Kepada Yth.
Komisi Penyiaran Indonesia
Di Jakarta

Dengan hormat,

Akhir-akhir ini kami banyak menyaksikan tayangan di televisi yang melibatkan hewan dalam programnya. Maka lewat surat terbuka ini kami ingin menyampaikan beberapa hal berikut:

1. Tayangan dengan muatan kekerasan dan sadisme (darah)

Beberapa tayangan yang melibatkan hewan kami dapati memiliki unsur kekerasan yang terlihat dari adegan membunuh hewan secara sadis, mempertontonkan hewan dengan cara ditundukkan melalui kekerasan terlebih dahulu, atau mempermainkan batas ambang hidup hewan demi hiburan. 

Tayangan demikian, menurut Pedoman Perilaku Penyiaran-Standar Program Siaran (P3-SPS), telah melanggar pasal 26 SPS mengenai pelarangan program siaran kekerasan. Pada ayat 1 tertulis: “Program siaran dilarang membenarkan kekerasan dan sadisme sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari”. Lalu pada ayat 3 juga disebutkan mengenai pelarangan adegan kekerasan dan sadisme. Pada butir (c) tertulis: ”Pembunuhan yang dilakukan dengan sadis baik terhadap manusia maupun hewan, seperti: memotong-motong bagian tubuh, menggantung dengan maksud menyiksa/membunuh”.

Selain melanggar P3SPS, kekerasan terhadap hewan juga melanggar Pasal 302 KUHP. Pada ayat 1 yang tertulis:  

Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan:

(1) barang siapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya;

(2) barang siapa tanpa tujuan yang patut atau dengan melampaui batas yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makanan yang diperlukan untuk hidup kepada hewan, yang seluruhnya atau sebagian menjadi kepunyaannya dan ada di bawah pengawasannya, atau kepada hewan yang wajib dipeliharanya.

Pada Pasal 7 pada UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekositemnya: Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

Pada Pasal 66 ayat 1, ayat 2 (a,c,e,f,g) UU No. 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang tertulis sebagai berikut:

  1. Untuk kepentingan kesejahteraan hewan dilakukan tindakan yang berkaitan dengan penangkapan dan penanganan; penempatan dan pengandangan; pemeliharaan dan perawatan; pengangkutan; pemotongan dan pembunuhan; serta perlakuan dan pengayoman yang wajar terhadap hewan.
  2. Ketentuan mengenai kesejahteraan hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara manusiawi yang meliputi:
    1. penangkapan dan penanganan satwa dari habitatnya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan di bidang konservasi;
    2. pemeliharaan, pengamanan, perawatan, dan pengayoman hewan dilakukan dengan sebaikbaiknya sehingga hewan bebas dari rasa lapar dan haus, rasa sakit, penganiayaan dan penyalahgunaan, serta rasa takut dan tertekan;
    3. penggunaan dan pemanfaatan hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas dari penganiayaan dan penyalahgunaan;
    4. pemotongan dan pembunuhan hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas dari rasa sakit, rasa takut dan tertekan, penganiyaan, dan penyalahgunaan;
    5. perlakuan terhadap hewan harus dihindari dari tindakan penganiayaan dan penyalahgunaan.

Selain itu, munculnya kekerasan terhadap hewan di televisi, kami nilai merupakan suatu bentuk reproduksi kekerasan yang berpotensi membunuh kepekaan manusiawi, sekaligus membangun cara pandang yang salah dalam memperlakukan hewan. Pun patut juga memperhatikan tingkat kepekaan yang berbeda dari setiap orang ketika menonton tayangan yang bersifat sadisme.

Contoh tayangan yang dimaksud:

    • Berburu, Trans 7
    • Mancing Mania, Trans 7
    • Petualangan Panji, Global TV
    • Gadis Petualang, Global TV
    • Steve Ewon Sang Pemburu, Global TV
    • Berbagai siaran berita mengenai pemotongan hewan kurban pada saat Idul Adha

2. Pengabaian hak anak-anak (pendidikan dan rasa aman-nyaman)

Anak-anak memiliki hak untuk bertumbuh dengan sehat melalui tayangan yang mendidik dan memberikan rasa nyaman. Hak ini kemudian dirampas oleh tayangan-tayangan yang mempertontonkan tindak kekerasan dan sadisme pada hewan. Melaluinya, anak-anak kemudian tumbuh dengan kekerasan sebagai sebuah pengalaman yang lazim. Sadisme dan kekerasan dibiasakan menjadi menu santapan harian pada layar televisi.

Sudah semestinya pembuat tayangan bisa lebih peka dengan memperkirakan adanya penonton anak-anak yang ikut menonton tayangan yang mereka buat. Maka dari itu, para pembuat tayangan perlu memperhatikan jam tayang, dan dibarengi kesadaran etis dengan menampilkan klasifikasi tayangan yang tepat dan benar sepanjang siaran. Bijaknya, pelibatan hewan sebagi materi tayangan harusnya lebih menjadi sarana pendidikan yang memberikan pengetahuan dan pembentukan karakter anak-anak.

Contoh tayangan yang dimaksud:

    • Berburu, Trans 7
    • Mancing Mania, Trans 7
    • Petualangan Panji, Global TV
    • Gadis Petualang, Global TV
    • Steve Ewon Sang Pemburu, Global TV

3. Informasi yang keliru

Beberapa tayangan yang melibatkan hewan kami nilai telah keliru dalam memberikan informasi. Misalnya saja tayangan yang memperagakan cara menangkap ular, dapat berpotensi memberikan pemahaman yang keliru dalam menghadapi satwa liar dan pemaknaannya atas alam. Tayangan macam ini, yang diduga merekayasa peristiwa, juga berpotensi menciderai ilmu pengetahuan. Tayangan ini kerap menginformasikan keberadaan hewan di suatu tempat yang belum tentu merupakan habitat tempat hewan tersebut hidup (karena merekayasanya dengan membawa hewan sebagai properti). 

Contoh tayangan yang dimaksud:

    • Petualangan Panji, Global TV
    • Gadis Petualang, Global TV
    • Steve Ewon Sang Pemburu, Global TV

4. Tayangan mengabaikan kesejahteraan hewan

Seperti manusia, hewan juga makhluk hidup yang hak hidupnya patut diperhatikan, dan karenanya ada aturan dan konvensi yang mengatur masalah ini. Namun, beberapa tayangan kami lihat tidak memperhatikan kesejahteraan hewan yang digunakan. Ini bisa dilihat pada beberapa tayangan yang mempermainkan nyawa hewan dan membunuhnya secara sadis hanya untuk tujuan hiburan yang dangkal. Memang, pada dasarnya manusia diperkenankan untuk memanfaatkan hewan, misalnya untuk tujuan konsumsi secara wajar atau ketika manusia melindungi diri dari ancaman hewan tersebut. Tapi tentu tidak dibenarkan ketika hak hidup hewan digunakan di luar tujuan yang sewajarnya.

Contoh tayangan yang dimaksud:

    • Berburu, Trans 7
    • Mancing Mania, Trans 7
    • Petualangan Panji, Global TV
    • Gadis Petualang, Global TV
    • Steve Ewon Sang Pemburu, Global TV

5. Tayangan yang mendorong penyimpangan hobi

Beberapa tayangan televisi cenderung mengabaikan status perlindungan dari satwa yang ditampilkan. seperti menampilkan elang yang dapat dimainkan, dipelihara, dan cenderung hanya mengedepankan eksploitasi hewan untuk kepentingan pertunjukan.

Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang “Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya” melarang memperjualbelikan satwa yang dilindungi dan populasinya jarang, baik secara utuh atau perbagian-bagian tubuhnya. Jika tayangan yang ditampilkan tidak tepat, maka dikhawatirkan akan menggiring masyarakat untuk memiliki satwa yang ditampilkan karena ketidaktahuan mereka tentang status perlindungannya.

 

Sehubungan dengan sikap keberatan di atas, kami minta dengan hormat agar:

    • Pelibatan hewan harus diproyeksikan untuk kepentingan pendidikan

Pihak stasiun televisi dan rumah produksi dapat mengubah konsep tayangan tersebut ke arah yang lebih edukatif, tidak eksploitatif, dan tidak menampikan kekerasan terhadap hewan.

    • Peka terhadap adanya penonton anak-anak

Pihak stasiun televisi dan rumah produksi perlu menyadari adanya kemungkinan anak-anak sebagai khalayak penonton. Karenanya, tayangan yang dibuat harusnya bisa lebih memperhatikan, menghargai, dan menghormati hak anak.

    • Peka terhadap kesejahtaraan hewan

Pihak stasiun televisi seharusnya juga bisa memperhatikan kesejahteraan hewan sehingga hewan tidak disiksa dan dipermainkan untuk sebuah pertunjukan belaka.

    • Melakukan observasi lapangan yang mendalam

Kami meminta agar tiap produksi tayangan memperhatikan ketepatan informasi. Karenanya, upaya observasi yang mendalam sebelum berproduksi perlu dilakukan dengan sungguh. Tujuannya agar tidak terjadi kesesatan informasi yang sampai pada penonton

    • Catatan untuk KPI

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang selama ini kurang memperhatikan isi siaran yang melibatkan hewan, agar dapat lebih memperhatikan hal ini dengan cara memberi ruang pada P3-SPS .

Sebagai catatan tambahan, turut kami lampirkan sebuah tulisan berjudul Menonton Hewan di Layar Kaca yang dimuat di KOMPAS pada edisi 16 Juli 2011.

Demikian Surat Terbuka ini kami sampaikan. Kami berharap agar pihak-pihak yang kami maksud dalam surat ini dapat segera menanggapi dengan bijak. Semoga ke depannya, tayangan yang melibatkan hewan semakin hari semakin baik dan edukatif.

Terima kasih. 

Jakarta, 28  November 2011

Jefri Gabriel
Divisi Advokasi Remotivi
081808410655 | jefrigabriel@remotivi.or.id

Tembusan:

Disampaikan kepada yang terhormat:

  1. Trans 7
  2. Trans TV
  3. MNC TV
  4. Global TV
  5. RCTI
  6. Indosiar
  7. SCTV
  8. ANTV
  9. TV One
  10. Metro TV
  11. Lembaga Sensor Film
  12. Komnas Perlindungan Anak

Lembaga yang ikut mendukung:

1. Wildlife Crime Unit
2. Lembaga Advokasi Satwa
3. ProFauna Indonesia
4. Equator Indonesia
5. Jakarta Animal Aid Network (JAAN)