http://www.remotivi.or.id/en/interview/17/Annette-Hill:-Sometimes,-We-Like-to-Just-Be-Entertained-(Part-II)
http://www.remotivi.or.id/en/interview/17/Annette-Hill:-Sometimes,-We-Like-to-Just-Be-Entertained-(Part-II)
16/08/2017
Annette Hill: Terkadang, Kita Hanya Ingin Dihibur (Bagian II)
Profesor Kajian Media dan Komunikasi dari Universitas Lund bicara soal riset khalayak serta kajian terbarunya soal resepsi khalayak atas film dokumenter Joshua Oppenheimer, Jagal.
16/08/2017
Annette Hill: Terkadang, Kita Hanya Ingin Dihibur (Bagian II)
Profesor Kajian Media dan Komunikasi dari Universitas Lund bicara soal riset khalayak serta kajian terbarunya soal resepsi khalayak atas film dokumenter Joshua Oppenheimer, Jagal.

Ini adalah bagian kedua dari wawancara dengan Annette Hill, profesor Kajian Media dan Komunikasi di Universitas Lund, Swedia. Di sini, Hill melanjutkan diskusi mengenai riset khalayak, termasuk kajian terbarunya mengenai resepsi khalayak atas film dokumenter Joshua Oppenheimer, Jagal. Baca bagian pertama dari wawancara ini di sini


Jika kehidupan kita hari ini hampir selalu diperantarai oleh media, apakah menurut anda kajian media akan semakin penting di masa depan? Kontribusi apa yang dapat dihadirkan kajian media pada ilmu sosial secara umum?

Kajian media adalah perkembangan historis.  Ia selalu dipimpin oleh pemikir kunci dengan latar belakang disiplin-disiplin lain: dari sastra, dari film, dari filsafat, dari antropologi. Maka kajiian media secara historis memang merupakan area yang cukup eklektik. Salah satu keunggulannya saat ini, dan alasan ia berharga bagi disiplin ilmu lain, justru adalah karena kita kerap memikirkannya secara interdisipliner. Banyak akademisi yang bekerja di ranah sastra atau politik kerap kali bersinggungan dengan media dalam pekerjaan. Penting bagi akademis di disiplin ini untuk menekankan bahwa kami adalah ahli di area ini. Jadi, datang dan bicaralah pada kami jika Anda hendak mengkaji suatu aspek tertentu dari media.

Contohnya, saya baru saja menulis tetang acara realita kriminal di televisi sebagai bagian dari sebuah koleksi besar Percetakan Universitas Oxford. Banyak akademisi mengkaji media dengan pendekatan disiplin mereka, dari disiplin kriminologi, misalnya, atau hukum, dan mereka kerap kali, menurut saya, memiliki cari pikir yang sangat simplistik terkait media. Mereka bisa berpendapat bahwa, katakanlah, acara realita kriminal di televisi membuat khalayaknya memandang polisi dengan cara-cara tertentu; ia memiliki efek langsung.

Bagi saya itu adalah cara yang sangat kasar dalam memahami dampak televisi realita kriminal bagi publik. Jika mereka menghampiri disiplin kami, apa yang telah kami pelajari, mereka akan tersadar bahwa masalahnya tidak pernah sesederhana itu. Tiga puluh empat tahun kami sudah mengkaji berbagai cara orang-orang dapat memiliki pendapat berbeda-beda dalam menerjemahkan suatu pesan tertentu dalam televisi realita kriminal.  Jadi ada banyak hal penting yang bisa disumbangkan kajian media dan budaya pada berbagai area ini.

Anda telah mempelajari kajian khalayak untuk waktu yang sangat lama. Bagaimana perkembangan dan perubahan dalam konsep, pemahaman, topik riset, dan metodologi yang Anda lihat?

Ada beberapa paradigma dalam meriset khalayak. Kita sudah berangkat dari paradigma berbasis efek menuju paradigmai inkorporasi-resistensi yang dikembangkan Stuart Hall dalam model encoding-decoding. Paradigma yang sangat penting ini menantang tradisi paradigma efek, ia yang pertama menyatakan bahwa tidak semudah itu menemukan kausalitas atau perkaitan langsung antara konten media dan dampaknya pada khalayak. Jadi, paradigma inkorporasi-resistensi merupakan paradigma penting dalam kajian khalayak pada 1970an dan 1980an, karena ia mengatakan bahwa banyak hal rumit di sekitar riset khalayak, dan kami ingin memahami, bukan hanya makna ideologis di sekitar sistem media, melainkanjuga berbagai cara dari berbagai kelompok, dari pendapatan tinggi hingga pendapatan rendah, atau berbagai kelompok etnisitas, bereaksi pada pesan-pesan.

Lalu kami bergerak pada paradigma ketiga yang disebut paradigma spectacle-performance dalam buku karya Abercrombie dan Longhurst di tahun 1998. Mereka berargumen bahwa paradigma ketiga ini adalah paradigma yang tengah dihadapi kajian khalayak saat ini. Saya tidak yakin bahwa pernyataan tersebut murni benar. Namun, saya rasa memang ada hal yang sangat penting dari paradigma tersebut yang saat ini tengah dihadapi kajian khalayak. Hal paling penting dari paradigma itu, adalah betapa saat ini identitas berada dalam krisis.

Jadi, mengkaji khalayak dengan berangkat dari pemahaman bahwa identitas sebagai subjektivitas tengah berada dalam krisis, adalah salah satu bagian besar dari kajian khalayak masa kini. Mereka mendiskusikan pentingnya pertunjukan (performance) diri di kehidupan sehari-hari. Mereka mengangkat kajian penting Erving Goffman, dan mengajarkan pentingnya kajian tersebut bagi kajian media saat ini. Mereka berbicara tentang pertunjukan diri dan juga identitas diri berada di ranah obsesi terhadap media tontonan (spectacle media), menyaksikan perang atau menyaksikan kegagalan politik, menyasksikan kerusakan alam, tertarik dengan acara hiburan ataupun acara realita, misalnya. Mereka menjelaskan hal-hal tersebut sebagai tontonan (spectacle). Hal tersebut adalah tontonan politik, atau tontonan hiburan.

Menurut saya, di era 1990an, pemikiran itu melampaui jamannya. Kita dapat melihat krisis identitas di hari ini—tidak ada di antara kita yang tidak memiliki semacam krisis eksistensial: siapa kita di dalam masyarakat modern, ingin menjadi orang seperti apa, tetapi juga siapa kita di dalam dan di luar jaringan, siapa kita di rumah dan di tempat kerja? Kita melihat semacam pembelahan identitas. Menurut saya hal tersebut cukup kental terasa di banyak bagian dunia, entah orang bilang bahwa modernitas itu terlambat, atau modernitas itu ditunda, terserah kita berkata apa. Menurut saya, terbelahnya identitas bukanlah “permainan” di antara identitas-identitas yang Anda rasa; ini adalah masalah yang sedang dipikirkan riset khalayak saat ini. Kemudaian, mereka juga membaca tren di sekitar pertunjukan tontonan.

Mereka berhasil membaca dengan baik, karena sekarang hal ini sangat terasa dengan berbagai diskusi terkait Trump dan politik populis sebagai tontonan dan pertunjukan politik, ketika emosi, soundbite, dan berbagai cara ekstrem untuk menyampaikan pesan telah menjadi bagian dari politik jenis itu. Kemudian Anda melihat perlawanan atas tren tersebut dalam beberapa kasus, seperti pemilihan umum Inggris yang menjadi medan permainan berbagai politik pertunjukan dan politik tontonan, oleh tipe-tipe politisi yang sangat berbeda-beda. Jeremy Corbyn misalnya. Orangnya sangat pendiam. Politisi yang tidak berorientasi tontonan kini menarik banyak pemilih muda, tepatnya, karena ia tidak tampak seperti bagian dari politik pertunjukan tontonan. Dia tampak seperti pria biasa, yang selalu berupaya sebisa mungkin, dan berbicara dengan cara yang sangat biasa. Tentunya, perlawanan atas politisi semacam dia juga ada.

Jadi paradigma spectacle-performance dari tahun 1990an berhasil menangkap banyak tren yang akan terus berjalan hingga dua puluh tahun dari sekarang. Namun sebuah tren baru juga muncul untuk kajian khalayak. Paradigma potensial di masa depan adalah bagaimana kita berhadapan dengan kajian khalayak yang terkait dengan khalayak transnasional. Jadi, bagaimana kita mengkaji cara kita mengkonsumsi dan menjadi terikat dengan media di berbagai tempat dan ruang? Transnasionalisme melihat kita sebagai khalayak lokal, juga sebagai khalayak trans-regional di wilayah Nordik, misalnya, dan juga sebagai bagian dari khalayak global, dan memahami berbagai cari keterikatan dengan konten yang bervariasi itu menjadi bagian yang semakin penting dalam kajian khalayak. Ini adalah tipe kajian khalayak yang sangat rumit.  Anda butuh pemahaman berbagai bahasa, berbagai sumber daya. Tetapi menurut saya hal ini akan menjadi semakin penting.

Tren lain adalah riset multimetode, upaya menggabungkan riset kualitatif dan kuantitatif sudah dibangun perlahan dalam dua puluh tahun ke belakang, dan saya rasa upaya ini hanya akan menjadi semakin penting. Kami mengupayakan penggunaan riset multimetode dalam kajian kami.

 Tren ketiga adalah upaya untuk lebih memahami konsep subjektivitas, lebih dari sudut afektif dan emosional, lebih memahami imajinasi, yang sesungguhnya merupakan ranah yang sangat sulit dalam kajian khalayak, yang merupakan hal yang sangat licin dan rumit untuk ditelaah. Menurut saya, semakin penting untuk kita menemukan alat yang tepat untuk melakukan hal itu. Maka lagi-lagi, melangkah melampaui data-data besar, melampaui statistika, melampaui sirvei, sangat sulit untuk menemukan cara baru dalam memahami aspek subjektif dalam kajian khalayak. Ini adalah tantangan besar.

Apakah menurut Anda konsep khalayak berubah karena semua ini?

Menurut saya konsep difusi membaurkan khalayak telah menjadi bagian dari kajian khalayak masa kini. Yang kita bicarakan bukan hanya soal “ada khalayak”. Terkadang khalayak dihadirkan sebagai publik, terkadang sebagai kelompok regional, terkadang mereka adalah konsumen, kadang sebagai penggemar atau fans, kadang mereka pengguna, kadang pengguna juga merupakan produsen. Maka, multisiplitas ini mengalihkan peranan Anda sebagai khalayak, sebagai yang disebut publik, sebagai yang disebut konsumen. Menurut saya ini adalah bagian dari kajian khalayak saat ini. Maka dengan konsep pembauran khalayak ini, sulit menangkap satu jenis khalayak yang dapat mewakili multiplisitas yang kita anggap sebagai “khalayak”.

Bagi saya, istilah itu secara sederhana dibuat untuk pekerjaan kami, yaitu menjelaskan  bagaimana orang menjadi terikat (engaged) dan mengalami media dan budaya. Jadi bagi saya, istilah ini masih relevan. Saya tahu beberapa akademisi menggunakan istilah pengguna (user) sekarang. Mereka secara khusus menelaah lingkungan digital. Namun bagi saya, istilah “khalayak” masih cukup untuk menggambarkan apa yang saya kaji, dan kadang ada khalayak radio atau televisi atau film, terkadang ada khalayak media sosial, terkadang mereka adalah partisipan dalam acara televisi. Maka saya senang saja menggunakan istilah ini, menyebut diri saya peneliti khalayak, meskipun saya mempelajari banyak jenis orang yang melakukan banyak hal dengan media.

Konsep khalayak aktif nampaknya mendapat penerimaan luas di saat ini. Apakah itu artinya beberapa teori lama yang merefleksikan konsep khalayak pasif sudah tidak lagi relevan?

Saya sendiri tentunya menerima jenis paradigma pertunjukan tontonan yang menolak konsep khalayak pasif, dan juga menolak model efek. Saya tentunya menolak itu. Terkadang kita bersantai dan sekedar ingin menerima pengalaman media dan budaya dengan cara pasif, namun ini tidak berarti bahwa kita senantiasa pasif. Itu adalah pilihan, untuk menjadi pasif dan terhibur oleh sesuatu. Saya tidak “mematikan” otak atau tubuh saya; saya hanya memilih untuk menikmati pengalaman. Jadi bukannya saya merasa bahwa kita tidak pernah lebih santai dalam menerima konten media. Kita tidak selalu agresif, sangat awas, atau sangat partisipatoris. Tidak selalu begitu. Terkadang, kita hanya ingin dihibur.

Anda mengkaji penerimaan khalayak atas film Jagal (The Act of Killing) karya Oppenheimer. Bisakah Anda berbagi cerita anda tentang riset ini?

Kami bekerja bersama Oppenheimer dan produser-produernya dalam mewawancarai mereka dan juga memiliki akses pada beberapa lembaga swadaya di Indonesia, dan kami melihat beberapa kajian efek di Indonesia terkait kedua film dokumenter terkait. Maka saya putuskan sebagai perneliti khalayak dari dunia barat, kontribusi terbaik yang bisa saya lakukan adalah melihat penerimaan dalam konteks di luar Indonesia. Kami mengembangkan proyek untuk melihat apa yang kami sebut “keterikatan provokatif” (provocatove engagement) dengan kedua film dokumenter ini dalam konteks penerimaan khalayak transnasional di Inggris, Swedia, Denmark, Jepang, dan Kolombia.

Kami mendapatkan berbagai temuan menarik tentang bagaimana konteks penerimaan yang bervariasi di berbagai penjuru dunia memiliki dampak masif terhadap keterikatan dan penerimaan orang atas dokumenter-dokumenter ini. Maka orang membawa konteks penerimaan mereka masing-masing, pandangan mereka tentang perang, trauma, kenangan kekerasan, dari negara mereka masing-masing ke dalam cara mereka merasa terikat dengan film-film ini. Kami menemukan kontribusi vital ke dalam cara kita bisa memahami dampak dari film-film ini semacam ini.

Dampak film ini di Indonesia adalah satu hal, akan tetapi dampak film ini di Jepang, misalnya, dimana penerimaan mereka sangat terbelah, sangatlah berbeda. Mereka memiliki penerimaan positif atas beberapa hal yang dilakukan film ini, dalam hal gaya dan kejutan yang ditimbulkan, tetapi mereka sangat kritis terhadap tindakan mengingat aktif di film ini. Mereka merasa di Jepang, melupakan adalah tindakan yang dilakukan tanpa pemahaman. Jadi, konteks penerimaan membuat keterikatan menjadi sangat berbeda, dan itu adalah temuan kunci bagi kami. []

Bacaan Terkait
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"