Masih terekam dalam ingatan kita, peristiwa ledakan bom granat di jalan utama MH. Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari lalu. Media digital berbasis daring (online) berlomba menyajikan berita yang menjadi viral di jejaring media sosial. Televisi tak kalah gesit menyajikan breaking news. Foto-foto korban yang tewas bertebaran di berbagai media. Hanya media cetak, Koran, dan majalah yang tak mampu turut dalam adu kecepatan itu.

Adu cepat ini, sayangnya, tidak diiringi dengan empati pada keluarga penyintas (survivor). Saya sempat menjenguk seorang teman lelaki yang dirawat di rumah sakit karena terluka akibat ledakan tersebut. Dari istrinya, saya mendengar cerita yang memilukan. Seorang jurnalis sebuah media daring ternama meminta wawancara langsung dengan suaminya. Tentu ia menolak, lalu berujar, “No… Tidak bisa wawancara suami saya sekarang!”

Teman saya terluka di lengan kanan, leher, dan kening. Matanya memerah karena serpihan kaca masuk menembus kornea. Pendengaran pun terganggu. Secara psikologis, kondisinya belum pulih. Kasus teman saya bukan kasus yang unik. Peristiwa traumatik meninggalkan kedukaan, kehilangan, dan luka yang dalam bagi para penyintas. Kerap kali, jurnalis tidak peka dengan hal tersebut.

Kisah itu pun bukan satu-satunya yang saya temui. Ketika gempa bumi mendera Sumatera Barat pada Oktober 2009, saya juga mendapati seorang reporter televisi melakukan tindakan yang membuat miris. Ia memaksa seorang bapak, yang tengah sibuk mengangkut perkakas rumahtangganya, untuk diwawancara. Rumahnya yang tepat di kaki bukit Gunung Tigo roboh akibat longsor dahsyat, karena gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter.

Tak bisa dinafikan, betapa pentingnya peliputan media dalam merangkum peristiwa traumatis. jurnalis dapat menyuarakan posisi korban yang lemah sekaligus mengabarkan nilai-nilai kemanusiaan pada dunia luar. Kengerian, baik itu akibat bencana alam atau pun peristiwa konflik, dapat menewaskan dan melukai ribuan jiwa manusia. Itulah esensi penting sebuah laporan jurnalistik yang bertanggungjawab pada publik secara luas.

Dalam kondisi “luar biasa” berupa bencana alam atau konflik bersenjata, jurnalis dituntut melakukan tugas jurnalistiknya dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Ketaatan pada disiplin verifikasi serta konfirmasi fakta yang ditemukan di lapangan adalah kewajiban. Itulah yang membedakan jurnalis yang bekerja secara profesional dengan warga (netizen) yang mengonsumsi serta membagikan “seliweran” informasi yang terdapat di media sosial—sering kali tanpa memastikan ketepatan informasi tersebut.

Selain disiplin jurnalisme yang memang tak bisa ditawar, kepekaan adalah hal yang vital. Hal ini bisa dilihat melalui hal yang tampaknya “sepele”, seperti pemilihan kata. Saya pribadi misalnya, lebih memilih untuk memakai istilah “penyintas” ketimbang “korban”. Istilah ini lebih memberdayakan karena menonjolkan kemampuannya dalam bertahan hidup setelah melewati peristiwa traumatis.

Kesiapan jurnalis pun menjadi masalah tersendiri. Kecenderungan media-media di Indonesia, baik yang berbasis daring, cetak, atau televisi, tidak memberikan bekal pelatihan pada jurnalisnya sebelum terjun dalam peliputan beresiko tinggi. Akibatnya, jurnalis terjun ke lapangan yang berbahaya dengan hanya berbekal “nekad” semata. Selama liputan di daerah yang rawan konflik bersenjata misalnya, jurnalis tidak diberikan penutup kepala (helm), rompi anti peluru, atau asuransi perjalanan. Memang ada beberapa media yang memberi pelatihan yang bermanfaat seputar safety journalism, namun jumlahnya masih tak seberapa.

Saya sempat meliput peristiwa konflik etnis terjadi di Sambas, Kalimantan Barat, pada 1999, yang menewaskan 1.189 jiwa. Dalam situasi konflik seperti ini, jurnalis perlu menyadari bahwa, selain mengabarkan situasi konflik, keselamatannya juga mesti dijaga. Ketika itu, saya memutuskan mengikuti pengungsi. Buat saya lebih penting nyawa dibanding memotret pertikaian berdarah yang mengerikan. Namun demikian, bukan berarti saya meninggalkan tugas jurnalistik. Terdapat banyak sisi human interest dari mereka yang rentan dalam kondisi konflik.

Di antara para pengungsi, saya sempat bertemu dengan seorang ibu muda dengan dua anak balita yang menempati kandang sapi. Sebelumnya, ia bersembunyi di hutan selama empat hari, bertahan hidup dengan air embun yang menempel di daun-daun. Nekat pulang ke rumah, ia mendapati suaminya terbunuh. Binatang ternak dan rumahnya terbakar habis. Dengan kapal yang penuh sesak pengungsi, si ibu pergi meninggalkan Sambas menuju desa Durin Barat, Madura. Bukankah peristiwa yang dialami si ibu sangat penting disuarakan? Jurnalis memiliki banyak pilihan dalam bersikap dalam situasi genting.

Selain keamanan ketika meliput, masalah-masalah setelah peliputan peristiwa traumatis pun kerap luput. Dalam diskusi Jurnalisme Bencana dan Konflik yang diselenggarakan Galeri Foto Jurnalistik Antara pada Februari 2016 lalu, Ulet Ifansasti menceritakan pengalaman meliput bencana meletusnya gunung Merapi. Ulet tidak punya pengalaman meliput bencana. Sebagai pewarta foto, yang ada dalam pikirannya kala itu utamanya adalah bagaimana mendapat momen visual yang terbaik. Selepas peliputan, Ulet mengaku bahwa airmatanya mengalir (menangis) tiap kali berdiri di depan cermin. Hal ini terjadi selama tiga hari. Kondisi psikologis seperti itu sering diabaikan jurnalis (dan juga media tempat ia bekerja). Tanpa persiapan yang cukup, jurnalis rentan terhadap peristiwa traumatik yang tak disadari dan dipahaminya. Dengan demikian, persiapan sebelum meliput peristiwa traumatik, serta pendampingan setelah peliputan, merupakan salah satu kebutuhan yang mendesak.

Dart Centre for Journalism & Trauma mencatat sejumlah tips tentang bagaimana jurnalis tetap menggunakan naluri kemanusiaannya, sambil tetap menjaga keselamatannya.

  1. Perhatikan gerak atau bahasa tubuh narasumber. Setelah mengalami peristiwa traumatik, mereka lebih sensitif. Kadang takut pada hal-hal yang mengingatkan peristiwa. Peka melihat kesedihannya, raut wajah, tangan yang gemetar dan kadang keringat dingin keluar. Jangan menanyakan perasaannya. Gunakan kata-kata yang bersimpati. Hindari mengambil gambar ketika penyintas menangis tersedu-sedu.
  2. Jangan memaksakan penyintas memberi keterangan. Cukup perkenalkan diri sebagai jurnalis. Jangan menggurui penyintas. Jurnalis harus menghargai sikap dan memahami kondisi psikologis penyintas serta keluarganya.
  3. Lontarkan keprihatinan atas peristiwa yang menimpa penyintas dengan empati. Bertanyalah yang ringan dan jangan mencecar pertanyaan yang bertubi-tubi. Banyaklah mendengarkan, dibanding bertanya. Carilah sumber lain, seperti riset data, yang dapat mendukung laporan jurnalistik Anda.

Saya ingat nasehat kawan, Andi Riccardi, jurnalis yang memiliki pengalaman meliput bencana alam, tragedi dan konflik bersenjata di sejumlah negara, seperti Gaza, Lebanon, Irak, Afganistan, Darfur, Fiji, Libya, Timor Timur dan lainnya. “Ikutilah insting dalam kondisi berbahaya, nyawa lebih penting daripada berita. Ketika saya kena ledakan ranjau di Afganistan, saya telah mengingkari kata hati saya, “ujar Andi Riccardi sambil menepuk dadanya. Ia tertembak saat konflik bersenjata di Timor Leste, dan menjadi korban ledakan ranjau darat di Afganistan saat mengikuti patroli tank tentara Amerika Serikat. []