REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
28/02/2018
Serangan Ulama: Mencipta Teror dari Tiada
Selepas kasus pembunuhan sejumlah pemuka agama, "orang gila" menjadi momok warga. Panik dan kemarahan ini dihasilkan oleh spekulasi media.
28/02/2018
Serangan Ulama: Mencipta Teror dari Tiada
Selepas kasus pembunuhan sejumlah pemuka agama, "orang gila" menjadi momok warga. Panik dan kemarahan ini dihasilkan oleh spekulasi media.

Sejak awal tahun baru ini telah terjadi beberapa kasus kekerasan dan diskriminasi yang termotivasi (atau dianggap termotivasi) oleh gesekan di antara lini agama. Mulai dari serangan dengan senjata tajam di Gereja Santa Lidwina yang melukai beberapa korban sipil hingga beberapa kasus kekerasan terhadap beberapa tokoh ulama atau pemuka agama Islam.

Dalam iklim ini, media memiliki tanggung jawab yang sangat penting. Apalagi, kita tahu betul betapa arus informasi era digital yang karut marut kerap kali mempersulit masyarakat dalam memperoleh pandangan yang jelas mengenai berbagai isu. Dalam kondisi ini, media yang  profesional dan bertanggung jawab dapat membantu masyarakat melihat dan memaknai berbagai peristiwa dengan jernih dan objektif, tanpa terjebak bias emotif dan prasangka tanpa dasar. Nah, bagaimana sejauh ini media menjalankan peranan mereka dalam menginformasikan masyarakat terkait berbagai peristiwa ini?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya melakukan pemantauan singkat terkait pemberitaan daring mengenai isu kekerasan terhadap pemuka agama di tiga media yang cukup besar di Indonesia: Kompas.com, Tempo.co, dan Republika Online. Pantauan saya akan berfokus pada peliputan serangan gereja Santa Lidwina dan juga serangan terhadap pemuka-pemuka agama Islam dalam rentang 11 Februari hingga 22 Februari.

Meliput Kekerasan di Antara Lini Agama

Meliput tindak kekerasan yang berpotensi menimbulkan perpecahan di antara masyarakat merupakan tindakan yang rumit. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan informasi. Di sisi lain, pemberitaan yang tidak objektif, emotif, atau eksploitatif justru berpotensi memperdalam konflik dan perpecahan. Logika ini sangat dipahami oleh pelaku teror, yang semakin lama semakin bekerja sesuai dengan logika media. Berbagai tindak kekerasan yang mereka lakukan tidak lagi terfokus pada kerusakan fisik, melainkan perhatian media dan dampak psikis pada masyarakat luas. Seperti namanya, terorisme bekerja dengan menyebarkan keresahan, ketakutan, dan ketidakpastian; membelah masyarakat dengan kecurigaan untuk mendorong tujuan politik tertentu.

Di sinilah media menjalankan peranannya. Media dapat mengamplifikasi teror yang disebabkan oleh aksi kekerasan, atau meminimalisir dampak buruk yang ditimbulkannya. Media perlu menginformasikan masyarakat secara objektif, akurat, dan bertanggung jawab. Namun, itu saja tidak cukup: media perlu membantu masyarakat memahami kejadian teror dan memandu mereka menyikap ancaman tanpa terjebak dalam narasi teror.

UNESCO merilis sebuah panduan mendalam tentang bagaimana media perlu menyikapi terorisme. Dari panduan ini, ada beberapa poin penting yang dapat digunakan untuk mengevaluasi peliputan media Indonesia atas kekerasan agama yang terjadi: mendeskripsikan kejadian penting secara jelas dengan menghindari sensasionalisme, memilih narasumber ahli secara berhati-hati, menghindari kata-kata bermuatan emotif, serta mengendalikan dan mendekonstruksi ujaran kebencian, rumor, dan teori konspirasi.

Dalam mengupas kasus serangan Gereja St Lidwina, media Indonesia nampaknya mulai terbiasa dengan reportase teror.  Republika Online menggunakan narasumber resmi untuk menyampaikan pernyataan yang cukup bertanggung jawab untuk membantu mengklarifikasi apa yang telah terjadi pada masyarakat (“Polisi Belum Ketahui Motif Serangan Gereja di Sleman”, “Ini Identitas Awal Pelaku Serangan Gereja di Sleman”, “Kapolri: Penyerang Gereja St. Lidwina Pernah Coba ke Suriah”) Selain itu, Republika Online juga membantu khalayak memaknai peristiwa dan mencegah narasi teror (“Pemberitaan Gereja Sleman Jangan Memicu Disharmoni”, “Aktivitas Ekonomi di Sleman tak Terpengaruh Serangan Gereja”, “Serangan Gereja, Kapolda DIY Minta Publik Setop Berspekulasi”).

Begitu pula dengan Kompas.com dan Tempo.co. Kedua kanal berita nampak memiliki prioritas yang sama: mendeskripsikan kejadian secara objektif dengan pemilihan narasumber yang bertanggung jawab (“Penyerang Gereja St Lidwina Ditembak, tapi Masih Hidup”, “Begini Detik-detik Penyerangan Gereja St Lidwina Sleman”, “Kisah Heroik Aiptu Munir Lumpuhkan Penyerang Gereja Santa Lidwina Bedog”) dan menghadirkan narasi anti-teror (“Saat Romo Prier Pilih Memaafkan Penyerang Gereja St Lidwina”, “Gereja Santa Lidwina Diserang, Masyarakat Diminta Tetap Bangun Solidaritas”).

Secara umum, peliputan media-media ini relatif tidak bermasalah. Ada upaya penghindaran dari kata-kata bermuatan emotif ataupun politis seperti “aksi teror”, dengan penggunaan kata-kata deskriptif seperti “serangan”. Ketika terorisme dibahas, ia dihadirkan dengan bukti dan penjelasan yang memadai.

Republika Bermain Api dengan Teori Konspirasi

Dibandingkan dengan serangan Gereja St Lidwina, “rentetan” kasus kekerasan terhadap ulama merupakan fenomena yang lebih rumit. Rentetan kasus ini meliputi beberapa serangan terhadap pemuka agama Islam yang dinyatakan polisi sebagai “kriminalitas biasa”, atau pelakunya disebut memiliki kelainan jiwa. Berbagai hoax dan berita palsu yang berseliweran di media sosial membuat situasi nyata terkait fenomena ini semakin kabur. Bahkan, dalam beberapa kalangan, fenomena ini sudah mewujud sebagai fenomena panik moral: situasi dimana masyarakat terfiksasi pada ancaman tertentu, baik nyata ataupun imajiner, secara tidak tepat atau sepadan dengan dampak nyata yang ia timbulkan.

Sialnya, media gagal mengurai kabut informasi terkait fenomena ini. Pengamatan singkat saya di media justru sempat menimbulkan lebih banyak pertanyaan dari pada jawaban. Setelah menggali, barulah saya menemukan bahwa diantara (setidaknya) belasan hoax, sesungguhnya “hanya” ada 3 kasus kekerasan yang terjadi: kekerasan terhadap KH Umar Basri, kekerasan terhadap KH Hakam Mubarok, dan kekerasan terhadap Prawoto yang berujung kematian. Dalam semua kasus tersebut, tidak ada bukti bahwa kejadian-kejadian tersebut berkaitan atau membawa agenda teror.

Mengapa peliputan media ini terasa membingungkan? Dalam kasus ini, media seringkali tidak menggunakan narasumber ahli secara bertanggung jawab. Media banyak mengutip tokoh-tokoh, termasuk tokoh agama, yang bukan ahli, memiliki risiko bias, atau nampak sama bingungnya dengan khalayak awam di tengah arus hoax.

Kesalahan ini dilakukan oleh semua media yang dipantau, simak saja artikel Kompas.com “MUI Curiga Ada Rekayasa di Balik Rentetan Penyerangan Pemuka Agama”  dan artikel Tempo.co “Pesantren Sangsikan Kebenaran Kabar Penyerang Ulama Orang Gila”. Namun, Republika Online merupakan pelanggar terburuk, dengan rentetan artikel sejenis yang diangkat selama masa pemantauan. Kebanyakan artikel ini akhirnya bersifat sensasionalistik: mempromosikan teori konspirasi, kecurigaan, dan spekulasi tanpa dasar. Berikut beberapa di antaranya adalah : “Pengamat Intelijen: Orang Gila Ternyata Bisa ‘Dioperasikan’”, “Penyerangan Pemuka Agama Sangat Terencana dan Sporadis”, “Gus Solah Duga Ada Pihak Mengadu Domba”, “Polri Didesak Ungkap ‘Produsen’ Orang Gila Penyerang Ulama”, “Dicurigai Ada Gerakan di Balik Penyerangan Terhadap Ulama”, dan banyak lainnya.

Jangankan membimbing masyarakat dalam memahami dan memberi makna pada kekerasan yang terjadi, besarnya jumlah artikel semacam ini justru menenggelamkan informasi mendasar yang benar-benar esensial dan dibutuhkan oleh masyarakat, seperti apa saja insiden kekerasan yang sesungguhnya terjadi, dan bagaimana ia terjadi.

Selain itu, isu kekerasan antar-agama dan terorisme merupakan isu sensitif, dan peliputannya harus dilaksanakan secara berhati-hati dengan menghindari penggunaan kata-kata yang emotif dan tendensius. BBC, misalnya, secara gamblang mendorong penghindaran penggunaan kata “teroris” yang memiliki muatan emotif dan politis dalam panduan editorialnya. Kata-kata netral dan deskriptif, seperti “serangan” atau “penembakan”, lebih disarankan untuk penjelasan yang faktual.

Republika Online justru bekerja dengan logika sebaliknya. Mereka mengorbitkan istilah baru seperti “Orang Gila Gaya Baru”, yang jelas terinspirasi dari hoax dan teori konspirasi “Komunisme Gaya Baru”, untuk menyebut para pelaku serangan terhadap tokoh Islam ini. Tanpa malu-malu, mereka mengorbitkan penggunaan kata-kata yang emotif dan sensasionalistik, sekaligus mengorbitkan rumor dan teori konspirasi saat masyarakat membutuhkan panduan dalam suasana keruh.

Dari pemantauan ini, terlihat bahwa media masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam menginformasikan masyarakat terkait kekerasan antar-agama. Media bukanlah juru catat yang sekedar membeo narasumber, mereka adalah aktor yang berpotensi membantu masyarakat memahami fenomena kekerasan dengan baik tanpa terbawa dalam narasi teror.

Namun, rapor merah secara khusus perlu diberikan pada Republika Online. Bukannya menginformasikan masyarakat, mereka justru berkomitmen menghadirkan narasi yang bukan hanya tidak bertanggung jawab secara jurnalistik, namun juga mendorong keresahan, perpecahan, dan kecurigaan. Entah karena condong pada segmen politik tertentu atau mengejar klik, mereka abai dari tanggung jawab mereka untuk menginformasikan publik. Di tengah karut marut hoax, yang kerap ditunjuk sebagai keburukan media sosial, Republika Online tidak menunjukkan perbedaannya sebagai media “senior” di negara ini.

Kekerasan dalam hampir segala bentuk memang tidak dapat ditoleransi. Namun, sama sekali tidak ada  bukti bahwa tiga serangan atas tokoh agama yang terjadi ini berkaitan. Sulit untuk mengatakan bahwa serangan-serangan ini termotivasi oleh ketegangan antar-golongan di tahun politik, apalagi mengklaim bahwa ada konspirasi jahat di balik ketiga kasus tersebut.

Ironisnya, jika memang ada “kekuatan jahat” yang berkonspirasi di balik serangan-serangan ini untuk membangun teror, mereka perlu berterima kasih pada Republika Online yang secara praktis sudah membantu mereka dengan sangat baik. Dengan cara mereka menyikapi isu ini, Republika Online menyebarkan ketakutan, kecurigaan, dan perpecahan; modus utama terorisme. Lebih menyedihkan lagi jika panik moral ini ternyata memang tidak berdasar, dan rangkaian kejadian malang ini memang tidak berhubungan. Hal itu berarti bahwa Republika Online telah berhasil menyulap isu teror dari ruang hampa.[]

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Editor dan peneliti di Remotivi. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. Kerap ditemukan main catur di warung kopi sekitar Rawamangun.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal