Beberapa kali saya menemukan di media sosial fans Agnes Mo(nica) adu argumen dengan fans Anggun C. Sasmi. Halnya sepele, memperebutkan siapa yang paling “go International”. Hampir tiap malam saya juga cukup mengikuti obrolan fans klub sepakbola melalui lini masa Twitter. Isinya tidak jauh dari saling membanggakan dan saling meledek dengan nuansa bercanda atau setengah serius. Sesekali, di jalanan saya juga bertemu dengan arak-arakan sepeda motor yang mengusung bendera Slank berkonvoi menuju arena konser. Ragam respon tentang fans pun saya dengar, selentingan atau pun langsung, dengan nada anti atau kagum, menyepelekan atau menyanjung.

Sebenarnya, fans itu siapa sih?

Ada banyak definisi yang menjelaskan tentang fans yang mewakili berbagai sudut pandang dalam membingkai fans. Secara umum, fans dipahami sebagai istilah untuk menyebut kelompok penggemar dari suatu produk budaya populer. Seringkali fans diasosiasikan dengan fanatisme. Dari perspektif kajian media, fans cukup berbeda dari audiens karena relasi yang dibangun dengan teks yang disajikan media. Audiens dimengerti sebagai konsumen teks, sementara fans adalah kelompok kecil audiens yang menyukai secara berlebih produk kultural tertentu, apakah itu acara televisi, film, buku, penyanyi, aktor/aktris, klub sepakbola, dan lain-lain. Ada level ketertarikan yang tinggi pada suatu produk kultural tertentu dari kelompok fans, yang tidak dimiliki oleh audiens secara umum. Karena itu, Lisa A. Lewis menyebutkan bahwa fans bisa dengan mudah dibedakan dari audiens lainnya, sebab biasanya mereka menggunakan atribut atau menandai dirinya dengan cara-cara khusus.

Matt Hills (2002: viii) menyajikan definisi fans yang paling umum dipahami orang kebanyakan: 

“…somebody who is obsessed with a particular star, celebrity, film, TV programme, band: somebody who can produce reams of information on their object of fandom, and can quote their favoured lines or lyrics, chapter and verse”. 

Dari definisi tersebut saya menggaris bawahi sebutan fans sebagai “mereka yang terobsesi”, yang konotasinya cenderung bernuansa irasional. Pemahaman terhadap fans seperti itu cenderung menempatkan fans sebagai efek dari kehadiran selebritas dan media secara mentah. Pemahaman yang diakomodir oleh Joli Jensen (1992: 10) dengan menyebut fans sebagai “a result of celebrity—the fan is defined as a response to the star system”.Singkatnya, eksistensi fans berada dalam lingkaran fan-star relation dengan fans sebagai pihak pasif yang sekadar menyambut segala pancingan yang diumpankan star system.

Star system yang dimaksudkan di sini mencakup segala aspek yang membentuk dan mendukung tercipta serta tersebarnya satu produk budaya populer seperti penyanyi, aktor/aktris, lagu, film, program televisi, novel, dan lain-lain. Industri (hiburan), agensi artis, dan media merupakan beberapa pihak yang masuk dalam star system. Film misalnya, sebagai satu produk budaya populer, melewati berbagai proses dari produksi hingga konsumsi yang melibatkan banyak komponen. Pada aspek produksi saja, terlibat di dalamnya proses penulisan naskah, pemilihan aktor, pemilihan kostum, pengambilan gambar/adegan (shooting), dan penyuntingan yang melibatkan mulai dari tim kreatif (penulis naskah, skenario, sutradara, dll) hingga industri fashion, agensi artis, dan industri musik. Hingga kemudian proses perilisan film, promosi, dan penayangan di bioskop. Film yang hadir ke khalayak adalah teks sekaligus media (dalam batasan tertentu) yang kemudian memunculkan kantong-kantong fans (fandom), baik untuk film itu sendiri atau pada aktor pemain.

Gambaran sederhana di atas menjelaskan bagaimana fans, khususnya dalam definsi Jensen, adalah sebuah respon dari sistem kebintangan. Penonton film (konsumen teks) menerima secara pasif apa yang ada dalam teks film dan membiarkan dirinya larut dalam kontrol sistem kebintangan ini sehingga menjadi kelompok fans yang menyukai secara berlebih film tersebut. Sebagai kelompok yang pasif, fans kemudian mudah dianggap sebagai kelompok yang mudah dikelabui dan dibujuk, dipandang tidak rasional karena menyenangi segala hal yang berhubungan dengan bintang favoritnya hingga level tak masuk di akal, dan bahkan dianggap patologis secara sosial. Tidak jarang fans dibicarakan dalam nada negatif dan sinis, dianggap berbeda seolah mereka kelas kedua dalam tatanan masyarakat. Tapi benarkah fans demikian?

Jika melihat relasi fans dengan media, pokok soalnya ada dalam proses pemaknaan terhadap teks yang disajikan media. Media massa secara umum menjadi corong industri untuk menyampaikan teks pada khalayak. Apa yang tersaji dalam media dimaksudkan untuk dimaknai dan dipahami sebagaimana pemaknaan dan pemahaman yang diinginkan industri. Dengan kata lain, media arus utama selalu mengusung makna dominan untuk ditawarkan pada khalayak. Sebuah label rekaman, misalnya—sebagai salah satu industri budaya populer—mengharapkan agar band serta lagu yang diproduseri diterima oleh khalayak dan meledak di pasaran. Kemunculan kelompok fans dari band tersebut adalah wujud nyata keberhasilan proses penerimaan makna dominan oleh industri oleh khalayak. Maka fans, dalam batas tertentu, bisa dibilang menerima makna dominan yang ditawarkan industri melalui media.

Gejala ini kemudian ditangkap sebagai pasivitas fans dan digunakan lebih lanjut oleh industri dengan mengeksplorasi fans sebagai target konsumen potensial (captive market).Seluruh relasi fans dan bintang kemudian disederhanakan oleh industri ke dalam aktivitas konsumsi belaka. Tidak heran, Matt Hills (2002) mencatat bahwa di dalam proses dan mekanisme budaya konsumerisme, “fans are always already consumers”. Bagaimana tidak?   Industri hadir di hampir semua lini kehidupan fans. Industri menggunakan para selebritas yang sedang populer untuk menjadi bintang iklannya, dengan harapan mereka yang menyukai (fans) si selebritas akan membeli produknya. Industri musik menjual CD/DVD para penyanyi, lalu menyediakan konser penyanyi-penyanyi dan band-band populer untuk dinikmati fans. Industri garmen memproduksi jersey klub sepakbola dengan tingkatan KW-Ori, sepatu, scarft, juga pernak-pernik lain. Singkatnya, meski fans adalah kelompok margin, tapi industri dengan jitu memperhitungkan keberadaan mereka dengan membidiknya sebagai konsumen. Tentu industrialis tidak peduli apakah fans terberdayakan atau tidak, apakah fans bisa menjadi kelompok aktif yang punya kuasa atas eksistensi mereka sendiri atau tidak. Selama fans menjadi konsumen potensial, maka cukuplah bagi industri.

Pertanyaannya kemudian, apakah menjadi fans selalu semata-mata konsumen? Tidak adakah jalan resistensi atau perlawanan yang bisa dilakukan fans atas kungkungan industri?

Dalam perspektif lain dan studi-studi fans yang lebih komprehensif, fans justru dipandang sebagai pihak yang memiliki kuasa atas dirinya. Cara pandang ini melihat fans memiliki kesempatan untuk melakukan negosiasi atau bahkan menolak apa yang ditawarkan industri. Lagi-lagi hal ini pokoknya bertolak dari soal pemaknaan atas teks yang dibawa media. Mengacu pada pemikiran Stuart Hall (1980), fans memiliki otonomi untuk memberikan makna pada setiap teks yang dikonsumsinya. Benar bahwa media merupakan pembawa makna dominan (dominant meaning) yang diamanatkan industri, namun fans tak selamanya menerima makna tersebut. Paling tidak, akan ada makna yang dinegosiasikan oleh fans sesuai dengan pengetahuan dan wacana yang menjadi acuan dalam keseharian fans.

Teori Hall tersebut, alih-alih melanjutkan anggapan fans sebagai pihak yang pasif, ia menempati posisi yang sama sekali berkebalikan, yaitu melihat fans sebagai pihak yang aktif memproduksi makna. Para pengkaji fans banyak menunjukkan bagaimana fans bukan hanya menjadi konsumen teks, tapi secara aktif melakukan pemaknaan ulang atas teks dalam melakukan reproduksi atasnya. Fans Arsenal bisa jadi sepakat dengan industri sepakbola, khususnya manajemen klub Arsenal, bahwa Arsenal patut menjadi klub idola dan kebanggaan. Tapi industri juga tidak bisa menyangkal ketika fans Arsenal melakukan negosiasi atas Arsenal dengan melakukan kritik terhadap permainan mereka di beberapa laga terakhir. Kita mungkin juga melewatkan beberapa akun Twitter atau beberapa situs penggemar sepakbola yang aktif melakukan kajian dan mengunggah artikel kritis atas sepakbola. Hal tersebut yang disebut Hall sebagai (re)produksi oleh konsumen teks.

Henry Jenkins (1992) dalam tulisannya “’Strangers No More, We Sing’: Filking and The Social Construction of The Science Fiction Fan Community” menyebutkan fans memproduksi empat hal: makna dan interpretasi, karya seni (art-works), komunitas, dan identitas alternatif. Bentuk konkritnya berupa apa yang disebut Jenkins sebagai fan cultural production, seperti fan writing (shrot stories, novels, poems, fan fiction, fan magazine), fan art (pictures, painting, sculptures, fashion, costumes), fan songs, fan music-making, dan fan video-making. Melalui contoh ragam teks yang diproduksi fans di atas, fans pada dasarnya tidaklah pasif, namun secara aktif melakukan reproduksi atas teks dengan tidak selalu bersepakat pada makna dominan yang ditawarkan industri. Karena itulah Jenkins (1992: 213) menyebutkan, “So, fans are consumers who also produce, readers who also write, spectators who also participate”. Pernyataan Jenkins jelas menunjukkan posisi fans sebagai apa yang saat ini dikenal dengan “procumer” (producer+consumer). Fans tidak lagi pasif dalam berhadapan dengan produk kultural yang ditelurkan oleh bintan, ia memiliki dinamika aktif yang bergerak sesuai dengan moda interpretasi fans terhadap bintangnya.

Dengan cara pandang yang ditawarkan Hall di atas, kemudian ada tempat untuk membincang soal resistensi fans terhadap industri. Anggapan bahwa  fans adalah kelompok yang pasif seperti dipahami pengkaji fans terdahulu tidak memberikan ruang pada fans untuk melakukan itu. Dengan asumsi pasivitas fans, fans hanya akan menerima begitu saja apa yang ditawarkan industri dan selamanya akan menjadi konsumen.

Resistensi paling sederhana yang dapat dilakukan fans ada pada tataran makna. Seperti telah dikatakan di atas, fans tidak selalu menerima makna dominan yang ditawarkan padanya, tapi fans bisa melakukan negosiasi atasnya atau melakukan penolakan penuh. Dalam kolom komentar situs resmi Agnes Mo di YouTube misalnya dengan mudah kita bisa menemukan ragam komentar terhadap video musik terbaru Agnes. Ada fans yang serta-merta menyukai keseluruhan penampilan Agnes di situ, mulai dari lagu, pilihan kostum,dance, make up, setting, termasuk bentuk tubuh Agnes yang semakin kekar. Ada pula yang menyenangi beberapa aspek saja dari video musik tersebut dan tidak menyukai (menolak) bagian lainnya. Dan ada pula fans yang menolak keseluruhan isi video musik tersebut karena tidak sesuai dengan style atau preferensi personalnya. Dalam satu rentetan komentar di satu video musik saja bisa kita lihat bentuk resistensi makna terhadap apa yang industri tawarkan.

Tataran berikutnya, resistensi fans dapat hadir dalam bentuk teks hasil reproduksi atau yang oleh Henry Jenkins disebut sebagai fans cultural production, seperti fan song, fan writing, dan fan arts. Dalam dunia kepenulisan fans, dikenal fan fiction, yaitu karya fiksi yang ditulis fans dengan menggunakan karakter dari produk budaya populer tertentu yang menjadi favoritnya seperti novel, film, serial televisi, atau selebritas (aktor/penyanyi/band). Fans novel Harry Potter misalnya menulis fan fiction Harry Potter dengan menggunakan tokoh-tokoh yang ada dalam novel Harry Potter. Uniknya fan fiction,fans menuliskan cerita yang tidak dihadirkan dalam novel aslinya atau membuat cerita baru dari satu scene tertentu dari novel asli yang tidak disukai fans dan diubah sesuai dengan yang fans mau. Misalnya, dalam novel asli Harry Potter, tokoh Fred Weasley terbunuh dalam pertempuran melawan Pelahap Maut. Fans yang menolak alur “resmi” ini kemudian menyatakan ketidak-sepakatannya dalam fan fiction yang menceritakan bahwa Fred tidak terbunuh dan melanjutkan pertempuran dengan gagah berani.

Ketidakpuasan fans atas teks yang secara resmi dihadirkan oleh industri dilawan oleh fans dengan teks tandingan. Salah satu yang menyita perhatian saya adalah slash fiction, yakni cerita fiksi yang dibangun fans dengan memasangkan karakter dalam teks asli (original teks) secara homoseksual. Slash fiction pertama kali populer di dalam fandom serial televisiStar Trek. Fans penulis slash fiction Star Trek percaya bahwa ada “hubungan lain” antara Kirk dan Spock—dua karakter utama laki-laki—yang tidak diungkap di dalam serial yang disiarkan televisi. ‘Hubungan lain’ ini pada dasarnya merupakan interpretasi fans yang dapat dikatakan menyimpang dari makna yang seharusnya. Dan ketidakpuasan atas ketidakhadiran ‘hubungan lain’ tersebut memacu fans untuk menuliskannya dalam bentukslash fiction, menceritakan ‘hubungan lain’ tersebut dalam sebuah relasi romantik homoseksual antara Kirk dan Spock.

Bentuk resistensi juga hadir dalam wujud yang lebih besar dari teks hasil reproduksi fans, yakni sebuah komunitas atau gerakan. Misalnya saja komunitas punk yang dari satu sudut pandang sederhana merupakan komunitas yang berkembang sebagai bentuk kekecewaan dan kritik dari musisi kelas pekerja terhadap industri musik Inggris yang saat itu didominasi The Beattles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Punk lalu hadir sebagai sebuah genre musik yang menjawab kekecewaan tersebut dengan menghadirkan lagu-lagu dengan lirik yang keras mengkritik ketimpangan sosial.

Sudut pandang yang menempatkan fans sebagai kelompok yang aktif mengijinkan fans untuk melakukan satu bentuk perlawanan terhadap kuatnya kungkungan industri. Kuatnya posisi industri dalam relasi fans-bintang memungkinkan industri untuk menginkorporasi bentuk-bentuk resistensi seperti di atas. Dalam industri fashion misalnya, style punk banyak diinkorporasi mulai dari model dan warna rambut, jaket kulit, aksesoris, jeans ketat, dan sepatu boots. Atau dalam industri penerbitan Indonesia kontemporer, belakangan penerbitan banyak menerbitkan fan fiction K-pop yang dari awal perkembangannya terpusat di “bawah tanah”. Biasanya ia hanya tersebar di komunitas-komunitas fandom baik online atau offline. Namun sepertinya industri penerbitan melihatfan fiction K-pop sebagai satu produk yang potensial untuk diinkorporasi dan diproduksi secara massal.

Inkorporasi yang dilakukan industri mungkin akan selalu menjadi pola yang mewarnai relasi fans-bintang. Namun resistensi fans juga tidak akan berhenti di satu titik. Selama fans melakukan pemaknaan atas teks yang dikonsumsinya, di situ ada peluang terjadinya resistensi. Dan di situ pula kesempatan untuk keluar dari kungkungan industri. Mungkin tidak serta-merta radikal. Tapi dari kesempatan tersebut, sekecil apapun itu, kita tahu industri tidak begitu saja mengendalikan seluruh aspek kehidupan fans. Fans memiliki ruang dan kuasa atas dirinya. []


Daftar Pustaka

Hall, Stuart. 1980. “Encoding/Decoding”, dalam Suart Hall, Dorothy Hobson, Andrew Lowe, dan Paul Willis (editor). Culture, Media, and Language. London: Hutchinson

Hills, Matt. 2002. Fan Culture. Psychology Press

Jenkins, Henry. 1992. “‘Strangers No More, We Sing’: Filking and the Social Construction of the Science Fiction Fan Community", dalam Lisa A. Lewis (editor), The Adoring Audience: Fan Culture and Popular Media. New York: Routledge

Jensen, Joli. 1992. “Fandom as Pathology: The Consequences of Characterization”, dalam dalam Lisa A. Lewis (editor) The Adoring Audience: Fan Culture and Popular Media. New York. Routledge