Kamera menyorot keluarga yang sedang menonton televisi. Istri, suami, dan seorang anak duduk di ruang keluarga dengan remot televisi di tangan.  Beberapa kali remot televisi dipencet. Perubahan saluran jadi semacam tanda bahwa kekuasaan ada di tangan mereka.

Saluran televisi memang beralih rupa, sayangnya muatannya sama saja. Televisi di depan mereka menampilkan beberapa pemilik media yang juga aktor politik. Hary Tanoesodibjo sedang berorasi, Surya Paloh memimpin apel, dan tak ketinggalan, Aburizal Bakrie berpidato.

Keluarga itu kemudian televisi mereka. Narator dalam video langsung menimpali, “Mematikan televisi bukan solusi, kita justru harus merebut kembali frekuensi yang disalahgunakan, serta menuntut pengusaha televisi mengisinya dengan siaran-siaran bermanfaat.”

Ilustrasi itu muncul dalam video garapan Remotivi yang bertajuk “Frekuensi Milik Parpol?” Narasi penutup dalam video itu seperti pesan tegas mengenai perspektif yang Remotivi usung. Rebut frekuensi, bukan matikan televisi!

Sejak 2014 Remotivi menggunakan medium video dalam mengupas media. Video “Frekuensi Milik Parpol” adalah salah satu video garapan Remotivi dari total 19 video yang telah mereka rilis ketika tulisan ini ditulis.

Remotivi membagi video hasil produksinya menjadi dua kategori besar: Literasi dan Yang Tidak Media Katakan.

Upaya Remotivi memproduksi video menarik karena dua hal. Pertama, Remotivi banyak mengupas mengenai televisi, di titik ini memproduksi konten audio visual menjadi relevan. Sebabnya jelas, medium audio visual mampu menampilkan ulang secara utuh bagaimana televisi mengontruksi realitas. Ambil contoh dalam video “Bagaimana TV One dan Metro TV Memberitakan Polemik Pencalonan Kapolri Baru”. Produk video membantu Remotivi menggambarkan secara utuh perubahan narasi kedua televisi tentang penetapan tersangka (pada saat itu) calon Kapolri oleh KPK dari waktu ke waktu.

Kedua, medium video penting karena Remotivi hidup dalam ranah digital. Keragaman medium dalam dunia digital harus mampu dimanfaatkan. Tujuannya bukan sekadar pemanfaatan teknis, keragaman medium diharapkan mampu menghadirkan keragaman perspektif bagi publik.

Pertanyaannya kemudian, apakah Remotivi mampu memanfaatkan medium video secara optimal? Bagi saya jawabnya belum. Saya punya beberapa alasan yang mendukung jawaban tersebut.

Pertama, belum terlihat jelas benang merah yang memayungi video-video garapan Remotivi. Video-video itu memang bicara tentang media, tapi apa semangat utama yang hendak dikatakan dari keseluruhan video ini belum terlihat.

Tak terlihatnya premis utama dalam video-video Remotivi tampak jelas dalam kategori Literasi. Video-video dalam kategori ini bicara dari soal pagar api sampai framing. Isu-isu tersebut memang penting namun terkesan sangat parsial, tak ada konteks besar yang melingkupinya.

Video “Bagaimana Memeriksa Kebenaran Sebuah Berita?” dan “Framing: Cara Media Memanipulasi Informasi” bicara dalam konteks mendorong publik yang berdaya dalam memilih konten media. Tentu ini berbeda konteks dengan sebut saja video “Frekuensi Milik Parpol” yang bicara mengenai “konstelasi” kepemilikan frekuensi publik oleh beberapa orang. Bahwa informasi-informasi tersebut penting jelas iya, tapi semuanya terkesan terpisah-pisah, tak ada satu narasi besar yang memayungi semuanya.

Misalnya Remotivi bisa saja menggunakan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) sebagai payung besar dalam produk-produk video literasinya. Tentu banyak pasal-pasal P3SPS yang publik perlu tahu.

Dalam kategori Yang Tidak Media Katakan pun Remotivi terkesan hanya reaktif dengan isu yang sedang hangat. Isu-isu populer seperti Sidang Majelis Kehormatan Dewan (MKD) sampai penggusuran tak luput dari perhatian Remotivi. Aktualitas jelas penting namun bukan berarti Remotivi justru terbawa oleh dendang yang media mainkan.  

Remotivi perlu mendefinisikan dengan jelas tujuan dan siapa pengguna yang hendak ia sasar. Dari situ perlu untuk membuat rubrikasi yang jelas pada video-videonya. Misalnya untuk kategori Literasi, apa yang Yayasan Pantau lakukan bisa menjadi referensi. Andreas Harsono dalam tulisan “Model Pelatihan Mahasiswa” menceritakan bagaimana Pantau melakukan pelatihan untuk wartawan mahasiswa atau pemula. “Yayasan Pantau biasa membagi materi dalam empat kategori” (1) reportase; (2) penulisan; (3) laku wartawan; (4) dinamika ruang redaksi.”

Pembagian konten yang jelas seperti itu akan semakin menebalkan pesan yang hendak Remotivi sampaikan. Tanpa premis utama dan pembagian materi yang jelas  maka video-video Remotivi hanya menjadi pecahan-pecahan puzzle.

Kedua, video-video Remotivi seperti menghajar narasi media yang tunggal dengan narasi yang sama tunggalnya. Bagi saya, semestinya video-video yang Remotivi hasilkan mampu mendorong dialog, menawarkan kekayaan perspektif, bukan malah menghadirkan kesimpulan yang bersifat tunggal.

Kesan tersebut muncul karena beberapa hal, yang paling menonjol adalah karena format penyampaian narasi dengan narator tunggal. Format semacam ini ironisnya juga dipakai dalam editorial televisi kita hari-hari ini. Sebuah isu dibabat habis oleh narator tunggal, ia seperti suara Tuhan, tak bisa digugat.

Remotivi perlu menghadirkan ragam perspektif saat membahas sebuah isu. Misalnya bisa saja Remotivi melakukan wawancara dengan beberapa tokoh yang kompeten membahas isu tersebut. Ambil contoh dalam video “Berita Islami Masak Gini”. Daripada sekadar memberi porsi utama pada narator, Remotivi bisa memberi ruang pada peneliti Islam untuk bicara tentang acara religi di televisi. Perspektif lain ini penting untuk hadir ke permukaan, sebagai upaya menghadirkan dialog bersama. 

Jika Remotivi terus menerus memilih narasi tunggal dan bertendensi membuat kesimpulan, maka apa bedanya Remotivi dengan media yang kerap mereka kritik.

Ketiga, perspektif video ini dalam memandang media perlu lebih kaya. Dalam video-video Remotivi, khususnya di kategori Yang Tidak Media Katakan, seakan-akan media adalah institusi tunggal yang solid, bukan eksosistem yang aktor-aktornya saling berinteraksi. Artinya perspektif bahwa media juga merupakan kumpulan aktor-aktor kerap dilupakan.

Dalam video-video Remotivi kita sulit menemukan bagaimana dinamika aktor-aktor media (misalnya: wartawan) dalam ruang redaksi. Remotivi sebenarnya pernah mengangkat narasi berbasis dinamika aktor ini dalam laporan tulisnya yang berjudul “Panggil Aku Wartawan” atau “Rutinitas Berita dan Sinisme Terhadap Buruh”, sayangnya narasi berbasis aktor media seperti itu tak terlihat dalam video buatan Remotivi. Narasi yang menafikan peran aktor-aktor media bisa membuat publik lupa atas satu aspek penting yang memengaruhi kualitas media, profesionalisme masing-masing aktornya.

Misalnya video “Perspektif yang Hilang dalam Pembangunan” atau “Sensasi dan Eksploitasi dalam Pemberitaan Deudeuh” pertanyaan pentingnya sebenarnya bukan hanya bagaimana narasi televisi terhadap penggusuran dan prostitusi online? Dua pertanyaan turunan penting berikutnya adalah, siapa yang menentukan, dan kenapa narasi itu dipilih?

Dinamika ruang redaksi penting untuk dihadirkan karena dua alasan. Pertama, publik tak memiliki akses ke sana. Kedua, penting untuk menyatakan bahwa ruang itu sama sekali tak bebas nilai. Apa yang dikatakan dalam ruang redaksi bisa jadi berbuah menjadi apa yang tidak media katakan.

Kritik-kritik saya di atas memang tak banyak menyentuh aspek teknis video garapan Remotivi. Bukan karena secara teknis video garapan Remotivi sudah sempurna, melainkan karena masih banyak pekerjaan rumah bahkan dalam tataran gagasan pembuatan video.

Saya jadi ingat narasi penutup dalam salah satu video Remotivi yang sudah saya tuliskan di awal tulisan. “Mematikan televisi bukan solusi, kita justru harus merebut kembali frekuensi yang disalahgunakan.”

Penyadaran untuk merebut kembali frekuensi adalah satu hal, namun yang tak kalah penting adalah cara menyadarkannya.

Video-video Remotivi memang masih memiliki banyak kekurangan. Jika ada satu poin penting dalam video-video tersebut bisa saja adalah pesan bahwa mula-mula dan terutama kita harus skeptis pada media. Maka pesan itu juga perlu kita terapkan ketika mengonsumsi video produksi Remotivi. Karena terkadang persoalannya bukan apa yang Remotivi katakan melalui videonya, tapi apa yang tidak Remotivi katakan. []