vermeule, 2009). Oleh karena itulah teori konspirasi tentang sains memiliki daya tarik dan mudah menggaet “umat” baru. 

Channel Youtube Flat Earth 101 misalnya, yang awalnya hanya mengulas tentang teori konspirasi terkait bumi datar, memiliki subscriber sebanyak 540 ribu orang (per 1 Mei 2020). Belakangan Flat Earth 101 juga mengunggah teori konspirasi terkait wabah Corona dan Lockdown dalam 2 episode, dan telah ditonton lebih dari 4,5 juta kali (per 1 Mei 2020).

Pada situasi pandemik, teori konspirasi kembali menyedot perhatian banyak pihak. Video Deddy Corbuzier dengan Young Lex mengenai konspirasi di balik Corona telah ditonton oleh 8 juta orang (1 Mei 2020). Perdebatan ngalor-ngidul tentang konspirasi Covid-19 antara Jerinx dan salah satu selebritas Instagram Dr. Tirta juga disaksikan puluhan ribu orang pada saat live.

Jangkauan yang luas atas tontonan ini mengundang risiko tinggi. Ia bisa membuat publik meragukan seberapa berbahaya—seberapa menular, merusak dan mematikannya—Corona.

Tidak ada solusi efektif jangka pendek di sini. Variabel utama yang dapat menurunkan kepercayaan terhadap teori konspirasi adalah kemampuan berpikir analitik (Swami et al, 2014). Dengan demikian, perlu program literasi jangka panjang untuk membiasakan masyarakat untuk menggunakan perspektif ilmiah dalam memandang dunia.

Yang paling mungkin kita lakukan saat ini, untuk menghadapi ancaman di depan mata, adalah dengan menandingi narasi anti-sains dengan sains: dengan fakta, data, dan analisis ilmiah yang dibahasakan dengan corak kebahasaan umum. Namun, upaya ini akan terhambat bila Pemerintah, yang semestinya ada dalam garda terdepan, malah kerap memberi pernyataan dan menelurkan kebijakan anti-sains dalam menghadapi pandemi.

Anderson, B., & McVey, R. (2009). A preliminary analysis of the October 1, 1965 coup in Indonesia. Jakarta: Equinox Publishing.

Aupers, S. (2012). “Trust no one”: Modernization, paranoia and conspiracy culture. European Journal of Communication, 27(1), 22–34.

Barkun, Michael. (2003). A Culture of Conspiracy: Apocalyptic Visions in Contemporary America. University of California Press.

Dhakidae, D. (2003). Cendekiawan dan kekuasaan dalam negara Orde Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Gottfried, R. (2008). The Black Death: Natural and Human Disaster in Medieval Europe. Paw Prints.

Hammer, O. (2001) Claiming Knowledge: Strategies of Epistemology from Theosophy to the New Age. Leiden: Brill.a

Knight, P. (2000) Conspiracy Culture: From Kennedy to the X-Files. London and New York: Routledge.

Melley, T. (2000) Empire of Conspiracy: The Culture of Paranoia in Postwar America. Ithaca, NY and London: Cornell University Press.

Parker, M. (2001) Human science as a conspiracy theory. In: Parish J and Parker M (eds) The Age of Anxiety: Conspiracy Theory and the Human Sciences. Oxford: Blackwell, pp. 191–207.

Popper, K. (2013). The Open Society and Its Enemies. Princeton, NJ: Princeton Univ. Press.

Popper, K. (2014). Conjectures and refutations: The growth of scientific knowledge. London: Routledge.

Roosa, J. (2006). Pretext for mass murder: The September 30th Movement and Suharto's coup d'état in Indonesia. Madison: University of Wisconsin Press.

Sen, K., & Hill, D. T. (2012). Politics and the media in twenty-first century Indonesia: Decade of democracy. Routledge.

Sunstein, C., & Vermeule, A. (2009). Symposium on conspiracy theories: Conspiracy theories: Causes and cures. Journal of Political Philosophy, 17, 2, 202-227

Swami, V., & Furnham, A. (2014). Political paranoia and conspiracy theories. In J.-P. Prooijen & P. A. M. van Lange (Eds.), Power politics, and paranoia: Why people are suspicious of their leaders, 218–236. Cambridge: Cambridge University Press.

Swami, V., Voracek, M., Stieger, S., Tran, U. S., & Furnham, A. (2014). Analytic thinking reduces belief in conspiracy theories. Cognition, 133, 3, 572-585.