Saat erupsi Gunung Bromo pada awal 2011 , lahan pertanian milik Budi Setiawan rusak parah. Ia tak lagi bisa memanen apa-apa dari ladangnya, sehingga mengalami kerugian sekitar 10 juta rupiah. Tapi, tak seperti gadis muda yang mencari pacarnya dalam tayangan "Termehek-Mehek" (Trans TV), Budi tak meraung-raung di depan kamera televisi.

Saya bayangkan, pada satu kesempatan, ia mungkin menangis tersedu-sedu, mengingat bagaimana ladang yang menjadi sandaran hidup keluarganya itu kini tak menyisakan apa-apa kecuali tumpukan abu. Namun, dalam tayangan "Bumi & Manusia" di TV One (24 Desember 2011), Budi sama sekali tak menangis. Ia justru lebih banyak tersenyum. Ia malah berkata tak terlalu bersedih karena gagal panen, sebab pada saat bersamaan anak keduanya lahir dalam keadaan sentausa.

Saat menyaksikan Budi menyampaikan hal itu—menyandingkan kesedihan karena gagal panen dengan kebahagiaan memperoleh anak baru—saya merasa ia merupakan representasi yang tepat atas sikap manusia Indonesia yang selalu bisa bersikap positif dalam keadaan apa pun. Saya tak bermaksud menyebut sikap "nrimo" dalam konteks ini, sebab, Budi tak menyerah pada nasib. Ia berusaha dengan lain cara untuk melanjutkan hidup, semisal dengan beternak sapi.

Yang saya maksud dengan selalu bisa bersikap positif adalah, tak terus-menerus bersedih menghadapi bencana. Ia masih bisa mensyukuri keadaannya, sembari berupaya bekerja demi kondisi lebih baik. Dengan bahasa yang lebih pendek: Budi membawa optimisme. Inilah salah satunya, mengapa saya menyukai Bumi & Manusia: menyebarkan optimisme ala Budi.

"Bumi & Manusia" adalah tayangan dokumenter yang disiarkan TV One setiap Selasa pukul 17.00 WITA selama kurang lebih satu jam–termasuk tayangan iklan.

Selain episode kehidupan warga di lereng Gunung Bromo, saya juga mengamati episode kehidupan tenaga pengurus jenazah di Jakarta (29 November 2011) dan episode kehidupan warga di sekitar Laut Selatan (31 Desember 2011). Banyak hal positif yang menarik untuk dibahas pada episode-episode itu.

Hal pertama, tak seperti kebanyakan tayangan reality show yang menghiasi televisi kita sejak beberapa tahun terakhir, "Bumi & Manusia" tidak mengedepankan konflik. Bagi saya, konflik adalah jualan yang paling sering dihadirkan televisi kita. Selama beberapa tahun terakhir, intensitas jualan konflik itu makin meningkat, baik dari sisi kuantitatif maupun kualitatif.

Dari sisi kuantitatif, makin banyak tayangan yang menjual konflik sebagai magnet bagi penonton. Naik pesatnya jumlah reality show yang menjual konflik dalam beberapa tahun terakhir adalah buktinya. Sejak reality show zaman baheula, seperti "Katakan Cinta" (RCTI), konflik sudah jadi jualan. Kini, ada "Termehek-Mehek" (Trans TV), "Uya Memang Kuya" (SCTV), dan lain sebagainya, yang jelas-jelas menjual konflik.

Konflik jelas menimbulkan ketegangan, dan ketegangan menimbulkan drama. Karena orang tak lagi puas dengan ketegangan dan drama ala sinetron, televisi memberi kita ―drama riil yang dianggap akan memacu adrenalin kita lebih kencang. Karena drama itu terjadi ―sungguhan, penonton diasumsikan lebih gampang terlibat dan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari drama itu.

Secara kualitatif, konflik yang dimunculkan makin keras, aneh, dan tak biasa. Gadis yang mencari pacarnya yang selingkuh dengan temannya sendiri itu sudah biasa. Sekarang adalah era di mana seorang laki-laki menginvestigasi pacarnya yang ternyata selingkuh dengan ayah si laki-laki itu.

Ekspresi yang menunjukkan konflik juga makin dibuat heboh. Menangis di depan kamera itu sudah kuno. Penonton perlu lebih dari itu untuk merasa tegang. Maka, kesedihan dalam reality show kini tak bisa lagi hanya berupa lelehan air mata, tapi juga raungan, jerit kengerian, atau desahan kaget yang dilebih-lebihkan. Ekspresi marah tidak bisa lagi hanya dengan muka merah atau melotot, tapi juga harus dengan teriakan dan makian yang, supaya mengesankan terlalu vulgar, akan disensor.

Demikianlah, maka kita melihat pula orang-orang berkelahi dengan cara tak pantas, di bawah sorot kamera yang mereka sadari sejak awal. Ada kejar-kejaran, saling dorong, kalau perlu sampai jatuh terjengkang. Namun, "Bumi & Manusia" tak memerlukan semua sedu sedan itu. Sejak awal program ini menyebut dirinya sebagai film dokumenter, bukan reality show, di mana kenyataan harus dipoles sedemikian rupa sehingga menjadi show, pertunjukan. Dalam pertunjukan mesti ada drama, dan itulah kenapa banyak orang yang meragukan keaslian kisah dan peristiwa "Termehek-Mehek" dan teman-temannya.

Dalam dokumenter, betapa pun dia tak bisa menyajikan realitas yang sama seperti aslinya, tendensi menghadirkan show itu tak pernah ada. Maka, dalam "Bumi & Manusia", kita tak bertemu drama dan konflik yang mengguncang. Kita tak bertemu air mata dan kesedihan yang berlebihan. Dalam episode tentang warga Tengger di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur yang menderita gagal panen, tak ditemukan air mata menetes, apalagi berleleran. Tidak ada raungan, meskipun, masalah warga Tengger itu jauh lebih berat daripada beban para ABG (Anak Baru Gede) dalam "Termehek-Mehek".

Dalam episode soal tenaga pemulasaran jenazah, ada satu bagian ihwal orang-orang hilang. Di sana, kita bertemu dengan Tri Muhani, seorang ibu yang anaknya meninggalkan rumah dan tak kembali lagi. Tri memang sedih dan pada satu bagian dia menangis. Tapi saat tangisan itu terjadi, tak ada eksploitasi yang berlebihan. Saya dapat kesan, dalam "Bumi & Manusia", kesedihan diperlakukan secara wajar sebagai bagian dari hidup, dan tidak dieksploitasi sedemikian rupa untuk membuat sebuah drama.

Poin kedua yang bagi saya mengesankan, "Bumi & Manusia" membawa pesan soal harmoni dalam kehidupan. Ini masih berkaitan dengan poin pertama tadi. Tayangan ini tak memuat konflik bukan hanya karena secara teknis dia memilih menjadi dokumenter ketimbang reality show, tapi juga karena secara ideologis tayangan ini memilih harmoni sebagai titik fokus dan pesan. Jadi, konflik diabaikan bukan hanya karena secara teknis dia tak diperlukan, tapi juga karena secara ideologis ia ingin ditampik.

Kebetulan tiga episode yang saya tonton mengisahkan harmoni dalam jenis berbeda. Episode Gunung Bromo mengisahkan harmoni manusia dengan Tuhan. Bagian paling menarik dalam episode ini adalah ketaatan warga Tengger menyediakan sesaji dan menggelar upacara, bahkan setelah mereka dilanda musibah. Ada satu bagian di mana kepala desa di wilayah itu menyampaikan bahwa meski pun dilanda bencana, mereka mesti tetap bersyukur―suatu saat bencana itu pasti ada hikmahnya, kata si kepala desa.

Episode soal tenaga pemulasaran jenazah di Jakarta menunjukkan harmoni antar-manusia. Di sana, kita menemui tenaga pengurus jenazah itu bekerja dengan tekun: dari mulai mengangkut jenazah di pelbagai tempat, membawanya ke rumah sakit buat diotopsi, menunggunya sampai waktu tertentu hingga ada keluarga yang menjemput jenazah itu, sampai memakamkannya. Saat jenazah itu tak dikenali dan tak ada keluarga yang menjemput, tenaga pengurus jenazah itu akan membawa si jenazah ke pemakaman umum. Pada titik tertentu, merekalah teman sejati bagi si jenazah yang tak dikenali itu.

Episode yang menceritakan kehidupan warga Gunung Kidul, Yogyakarta, di tepi Laut Selatan secara menarik menunjukkan hubungan manusia dengan alam yang berlangsung secara selaras. Warga Gunung Kidul yang ditakdirkan mempunyai lahan dengan sumber air sedikit, akhirnya menemukan rezeki di laut dengan mencari ikan dan lobster. Mereka memang mesti bersusah payah menaklukkan ombak untuk menebar jaring ikan, atau menaiki jembatan gantung yang berbahaya supaya bisa sampai ke tempat pencarian lobster. Tapi sesudah semua upaya itu, mereka akhirnya bisa mendapat kehidupan lebih baik.

Soal ketiga yang menarik: "Bumi & Manusia" menampilkan kisah-kisah manusia di pelbagai tempat dengan tujuan akhir memahami mereka, tanpa penilaian yang tak perlu. Dalam "Jika Aku Menjadi" dan "Ethnic Runaway" (keduanya disiarkan Trans TV), misalnya, kisah-kisah manusia ditampilkan dalam bingkai tertentu untuk kemudian, sadar atau tidak, dinilai berdasar bingkai itu. Dua judul tayangan yang saya sebut tadi sama-sama menggunakan bingkai ala manusia Jakarta yang sok modern dan sok kosmopolit untuk menilai kehidupan orang-orang yang jauh berbeda dengan mereka.

"Bumi & Manusia" tidak melakukan pembingkaian semacam itu. Secara teknis, tidak ada pembawa acara atau bintang tamu yang menjadi pemandu tayangan ini. Kita tahu, dalam "Jika Aku Menjadi" dan "Ethnic Runaway", seorang pembawa acara didatangkan bukan hanya untuk menjadikan acara itu interaktif, tapi juga untuk memberikan penilaian atas kehidupan manusia lain yang dia kunjungi. Pembawa acara dalam dua tayangan tersebut adalah representasi dari bingkai ala manusia Jakarta yang saya sebut tadi.

Dalam "Bumi & Manusia", para tokoh cerita dibiarkan berkisah sendiri, melalui penuturan mereka atau aktivitas mereka. Mereka tak diwakili siapa pun, dan tak dinilai oleh siapa pun. Tujuan utama kisah itu, pada akhirnya, adalah memahami, bukan memberi penilaian. Segala kondisi partikular para tokoh—adat istiadat, kepercayaan religiusnya, etos kerja, dan lain-lain—diperlakukan sebagai sebuah kekhasan yang tidak dinilai berdasar bingkai yang juga partikular dan sama sekali lain dengan kondisi tersebut.

Sesudah melalui tiga poin itu, saya ingin kembali ke poin di awal tulisan tadi: saya juga menyukai "Bumi & Manusia" karena dia menampilkan optimisme manusia. Menontonnya, bagi saya, juga menimbulkan optimisme tersendiri terhadap dunia pertelevisian kita. Setidaknya, karena keberadaan tayangan semacam ini, kita tak perlu mematikan televisi selama-lamanya. []