REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
14/11/2018
Peliputan Lion Air: “Human Interest” yang Tak Humanis
Kecelakaan pesawat adalah tragedi. Ada yang berduka, ada yang bekerja, tapi ada media-haus-klik yang sibuk menambang laba.
14/11/2018
Peliputan Lion Air: “Human Interest” yang Tak Humanis
Kecelakaan pesawat adalah tragedi. Ada yang berduka, ada yang bekerja, tapi ada media-haus-klik yang sibuk menambang laba.

“Saya dengar penerbangan dari Bali sudah bermasalah, kan. Kenapa tetap terbang?” tanya Fendy, 43, sambil duduk di trotoar depan Rumah Sakit Polisi di Jakarta Timur, mencoba memahami.

Kutipan tersebut membuka sebuah artikel The Guardian berjudul "'Why did it fly?' Grief mixes with anger over crashed Lion Air flight". Artikel tersebut mendalami pengalaman keluarga korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 saat menanti hasil forensik yang mencocokkan jejak DNA korban dengan potongan jasad yang berhasil ditemukan.

Proses terus berjalan hingga pantauan ini ditulis. Mayoritas keluarga korban belum menemukan potongan tubuh untuk dikuburkan.

Dalam peliputan peristiwa mendadak, seperti kecelakaan ini, memang ada dua cara. Pertama, berkaitan dengan informasi-informasi dasar mengenai kecelakaan itu sendiri. Dari hal-hal berkaitan dengan penyebab kecelakaan sampai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pengambil kebijakan dalam merespon sebuah peristiwa.

Cara kedua, adalah liputan human interest seperti artikel The Guardian di atas. Dalam berkisah, ia lebih mengandalkan penggambaran orang secara emosional daripada data-data keras.

Jurnalisme human interest ini seringkali dikritik sebagai manipulatif dan sensasionalistik. Bob Franklin (1997) pernah menyebut bahwa berita-berita dengan human interest yang tinggi justru bisa melemahkan peran media dalam demokrasi. Pangkalnya, dengan fokus pada cerita-cerita yang menarik dan ringan, ia lebih fokus pada apa yang kira-kira akan menjadi perhatian publik alih-alih apa yang menjadi kepentingan publik. 

“Cara (peliputan) yang mengeksploitasi tragedi personal sebagai tontonan publik sekarang semakin jamak terjadi,” keluh Franklin. Peliputan tentang kebijakan pemerintahan yang lebih serius dan faktual, di sisi lain, menunjukkan penurunan. Franklin menyalahkan komersialisasi berlebihan sebagai alasan dari regresi ini.

Benarkah begitu?

Peliputan The Guardian memang tidak memberi tahu terlalu banyak informasi faktual tentang kecelakaan JT 610. Ia tidak bicara banyak tentang analisis penyebab kecelakaan, masalah struktural, atau kritik terhadap kebijakan. Namun ia menjalankan peranan yang lain: ia memberi wajah pada peristiwa sejarah.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang emosional. Jauh lebih mudah bagi manusia untuk merasa terhubung dengan kisah emosional, kisah yang dekat dan bisa mereka bayangkan dengan pengalaman mereka, dibandingkan data angka atau konsep abstrak tentang kesalahan struktural. Di saat bersamaan, pengalaman korban juga direpresentasikan dan divalidasi di muka umum. Mungkin, kritik Franklin tersebut tidak mesti berlaku dalam semua kondisi.

Kedua sisi koin peliputan ini punya fungsi masing-masing. Kita perlu membincangkan kecelakaan sebagai masalah struktural dan belajar dari sisi-sisi faktual, namun publik awam juga perlu kisah emosional yang bisa membantu mereka memahami peristiwa yang asing dan “jauh” seperti kecelakaan secara lebih dekat.

Sayangnya, dalam pemantauan, konsep peliputan “human interest” yang dijalankan di Indonesia nampaknya hanya akan memvalidasi kritik Franklin.

Human Interest yang Tak Memanusiakan

Dalam mengangkat aspek-aspek manusia dalam kecelakaan Lion Air, banyak media nasional masih menggunakan konsep human interest yang kasar dan sensasionalistik.

Tanpa sensitivitas trauma, beberapa media mencoba menggali cerita-cerita personal dari korban maupun keluarga korban, dan dalam beberapa hal sumber yang sama sekali tidak berkaitan dengan korban. Tribunnews.com menjadi media yang paling antusias. Sejak Senin 29 Oktober, hanya beberapa jam setelah berita mengenai kecelakaan pesawat Lion Air, Tribunnews.com mempublikasikan setidaknya 20 berita mengenai pramugari Lion Air yang berada di pesawat tersebut.

Berita-berita tersebut adalah berita daur ulang dari postingan-postingan media sosial pramugari Lion Air. Tribun Timur malah mempublikasikan foto-foto dari akun Instagram salah seorang pramugari. Tidak lupa, dari sebagian besar berita tentang pramugari tersebut, selalu ada embel-embel “pramugari cantik”. Bukannya berfokus pada aspek pengalaman manusiawi, representasi ini malah mengobjektivikasi korban.

Entah apa yang dibayangkan oleh wartawan Tribun ketika mereka mengulik-ulik akun media sosial orang-orang yang baru wafat. Namun dari sana kita bisa menilai bahwa Tribun lebih memilih mengabaikan etika dan tetap memilih berkiblat pada logika “klik”. Ini adalah contoh pertunjukan paling gamblang dari sebuah media yang mengeksploitasi korban kecelakaan untuk mendapatkan panen klik dari pembaca.

Hal lain yang mesti diperhatikan adalah bagaimana beberapa media berusaha menampilkan berita atau informasi yang sama sekali tidak berhubungan dengan kecelakaan namun tetap dilekatkan dengan peristiwa tersebut agar nilai beritanya—atau tepatnya, nilai kliknya—tetap ada. Detik.com, misalnya, menampilkan foto-foto presenter televisi dengan memberi judul “Sempat Naik Lion Air, Presenter ini Ternyata Suka Udon”. Sama sekali tidak nyambung bukan? Beberapa saat kemudian judul tersebut diganti.

Satu sisi buruk potensial dari human interest, adalah titik beratnya pada “ketokohan”, yang kerap mereduksi peliputan menjadi terfokus pada selebritas dan figur-figur “penting”. Hal ini terlihat ketika beberapa media menulis pengakuan salah satu presenter Trans TV yang di akun Instagram-nya menulis bahwa ia sempat naik pesawat yang sama sehari sebelum pesawat tersebut jatuh. Ringkasnya, presenter ini menulis bahwa pesawat tersebut bermasalah.

Pengakuan itu segera disambar oleh berbagai media. Dream.co.id mempublikasikan berita berjudul “Pengakuan Mengerikan Penumpang JT610 Saat Masih di Bali”. Tribun menulis berita berjudul “Cerita Presenter TransTV Naik Lion Air JT610 Malam Hari Sebelum Kecelakaan, 'Muntah, Kurang Oksigen'”, Viva.co.id menulis berita berjudul “Kesaksian Mengerikan Penumpang Lion Air JT 610 Sebelum Jatuh”, sementara Tempo.co mempublikasikan berita berjudul “Kesaksian Seram Penumpang: Lion Air Sempat Bermasalah di Bali”.

Semua berita tersebut bersumber pada akun media sosial presenter Trans TV Chonchita Caroline. Masalahnya, ternyata pengakuan tersebut keliru, Caroline naik pesawat yang berbeda. Media menunjukkan kesetiaan yang lebih tinggi pada suara figur-figur yang menarik klik daripada kepada faktualitas.

Dream.co.id mengubah judulnya diam-diam, Tempo.com memberikan klarifikasi tambahan di akhir berita, berita Tribunnews dan Viva tidak diubah, setidaknya sampai artikel ini ditulis. Ini menunjukkan lapisan lain dari buruknya peliputan: bayangkan, berita yang sudah terbukti tidak akurat tetap dipertahankan.

Mengisahkan Manusia Dengan Baik

Setidaknya, lebih baik daripada pengisahan human interest yang kacau balau dan eksploitatif, beberapa media nasional telah menghadirkan kisah menarik dan informatif terkait aspek-aspek faktual di balik kecelakaan Lion Air.

Berita-berita seperti “Kejanggalan-Kejanggalan Lion Air JT 610 yang Harus Diusut KNKT” dari Tirto.id dan “Anomali rekam jejak penerbangan Lion Air B38M PK-LQP” oleh Beritagar.id menjadi contoh yang ideal bagaimana mestinya media menginformasikan kecelakaan secara utuh.

Kedua berita tersebut mengulas tentang beberapa hal ganjil dan rekam jejak pesawat yang mengalami kecelakaan. Berita-berita semacam itu masih perlu diarusutamakan. Selain karena ia membantu publik memahami sebuah peristiwa dengan komprehensif, ia bisa menjadi pelajaran penting apabila ada peristiwa-peristiwa serupa di masa depan.

Namun, jangan-jangan, aspek pengisahan yang masih paling menjadi kendala dalam media kita adalah pengisahan manusia. Kisah human interest yang baik mestinya memanfaatkan kecenderungan emosional manusia untuk menghadirkan perspektif dan merangsang pemikiran. Kisah macam ini masih sangat kurang.

Konsep human interest yang banyak dianut media lokal, adalah tentang mengeksploitasi aspek-aspek kemanusiaan hanya untuk hiburan dan keterpaparan. Hasilnya, ia hanya melayani insting-insting paling dasar dari manusia: hasrat mengintip yang berujung pada masalah etik wartawan yang mengobrak-abrik akun media sosial korban, narasi-narasi firasat yang terus dipaksakan untuk dramatisasi, serta narasi-narasi “pramugari cantik” yang tentunya dihadirkan untuk melayani keinginan pembaca laki-laki.

Dalam human interest jenis ini, yang dihadirkan bukanlah benar-benar perspektif dan suara dari manusia-manusia di seputar kecelakaan ini. Yang dihadirkan adalah suara-suara yang dianggap media ingin didengar oleh pembacanya. Yang dirugikan bukan hanya pembaca yang tidak belajar apa-apa, tetapi juga korban yang dihilangkan suaranya. []


Daftar Pustaka

Franklin, B. 1997. Newszak and News Media. London: Arnold.


Tulisan ini telah diperbarui dengan perbaikan terkait kesalahan penulisan tanggal, dari "Sejak Senin 29 November..." menjadi "Sejak Senin 29 Oktober..." Terima kasih kepada Triyane Ledi Okmeris (@lediokmeris) yang mengingatkan melalui cuitannya.


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Editor dan peneliti di Remotivi. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. Kerap ditemukan main catur di warung kopi sekitar Rawamangun.

Wisnu Prasetya Utomo

Wisnu Prasetya Utomo. Penulis buku Suara Pers Suara Siapa? (2016), dan Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan (2013) yang diangkat dari skripsinya. Saat ini, peneliti Remotivi dan penyunting buku Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca Orde Baru (2015) ini sedang melanjutkan kuliah di jurusan Media and Communication di University of Leeds, Inggris.

Populer
Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga
Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan