Foto oleh REMOTIVI/Roy Thaniago (CC-BY)
Foto oleh REMOTIVI/Roy Thaniago (CC-BY)
16/08/2017
Annette Hill: Terkadang, Kita Hanya Ingin Dihibur (Bagian I)
{ Read in English } Profesor Kajian Media dan Komunikasi dari Universitas Lund bicara soal hubungan kajian media dengan industri dan politik.
16/08/2017
Annette Hill: Terkadang, Kita Hanya Ingin Dihibur (Bagian I)
Profesor Kajian Media dan Komunikasi dari Universitas Lund bicara soal hubungan kajian media dengan industri dan politik.
{ Read in English }

Media adalah barang lumrah dalam kehidupan modern. Kita terhubung dengan media hampir dalam segala momen kehidupan kita—bahkan ketika kita tidur. Pengalaman orang dalam menggunakan aplikasi pemantau pola tidur atau pengingat waktu solat menegaskan betapa mengakarnya peranan media dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam ranah politik, berita di media telah mengambil peranan penting dalam proses negosiasi, produksi, dan sirkulasi berbagai ideologi dan agenda politik. Rasanya tidak perlu contoh tambahan untuk mengenali kentalnya peran sosial, kultural, dan politik media di dunia kita. Bisa jadi Mark Deuze benar ketika ia menulis dalam Media Life (2011) bahwa “kita hidup di dalam, bukan bersama, media”.

Dalam konteks ini, jelas bahwa disiplin kajian media dan komunikasi diharapkan mampu menjawab berbagai pertanyaan terkait konsekuensi dari praktik bermedia, termasuk aspek produksi dan konsumsinya. Untuk membicarakan ranah kajian media kontemporer, pada awal Juli Roy Thaniago dari Remotivi mewawancarai Annette Hill, Profesor Media dan Komunikasi di Universitas Lund, Swedia. Hill, yang dikenal terutama karena keahliannya dalam kajian khalayak dan budaya populer, telah menerbitkan sejumlah buku termasuk Shocking Entertainmet (1997), Reality TV (2004), Restyling Factual TV (2007), Paranormal Media (2010), The Television Studies Reader (dengan Rober C. Allen, 2003) dan TV Living (dengan David Gauntlett, 1999).

Pada bagian awal wawancara ini, mereka mendiskusikan kajian media secara umum dan kaitannya dengan industri dan politik, serta karya terbaru Hill tentang konsep engagement. Sedangkan bagian kedua membicarakan kajian khalayak yang dilakukan Hill, termasuk penelitiannya tentang respons penonton terhadap dokumenter karya Joshua Oppenheimer The Act of Killing. Bertanggung jawab terhadap pendidikan dan pengarahan penelitian di universitasnya, sekaligus melakukan penelitian pribadi dan membimbing peneliti muda, Hill menggambarkan kesibukannya sebagai “sebuah kehormatan untuk bekerja di bidang yang kau sukai. Pekerjaan yang sangat seru!”


Seperti apa pengalaman pertama Anda dengan penelitian media dan apa yang membuat Anda tertarik?

Ada dua jawaban untuk pertanyaan tersebut. Pengalaman pertama saya sebagai orang biasa dalam melihat kekuatan budaya adalah ketika saya bekerja di sebuah bioskop lokal di Inggris pada usia 16 tahun . Saya bekerja sebagai usherette, istilah Inggris untuk orang yang bekerja memeriksa tiket dan kemudian duduk bersama di dalam ruang tayang untuk memastikan tidak ada pengunjung yang mengobrol atau merokok. Pekerjaan itu sudah tidak ada lagi. Pekerjaan usherette kini tinggal sejarah.

Pada waktu itu,  adalah pekerjaan yang biasa dilakukan remaja. Bayarannya kecil, tapi Anda bisa menonton film secara gratis. Saya bekerja di sana sekitar setahun, hanya menonton bersama para penonton bioskop sembari sesekali mengingatkan mereka untuk tidak berbicara atau merokok (tertawa). Memastikan mereka semua meninggalkan ruangan di akhir acara dan semuanya aman. Jadi saya rasa, saya mulai tertarik pada pengalaman kultural orang di sana, dan sangat menarik memperhatikan reaksi orang pada film horror, romantis, atau laga.

Namun secara profesional, saya mulai meminati hal ini ketika saya mulai mengerjakan disertasi doktoral saya. Awalnya, saya berniat melakukan riset tentang orang yang membaca novel. Saat itu saya juga mulai tertarik dengan film 1990an yang menampilkan kekerasan berlebihan. Seperti film Quentin Tarantino, Reservoir Dog. Banyak film serupa muncul, dan saya teralihkan dari topik disertasi saya di tahun pertama karena berpikir, “saya penasaran bagaimana orang bereaksi terhadap film seperti ini?”. Saya mulai rajin ke bioskop untuk menonton para penonton di sana. Akhirnya, saya mengubah topik saya. Topik baru saya adalah mengenai khalayak kekerasan di media, dan saya meneliti orang-orang yang menonton film-film tersebut, dan saya rasa ini adalah awal karir saya, karena saya mulai sadar bahwa saya lebih tertarik pada manusia itu sendiri daripada artifak budayanya.

Apa riset yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Saya sedang mengerjakan sebuah buku baru untuk Routledge berjudul Media Experiences yang akan dirilis tahun depan. Ini merupakan pengembangan saya atas sebuah konsep yang disebut spectrum of engagement (spektrum keterlibatan), dan apa yang saya ingin lakukan adalah berkontribusi pada teori tentang engagement, yang sejauh ini terutama dikaji oleh orang seperti Peter Dahlgren atau John Corner. Kedua peneliti ini banyak mengkaji aspek politis dari keterlibatan. Yang ingin saya lakukan adalah mengamati aspek kultural dari hiburan dan keterlibatan, serta mengembangkan konsep spectrum of engagement ini, memperluas variasi strategi engagement yang dapat terjadi.

Spectrum of engagement  ini, untuk saya, mencakup keterlibatan negatif dan positif, serta pemutusan keterlibatan (disengagement) dengan artefak budaya. Jadi saya mengamati bagaimana orang mulai terlibat dan juga memutuskan keterlibatan dengan sesuatu pada tingkat yang berbeda-beda, atau bagaimana seseorang jatuh cinta pada satu hal dan memutus cinta pada hal lain. Jadi, saya tertarik pada berbagai spektrum motif keterlibatan yang berbeda-beda.

Melalui konsep tersebut, saya ingin mengembangkan gagasan bahwa, untuk saya, keterlibatan kultural (cultural engagement) adalah tujuan utama bagi khalayak yang terlibat dengan drama, reality show, acara olahraga, atau hiburan. Saya juga ingin menjelaskan kenapa keterlibatan menjadi pengalaman yang sangat penting bagi khalayak. Hal ini berbeda dari, misalnya, teori political engagement yang menganggap keterlibatan sebagai batu loncatan menuju partisipasi politik. Dalam masalah politik, saya setuju dengan gagasan ini, bahwa keterlibatan adalah satu langkah dalam perjalanan menuju partisipasi demokratis. Namun dalam cultural engagement, bagi saya, tidak ada tingkatan lanjut di atas keterlibatan.

Ketika Anda merasa sangat terlibat dengan sebuah program drama, maka Anda telah memiliki pengalaman (experience) itu sendiri. Tidak mesti ada sesuatu yang melampaui dan lebih penting dari keterlibatan. Hal yang paling penting adalah ketika kita merasa terlibat secara total dengan sesuatu. Jadi, saya ingin menjelaskan apa motif keterlibatan itu, dan menyatakan keterlibatan sebagai perjalanan itu sendiri. Perjalanan itu sendiri adalah keterlibatan menuju tingkat partisipatoris. Saya ingin mendasari klaim tersebut melalui studi kasus atas beberapa tayangan drama dan reality television, serta tayangan gaya hidup dan kejadian sehari-hari.

Terakhir, saya ingin menelaah berbagai konteks berbeda yang melatari keterlibatan. Misalnya, seberapa penting ikatan kultural dalam partisipasi langsung di sebuah acara besar jika dibandingkan dengan menonton suatu program melalui Netflix, atau sebuah siaran kanal televisi publik, atau dalam media sosial? Saya ingin melihat berbagai elemen berbeda dalam keterlibatan dan juga membongkar berbagai konteks, dengan berbagai latar waktu, karena saya merasa hal-hal tersebut jauh memperluas spektrum keterlibatan.

Tentunya, saya berharap setelah menelaah cultural engagement saya bisa memberikan masukan bagi pandangan industri. Industri cenderung memandang keterlibatan sebagai ukuran kuantitatif yang terkait dengan rating dan statistik media sosial. Saya ingin melampaui angka-angka tersebut dan menghadirkan pemahaman terkait keterlibatan yang lebih kualitatif, psikologis, dan emosional. Saya ingin berdialog dengan pelaku industri dan membuka pemahaman mereka akan berbagai sisi dan pengalaman keterlibatan yang lebih manusiawi dan bukan sekadar angka. Maka, ada fokus pada pragmatisme industri dalam buku ini.

Secara umum, bagaimana pandangan Anda terhadap praktik kajian media dalam satu dekade ke belakang? Apa kecenderungan dan tantangan yang ia miliki?

Saya pikir ada sebuah diskusi seputar disiplin ini: apakah ia disebut kajian media atau kajian media dan budaya? Terkadang, secara tradisional, ada dua alur berbeda: kajian media cenderung berangkat dari ilmu sosial, dan kajian budaya tentunya lebih mengakar pada ilmu humaniora, dan bagi saya keduanya saling berhubungan. Saya pikir sekarang masalah ini semakin sulit [memisahkan keduanya], melihat betapa media telah ada di mana-mana dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari kita.

Sulit untuk membicarakan media hanya sebagi objek, hanya dalam pandangan teknologis, tanpa memikirkan dampak kultural yang ia sebabkan. Area yang menarik dan menyenangkan adalah dengan menggabungkan kajian media dan budaya. Dengan demikian kita akan masuk dalam pembahasan soal media, masyarakat, budaya. Hal ini menantang karena terkadang kita harus berurusan dengan dua metodologi yang berbeda: metodologi ilmu sosial dan metodologi ilmu humaniora.

Seperti yang sudah Anda tahu, metodologi dari ilmu sosial bisa jadi lebih terfokus pada pembahasan publik, massa, dan survei skala besar atau berbagai pertanyaan sosial seputar media. Dalam kajian budaya, isu metodologisnya bisa berupa interpretasi dan makna atau mungkin lebih semiotik; kekayaan warna sebuah karya fotografi ataupun pertanyaan kultural yang lebih filosofis terkait suatu hal. Menggabungkan kedua area ini, tanpa takut dalam melakukan riset multimetode, menggabungkan dua metodologi berbeda dalam suatu kajian, dapat memberikan hasil yang kaya. Jadi bagi saya, perkembangan masa depan ada di persilangan antara kajian media dan kajian budaya.

Mari membahas konteks sosial dan politik kajian media. Bagaimana Anda memandang hubungan antara akademisi, industri, dan politik?

Itu adalah dua pertanyaan berbeda: soal bagimana akademisi bekerja bersama industri, dan soal bagaimana akademisi terlibat dalam diskusi kebijakan publik dan aktivisme. Baru minggu lalu saya mempublikasikan sebuah edisi spesial di jurnal Media Industries. Saya mempublikasikan riset saya sendiri sekaligus menyunting karya peneliti lain. Kami menulis tentang bagaimana cara bekerja bersama industri, mengapa akademisi perlu bekerja sama dengan industri media, dan keuntungan dari melakukan hal tersebut. Dalam edisi spesial itu, kami mendiskusikan, pertama-tama, keuntungan utama yang krusial dari akses pada pelaku industri yang bisa didapatkan akademisi. Mendapatkan akses masuk pada produksi budaya, akses internal pada dokumen strategis, akses internal pada banyak statistik yang diperoleh dari sistem rating atau analisa media sosial, adalah aset yang luar biasa berharga.

Maka, dalam perspektif akademis, masuk ke dalam industri dan menjalin hubungan dengan tokoh kunci di sana, dan mendapatkan akses pada berbagai materi tersebut, merupakan hal yang sangat penting. Kami selalu mencoba melihat ke luar lingkup pandangan kami, apa yang terjadi di dalam industri, dan bagaimana kami bisa melihat berbagai isu produksi, perburuhan, atau ide-ide strategis dalam lingkup fandom, pelayanan publik media, atau cara penanganan isu etnisitas atau keberagaman. Bagaimana kami bisa memahami hal-hal tersebut tanpa dialog dengan pelaku industri? Maka bagi akademisi, menyambut tantangan ini dan membangun hubungan adalah sebuah keharusan.

Apa yang bisa kami tawarkan bagi industri adalah pertanyaan yang lebih sukar. Mereka sering curiga pada akademisi yang mencoba masuk ke organisasi mereka, [atau] mereka mengharapkan keuntungan pragmatis dari hal tersebut. Jadi, sebenarnya semua soal saling memahami. Mungkin kami memiliki metode atau alat konseptual yang berbeda. Kami bisa menawarkan para produser dan eksekutif pemahaman akan suatu lingkup khusus yang sedang mereka kerjakan. Bagi saya hal itu adalah tentang mengembangkan alur komunikasi yang antara akademisi dan pelaku industri, yang memungkinkan Anda bisa memproduksi pengetahuan sebagai akademisi, lalu dengan cepat bisa mengubahnya menjadi dokumen yang lebih pragmatis. Itulah yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh pelaku industri. 

Soal kedua adalah bagaimana akademisi dapat melakukan semacam intervensi pada suatu kebijakan publik, atau menghasilkan dampak dari aktivisme yang kita kerjakan. Kerap kali dalam melakukan riset akademis, kita bisa menulis laporan singkat yang merangkum temuan penelitian dalam dua halaman yang dapat dengan mudah dipakai oleh LSM atau instansi pemerintahan tertentu, yang kemudian dapat dibahas dalam diskusi dan pertemuan yang berujung kebijakan, dan menurut saya itu adalah hal yang sangat baik.

Kita perlu lebih terlibat dalam berbagai kebijakan terkait media pelayanan publik, misalnya, atau isu transparansi. Ketika Anda terlibat dalam regulasi media, misalnya, dapat terjadi pertukaran yang sangat menguntungkan. Ketika isu yang dibicarakan berhubungan dengan kekuasaan, atau korupsi terkait industri media dan tokoh politik, penting bagi akademisi untuk mengambil sikap tegas dan menggunakan perspektif kritis untuk menentang korupsi, mendorong transparansi, dan terlibat dalam perdebatan politik. []


Baca bagian kedua


 

Bacaan Terkait
Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna