Foto: djatinangor.com
Foto: djatinangor.com
09/05/2017
Zen RS: Kami Ingin Membangun Kultur Riset di Media
Sebuah wawancara dengan Zen RS, editor-at-large Tirto.
09/05/2017
Zen RS: Kami Ingin Membangun Kultur Riset di Media
Sebuah wawancara dengan Zen RS, editor-at-large Tirto.

Dua hingga tiga tahun terakhir, banyak media baru yang muncul meramaikan industri media di Indonesia. Selain yang berbasis di Jakarta, beberapa media merupakan franchise dari media-media luar negeri. Beberapa media tersebut antara lain Vice Indonesia, Rappler Indonesia, CNN Indonesia, Kumparan, dan Beritagar. 

Pada satu sisi, kehadiran media-media baru bisa menambah kanal informasi alternatif untuk publik. Akan tetapi di sisi lain, jika tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam konten antara masing-masing media, itu justru bisa menambah sampah informasi. Tirto menjadi salah satu media baru yang membawa model jurnalisme data untuk membedakannya dengan media lain. Belakangan, Tirto terlibat persoalan setelah menayangkan liputan jurnalis Allan Nairn yang menyebut ada upaya makar ke pemerintah. Karena berita itu, Tirto sempat diancam dipolisikan oleh TNI dan Hary Tanoe.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang Tirto, peneliti Remotivi, Wisnu Prasetya Utomo, mewawancarai editor-at-large Tirto, Zen Rachmat Sugito, di kantornya (6/4). Dalam obrolan sepanjang 2 jam tersebut, Zen bercerita tentang latar belakang didirikannya Tirto, tantangan jurnalisme data, sampai potensi liputan-liputan panjang di Indonesia. Ia meminta beberapa pernyataannya tidak dikutip.  


Tirto hampir berusia setahun, apa yang membedakannya dengan media-media lain di Indonesia?

Saya kira setiap media mengklaim dirinya berbeda dengan  yang lain. Wajar-jamak. Tapi apa yang membedakan Tirto dengan media yang sudah ada?  Saya tidak mau ngomongin yang abstrak-abstrak di level gagasan atau konsep, tapi kita lihat apa yang dipresentasikan di sehari-harinya Tirto.

Satu, Tirto selalu punya konten tulisan yang hampir selalu ada infografisnya. Ini berbeda dengan media lain meski perlu diingat, kita belum berdebat apakah infografisnya bagus atau tidak, jurnalisme data atau bukan. Akan tetapi, hampir di setiap konten Tirto selalu terdapat infografis.

Dua, jumlah reporter kita tidak lebih banyak dari pada jumlah para penulis dan itu terlihat dalam apa yang ditampilkan di situsweb. Kita bukan tidak memproduksi berita-berita pendek, tapi belum dalam jumlah yang masif. Hal ini bukan berarti bahwa beirita pendek tidak penting, tetapi kita memang memilih bukan itu wajah Tirto yang ingin ditampilkan.

Saya melihat beberapa tulisan di Tirto sebenarnya tidak perlu infografis  tetapi tetap ditampilkan, apa tujuan menampilkan infografis di setiap tulisan?

Infografis bentuknya bisa macam-macam, bisa berupa data penunjang yang mungkin tidak ada di tulisan tapi berupa konteks, bisa juga berupa ringkasan dari tulisan.

Saya bisa paham kalau ada yang beranggapan infografis itu dibikin-bikin. Akan tetapi kami juga sadar dengan potensi bahwa tidak setiap orang punya waktu membaca yang sama. Jadi, infografis bisa membantu pembaca yang tidak punya banyak waktu luang tetapi tetap bisa mendapatkan informasi.

Kami sadar infografis itu bisa sangat berguna. Apalagi kita tumbuh dalam tradisi media sosial yang menjadi serba lebih mudah ketika orang melihat secara visual. Selama kontennya layak, hal itu bisa sangat berguna, informatif, dan bisa membantu banyak hal misalnya meluruskan kesalahpahaman yang sudah telanjur beredar.

Mengapa tidak banyak berita pendek di Tirto?

Kami tetap memproduksi berita-berita pendek meski memang sampai saat ini fokusnya lebih ke liputan-liputan in-depth reporting seperti kasus Mayora, petani Kendeng, dan sebagainya. Selain itu, laporan-laporan semi analisis yang di Tirto disebut sebagai mild report.  

Mild report merupakan usaha untuk melihat sebuah peristiwa dengan perspektif lain yang didukung data dan keberanian melakukan analisis yang berdasar pada data yang sebenarnya. Pun mau merujuk sumber-sumber yang lain kita selalu berusaha menggunakan sumber yang kredibel. Kita punya daftar jurnal dan media internasional yang boleh dan tidak boleh dirujuk.

Jadi, berita-berita pendek itu tetap jalan terus. Semakin ke sini jumlahnya makin banyak, tetapi ini memang tidak kita pilih sebagai wajahnya Tirto. Nah, wajah inilah yang kemudian mungkin membuat Tirto terlihat berbeda padahal tim news tetap ada. Selain itu, sejak awal kami memang menyiapkan tim penelitian dan pengembangan (litbang) sendiri untuk membangun kultur riset di media dan menyiapkan diri untuk menuju apa yang disebut sebagai jurnalisme data.

Apa yang dikerjakan tim litbang?

Selain melakukan riset mandiri, tim litbang Tirto juga melakukan periksa data. Mereka memasok kebutuhan data bagi semua reporter dan penulis kami. Saya kira di setiap media hampir pasti problemnya adalah sistem litbangnya belum atau sudah siap.

Kultur riset inilah yang penting untuk menuju jurnalisme data. Pembaca hanya melihat presentasi konten yang sudah jadi. Akan tetapi, kalau memang media ingin ideal, mereka membutuhkan infrastruktur data sendiri. Infrastruktur, dalam hal ini, artinya adalah tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) khusus untuk itu dan alur kerja yang, mau tidak mau, harus sinkron dengan ruang redaksi.

Dengan minimnya berita pendek dan lebih banyak liputan panjang serta semi analisis, apakah banyak yang membaca Tirto?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut saya perlu meluruskan satu hal. Memang Tirto terlihat banyak menampilkan liputan panjang bila dibandingkan media lain. Akan tetapi sebenarnya berita yang diproduksi oleh Tirto tidak selalu panjang. Cukup sering juga berita-berita pendek muncul.

Soal pembaca liputan panjang, dari pengalaman Tirto sebenarnya panjang-pendek tulisan itu sering tidak berpengaruh. Dalam periode tertentu, konten-konten yang banyak dibaca bervariasi: kadang liputan panjang, kadang berita-berita pendek. Akan tetapi memang sejak awal, liputan panjang ini disadari oleh para pendiri Tirto sebagai langkah membuat diverisifikasi.

Bisa jadi tidak banyak yang membaca liputan panjang, tapi berita-berita pendek pun belum tentu bisa menghasilkan keuntungan besar bagi bisnis media. Tirto dari awal sadar tidak untuk head to head dengan media yang masif dengan berita yang serba cepat dan secara kuantitas juga banyak.

Jadi potensi pembaca liputan-liputan panjang di Indonesia  itu banyak?

Bisa dibilang begitu. Kalau bicara keterbacaan, potensi bagi liputan-liputan panjang (long form) itu ada. Persoalannya kemudian adalah bagaimana mereplikasi liputan-liputan panjang itu agar bisa diproduksi semakin banyak. Itu pekerjaan rumah bagi media-media yang memilih menjalankan slow journalism.

Setelah itu, karena kita berada di era digital, maka kita butuh intervensi khusus agar sebuah liputan bisa dibaca banyak orang. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa tidak semua isu yang bagus akan dibaca orang.  Intervensi ini, maksud saya, ketika menerbitkan sebuah liputan baik panjang atau pendek, redaksi juga harus mempertimbangkan kerja-kerja tim litbang, media sosial, bahkan marketing. Untuk Tirto sendiri, dari sisi traffic saya bisa bilang memuaskan untuk kami tingkat keterbacaannya.

Dalam merumuskan tema-tema liputan, apakah Tirto didorong oleh isu atau  percakapan yang sedang hangat di media sosial?

Pada dasarnya jurnalisme tidak bisa abai dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Apa yang terjadi di sekelilingnya itu ‘kan kenyataan sosial yang mempengaruhi penentuan isu. Di Tirto, ada isu yang diangkat dari percakapan di media sosial, tapi tidak selalu begitu. Yang terpenting adalah bagaimana cara merumuskan perspektif.

Di Tirto, perspektif ini sering dipengaruhi orang-orang yang memang pada awalnya tidak hanya berlatar belakang jurnalis, melainkan penulis. Maksudnya, para penulis ini adalah yang berlatar belakang esais, penulis novel, puisi, juga cerita pendek dan kebetulan saya termasuk bagian segmentasi kelompok seperti itu.

Para penulis ini biasanya punya sejarah membaca buku yang cukup baik, terutama keterlibatan dengan diskursus terhadap wacana. Jadi, mereka cenderung mudah untuk mengambil perspektif yang bisa dibilang unik dalam melihat peristiwa tertentu.

Saya sering membaca tulisan di Tirto yang lebih banyak narasi ketimbang data yang dipaparkan. Apakah ini pengaruh dari kategori jurnalis dan penulis yang anda sebut tadi?

Tidak setiap naskah kita bisa  berhasil memenuhi standar yang kami inginkan. Kategori jurnalis dan penulis itu bukan pembagian yang kaku. Ketika melakukan sebuah liputan, secara praktis kategori tadi tidak berlaku.

Sebagai editor at large, saya selalu minta harus ada satu tulisan yang memberikan konteks. Saya percaya bahwa tidak pernah ada peristiwa sosial, apalagi berskala besar, yang muncul  tiba-tiba. Peristiwa-peristiwa tersebut selalu ada latar belakangnya atau prakondisinya. Selalu ada konteks historis, ekonomi politik, sosiologis, atau apapun.  

Dalam profilnya, Tirto menyebut ingin mempraktikkan jurnalisme presisi. Di Indonesia, praktik ini kalau tidak salah sudah sejak dulu sering disebut oleh Kompas. Apakah ini sama dengan jurnalisme data dan memang akan menjadi tren di media di Indonesia?

Jurnalisme presisi itu sebenarnya merupakan istilah yang bisa dipertukarkan dengan jurnalisme data. Trennya sudah kelihatan, dan pada dasarnya hal itu sudah dilakukan oleh media-media di Indonesia sejak lama. Kompas misalnya, punya Pusat Informasi Kompas. Tempo punya Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) yang ngumpulin arsip-arsip dari dulu. Belakangan juga ada Katadata. Beritagar juga memiliki investisasi besar dalam apa yang mereka sebut sebagai lokadata.

Apa problem yang anda hadapi di Tirto dalam mempraktikkannya?

Bicara tentang jurnalisme data atau jurnalisme presisi tidak semata-mata ihwal keunggulan data tetapi juga presentasi. Jurnalisme data itu juga bisa dipakai untuk memperkuat cerita. Ada banyak contoh laporan jurnalisme data  yang sebenarnya bernarasi juga. Ada yang hanya visual. Di mana pun saya kira menarasikan data memang membutuhkan kecakapan, namun dalam hal-hal tertentu sering kali tidak terhindarkan tulisannya menjadi garing. Apalagi kalo tidak ada faktor human interest yang cukup kuat dalam isu yang dibahas.

Di Tirto, salah satu problem menarasikan data keras itu menjadi hal yang paling sulit ketika masuk ke isu-isu ekonomi seperti mata uang. Problemnya akan berlipat-lipat, misalnya bagaimana meletakkan sebuah data atau liputan tentang mata uang secara naratif. Selama ini solusinya adalah dengan tidak bersikeras menarasikan setiap data, tapi bisa meletakkkan data yang kaya tapi sudah disaring dengan konteks yang tepat.

Meletakkan angka tanpa konteks bisa membuat statistik mengecoh. Berhasil menggunakan data dengan konteks yang tepat sehingga data tersebut tidak dibaca secara liar, menurut saya menjadi pekerjaan rumah dan salah satu puncak keberhasilan dalam mempresentasikan data.

Di Tirto, salah satu praktik jurnalisme data seperti Anda sebutkan adalah melakukan periksa data atau fakta terkait isu-isu tertentu. Bisa dijelaskan?

Kami membuat rubrik periksa data setiap Selasa dan Kamis. Basisnya adalah isu yang sedang hangat. Misalnya, ketika presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu memprotes kebijakan perdagangan antara Amerika Serikat dan Indonesia yang dia anggap menguntungkan Indonesia, kami menguji pernyataan tersebut.

Di situlah urgensi periksa data –justru pada kejadian-kejadian insidentil. Jangan sampai sebuah peristiwa dimanipulasi tokoh atau pejabat tertentu dan dibiarkan salah sehingga bisa dimanipulasi dengan data keliru dan berdampak panjang.

Mengapa memunculkan periksa data?

Kami ingin mengenalkan kegiatan periksa data. Dilakukan atau tidak dilakukan Tirto atau media lain, perdebatan tentang data pasti akan terjadi di media sosial, dengan segala macam bias, preferensi politik, maupun basis data dan metodologis. Saya menganggap media penting terlibat perdebatan data itu. Justru media, dengan infrastruktur itu, punya tanggung jawab sosial untuk menjelaskan data yang kita miliki. Di Amerika misalnya, ketika debat pemilihan presiden yang terdapat banyak sekali pihak yang melakukan periksa data. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh media tetapi juga lembaga-lembaga independen, yang pada prosesnya mereka pun mengalami permasalahan soal data.

Di Pilkada Jakarta kemarin, khususnya dalam acara debat, Tirto membuat periksa fakta secara real time. Ini kemudian ditiru oleh media-media lain di debat selanjutnya. Bukankah metode semacam ini bisa memunculkan misleading karena kekeliruan menempatkan konteks sebuah data? 

Tentu saja. Itu salah satu perdebatan metodologis di internal apakah periksa data bisa dilakukan langsung atau tidak. Kami kemudian memutuskan periksa data dilakukan langsung karena dampak terbesar debat, setidaknya di media sosial, adalah pada saat acara berlangsung. Apabila dilakukan besok harinya, orang tidak sempat membaca periksa data. Biasanya yang kami lakukan adalah mekanisme ralat dengan tulisan panjang yang datanya diverifikasi ulang.

Untuk menghindari kesalahpahaman, dalam periksa data debat pemilihan gubernur Jakarta kemarin kami menggunakan data dari BPS yang dikeluarkan dari pemerintah. Data tersebut merupakan data yang dianggap bisa kita sepakati bersama, yang diharapkan dapat melokalisasi perdebatan.

Bagaimana dengan ketersediaan data yang bisa dikutip?

Kalau dari BPS kami tidak perlu berlangganan karena bisa diakses secara terbuka. Selain itu, kami juga berlangganan riset-riset dari lembaga statistik besar di dunia sebagaimana setiap media langganan informasi dari kantor berita. Dengan demikian, kami mendapatkan riset-riset muktahir yang penting sebagai sumber tulisan.

Misalnya, kemarin kami menulis soal Zakir Naik yang datang ke Indonesia. Saya minta ke penulis untuk mencari potensi pemeluk agama sampai 2050. Ternyata ada lembaga riset yang mempunyai data tersebut dengan melihat tren 50 tahun terakhir dan memprediksi ke depan. Kemudian, tim litbang kami akan menakar hasil risetnya layak atau tidak untuk dikutip. Kalau litbang ngasih izin, kami akan eksekusi. Tim litbang yang akan membaca dari sisi teknis, melihat metodologinya, untuk kemudian disajikan kepada penulis untuk diolah dan dinarasikan.

Soal ketersediaan di Indonesia, meski sudah ada UU Keterbukaan Informasi Publik, masih banyak yang tidak bisa diakses terutama soal anggaran dan beberapa informasi lain. Karena itu di tim litbang ada yang kami tugaskan untuk mengumpulkan data ke institusi-institusi pemerintah. Selain itu, kami mempunyai tim riset yang bisa diminta turun ke lapangan. Setahu saya, riset-riset seperti survey atau polling yang kami lakukan tidak pernah di bawah 500 jumlah respondennya. Pernah bikin survey sendiri sampai 2.000. Kerja riset yang dilakukan oleh media seperti ini menurut saya penting untuk mendukung kerja jurnalistik. []

Bacaan Terkait
Populer
5 Kasus Kekerasan Anak Karena Tayangan Televisi
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Apakah Agama Penting Bagi Jurnalis?
Stereotipe Perempuan dalam Media
Tak Ada Evaluasi dalam Evaluasi Dengar Pendapat KPI