REMOTIVI/Eko Razaki
REMOTIVI/Eko Razaki
11/04/2018
Jurnalisme Sains yang Rawan dalam Kasus Terawan
Ketika testimoni politisi menjadi parameter utama media, ilmu kedokteran tak ada bedanya dari perdukunan.
11/04/2018
Jurnalisme Sains yang Rawan dalam Kasus Terawan
Ketika testimoni politisi menjadi parameter utama media, ilmu kedokteran tak ada bedanya dari perdukunan.

Mungkin Anda sudah mendengar kisah Terawan Agus Putranto, seorang dokter militer yang juga dokter kepresidenan, yang mendapatkan sanksi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) atas tuduhan pelanggaran kode etik serius pada 26 Februari lalu.

Ia kerap melakukan dan mempromosikan sebuah metode pengobatan “cuci otak”: semacam kombinasi dari metode diagnosis DSA (Digital Substraction Angiography), yang kerap dilakukan untuk memvisualisasi pembuluh darah otak, dengan penyuntikan langsung Heparin (pengencer darah) melalui kateter yang dimasukkan hingga ke pembuluh otak. Terawan menjual praktik ini sebagai solusi dari penyakit stroke, yang akhirnya dianggap bermasalah karena belum melalui tahapan uji saintifik yang layak oleh IDI.

Isu ini ternyata menjadi polemik. Media beramai-ramai membicarakannya dari berbagai sudut pandang. Hasil pantauan dari pengulasan media daring mengenai kasus ini ternyata menarik: insiden ini ternyata merupakan contoh kasus yang tepat untuk membicarakan jurnalisme sains dan framing (pembingkaian) media melalui pemilihan narasumber.

Bingkai “Terawan Melawan Tirani”

Sekali lihat, daftar pembela Terawan nampak seperti karpet merah politik yang menyilaukan. Berbagai tokoh elit, mulai dari Moeldoko, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Dedi Mulyadi, Edhie Baskoro, SBY, Wakil Ketua DPR Agus Hermanto, hingga Prabowo,berduyun-duyun membela Terawan dengan solidaritas yang luar biasa. Para figur publik ini menyumbangkan berbagai dukungan moral dan juga testimoni pelayanan kesehatan yang pernah mereka terima dari Terawan.

Pola pemilihan narasumber ini tampaknya mewarnai pembingkaian media secara umum. Secara keseluruhan, media memiliki kecenderungan kuat untuk mengulas kasus Terawan dengan dengan cara yang positif. Kecenderungan ini terlihat di Tempo.co, dengan tajuk-tajuk seperti “Dipecat MKEK IDI, Dokter Terawan: Begitu Tega dan Kejamnya Mereka” atau “Tunjukkan Ruang Metode Cuci Otak, Terawan: Tak Ada yang Ditutupi”. Pola serupa ditemukan dalam pemberitaan Republika.co.id, danDetik.com. Beberapa media seperti Merdeka.com dan Viva.co.idmelangkah lebih jauh lagi, dengan artikel yang mengagungkan pekerjaan Terawan sebagai “mukjizat tuhan”dan membingkai Terawan sebagai jenius yang “didzalimi”, seperti banyak orang cerdas lain di Indonesia.

Selain Kompas.com, yang bermain relatif netral dan aman, tampaknya mayoritas media daring sepakat mendapuk Terawan sebagai pahlawan. Ia dibungkus dalam narasi “Daud lawan Jalut”, underdog tertindas yang berjuang melawan elit yang lalim (meskipun Terawan sesungguhnya memiliki latar yang sangat-sangat elit). Berbagai testimoni dan sentimen personal menjadi bensin dari penobatan Terawan sebagai martir.

Pola ini serupa dengan pola pengulasan media terkait kepanikan “Orang Gila Gaya Baru” yang terjadi di awal 2018. Dalam mengulas kepanikan tersebut, media asyik mengutipi opini tokoh publik, entah relevan atau tidak. Konten jenis ini malah menenggelamkan upaya penjelasan konteks yang mendasar bagi para khalayak, dan memperparah kebingungan yang terjadi di masyarakat.

Dalam kasus Terawan, hanya Tirto.id yang berhasil menjelaskan konteks dengan cukup kompeten.  Berbeda dari media-media lain, Tirto.id berhasil menghindari jebakan sirkus opini figur yang membiaskan perbincangan publik. Rangkaian laporan mendalam yang dilakukan Tirto.id memaparkan konteks secara jelas dengan data, narasumber, dan alur pikiran yang bisa dipertanggungjawabkan. Upaya penjelasan konteks memang dilakukan juga oleh beberapa media lain, seperti Kompas.comdan Tempo.co. Namun, upaya ini kerap kali tidak dilaksanakan dengan sempurna atau berjumlah sedikit, dan ia kerap bertabrakan dengan narasi puja-puji yang memenuhi artikel lain.

Kompleksitas Sains dan Jembatan Jurnalisme

Apakah perbedaan utama antara dokter dan dukun?

Dokter dan ilmu kedokteran, yang secara objektif berperan besar terhadap tingkat harapan hidup dan kualitas kesehatan modern yang paling baik sepanjang sejarah manusia, adalah bidang ilmu yang memiliki nilai karena ia setia terhadap kaidah-kaidah saintifik. Ketika kaidah saintifik dihormati, pesawat bisa terbang, komputer bisa berhitung, dan antibiotik dapat membuat penyakit yang dulunya fatal menjadi remeh.

Dalam ilmu kedokteran, yang berkaitan langsung dengan maslahat banyak orang, ketaatan terhadap kaidah saintifik menjadi persoalan hidup-mati. Karena itu pula ilmu kedokteran memiliki jalinan kode etik yang rumit. Selain itu, ada banyak variabel yang mempengaruhi kesehatan manusia, yang membuat kajian objektif tentang pengobatan dan kesehatan menjadi pelik.

Salah satunya, efek plasebo. Singkatnya, efek plasebo adalah kecenderungan penderita penyakit untuk sembuh atau merasa lebih baik ketika ia mendapatkan perawatan, sekalipunperawatan tersebut sesungguhnya palsu. Ketika seseorang merasa percaya dengan sebuah pengobatan, tubuhnya bereaksi dengan cara positif yang dapat membantu menyelesaikan masalah itu dengan sendirinya. Efek ini sangat kuat: masalah-masalah seperti rasa sakit hingga masalah jantung dapat diredakan hanya dengan pil kosong.

Karena itulah, kompetensi sebuah obat atau metode perawatan harus melalui uji klinik yang kompleks. Ia harus melalui tahapan double blind test, untuk memastikan bahwa keampuhannya bukanlah sekadar plasebo atau sugesti. Karena itu pula, hal-hal seperti testimoni–dari pembesar negeri  sekalipun–tidak memiliki nilai apapun dalam menguji validitas pengobatan.

Harus diakui, penyebaran informasi saintifik dalam konteks kasus seperti Terawan merupakan sebuah masalah yang cukup pelik. Ia meliputi kepentingan publik, sehingga penting untuk disampaikan media. Namun, topik bahasan yang khusus dan sulit membuat proses pemahaman menjadi berat bagi wartawan dan khalayak umum.

Namun, rangkaian liputan Tirto.id telah membuktikan bahwa jurnalisme sains yang informatif dan objektif sesungguhnya tidak mustahil dilakukan. Dengan pembahasan lugas dan sederhana, dan pemilihan narasumber ahli dengan bertanggungjawab, Tirto.id mampu memanusiakan bahasa keilmuan yang rumit ke dalam bahasa awam. Singkatnya, metode cuci otak tidak masuk akal karena metode DCA sesungguhnya sudah lama dikenal sebagai alat diagnosis, dan penggunaan Heparin sebagai pengencer darah sesungguhnya tidak tepat untuk penanganan stroke.

 Terapi cuci otak sudah bermasalah sejak dari logika dasarnya. Terawan melakukan dan mempromosikannya tanpa uji klinis yang layak, sementara testimoni dari pasien saja tidak akan pernah cukup dalam standar ilmu kedokteran. Jauh dari memberi label “jenius” atau “inovator”, terapi Terawan dipermasalahkan oleh Tirto.id.

Jika seorang mekanik pesawat terbukti melakukan keteledoran atau kecacatan dalam pekerjaan, ia tentu harus dievaluasi atau bahkan, kalau perlu, dihukum. Tak peduli apakah kelalaiannya belum pernah menyebabkan kecelakaan, apakah ia dekat dengan orang-orang besar di negara ini, atau apakah ia orang yang baik. Bukankah sikap serupa seharusnya kita terapkan pada Terawan?

Media Menghamba Kuasa

James Boylan (1991) mengatakan bahwa pemberitaan umumnya didefinisikan oleh sumber, yang seringkali pada akhirnya merupakan pihak yang memiliki kuasa. Dalam Media Power Politics (1981), David Paletz dan Robert Entman merenungkan ketergantungan media terhadap narasumber-narasumber elit ini, dan menyimpulkan bahwa “media massa seringkali secara tidak sadar menjadi pembantu kekuasaan.”

Formulasi Boylan, Paletz & Entman ini tepat untuk menggambarkan situasi media Indonesia di saat ini. Kasus Terawan adalah isu dalam komunitas sains yang memiliki implikasi penting pada isu kesehatan, yang merupakan isu kunci bagi publik. Seharusnya, media menjadi jembatan untukmembantu masyarakat memahami isu ini. Namun, impotensi media justru membuat mereka sibuk membeo pernyataan tokoh masyarakat, politisi, atau artis apapun yang kira-kira paling menarik klik.

Bukannya memosisikan diri sebagai institusi media yang memiliki agensi dan kritisisme, sebagian besar dari media malah menghanyutkan diri dalam opini politisi kawan-kawan Terawan yang sesungguhnya buta isu. Dengan bergantung pada opini narasumber secara tidak bertanggung jawab, media telah menyulap isu Terawan dari isu profesionalisme menjadi isu personal.

Siapa yang dirugikan? Tentunya, publik yang akhirnya tak mendapat pelajaran yang substansial. Juga komunitas sains dan kedokteran, yang seharusnya memiliki otonomi untuk bersikap profesional tanpa tekanan pihak manapun, dan kini jelas telah merasakan tekanan dari media. Kesempatan belajar ini terlewat sia-sia, ditukar dengan kesempatan sebagian masyarakat untuk mendapat hiburan sentimentil sesaat.[]

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Editor dan peneliti di Remotivi. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. Kerap ditemukan main catur di warung kopi sekitar Rawamangun.

Populer
Bagaimana Tribunnews Membantu Terorisme?
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Stereotipe Perempuan dalam Media
Berbahasa dalam Sosial Media
Tak Ada Evaluasi dalam Evaluasi Dengar Pendapat KPI