03/06/2018
Undangan Menulis: Jurnalisme di Tengah Transformasi Digital
Remotivi mengundang publik untuk mengirimkan tulisan tentang industri media digital.
03/06/2018
Undangan Menulis: Jurnalisme di Tengah Transformasi Digital
Remotivi mengundang publik untuk mengirimkan tulisan tentang industri media digital.

Beberapa hari yang lalu, peneliti kami Muhamad Heychael menulis kritiknya terhadap reportase Tribunnews terkait serangan teror Surabaya. Artikel tersebut ternyata memantik pembicaraan yang berlanjut dengan diskusi publik di ranah daring maupun luring, dan melebar menjadi diskusi tentang industri media daring secara umum.

Pekerja media memang selama ini bekerja dengan menjejak dua alam. Di satu sisi, ada dimensi bisnis dan industri yang menekan mereka untuk memberi untung kepada perusahaan. Di sisi lain, ia juga memiliki tanggung jawab terhadap publik, dengan fungsi ideal mereka sebagai “anjing penjaga demokrasi” dan sumber informasi masyarakat.

Hal ini menunjukkan sebuah masalah yang perlu dipecahkan. Perubahan teknologi dan berkembangnya internet telah mengguncang industri media. Seperti yang ditulis Columbia Journalism Review, media hari ini menghasilkan lebih banyak berita, secara lebih cepat, oleh pekerja yang lebih sedikit dan lebih tidak berpengalaman. Sekilas, nampaknya ada yang salah: tentu ada yang dikorbankan oleh perubahan ini. Apa saja? Nasib pekerja dan kualitas produk jurnalistik bisa jadi beberapa di antaranya.

Transformasi digital nampaknya membuat pelaku media kalang kabut mengkalibrasi ulang logika bisnis mereka. Lebih banyak, lebih singkat, lebih cepat, nampaknya menjadi nilai yang diadopsi sebagai reaksi terhadap perubahan ini. Semua untuk mengejar “kesuksesan” produk jurnalistik, yang saat ini nampaknya ditakar dari serangkaian algoritma klik dan keterpaparan.

Sejak dulu, media selalu ingin dan butuh dibaca. Bagaimana membuat judul yang menarik? Bagaimana membuat lead yang menangkap perhatian? Bagaimana caranya agar kita menjadi buah bibir pembicaraan? Semua pertanyaan ini sama sekali bukan hal yang baru. Untuk apa menulis, jika tidak ada yang baca? Namun, saat ini definisi keterbacaan nampaknya direduksi sedemikian rupa: klik bukan lagi sekadar jalan agar tulisan kita dibaca, klik justru menjadi tujuan dari kerja media itu sendiri.

Dalam kondisi ini, bagaimana caranya agar media dapat bertahan hidup sebagai industri tanpa mengorbankan kualitas dan pemenuhan hak publik? Apakah “Jurnalisme Klik” adalah sebuah keniscayaan, ataukah ada solusi lain?

Remotivi sepakat bahwa diskusi yang terjadi ini penting dan perlu dilanjutkan. Kami melihat momen ini sebagai kesempatan berharga untuk bisa memulai perubahan yang lebih konkret dalam ranah jurnalisme daring. Maka, kami mengundang akademia, mahasiswa, pekerja media, atau bagian dari publik yang terusik, untuk berkontribusi dengan mengirimkan tulisan seputar tema: “Jurnalisme di Tengah Transformasi Digital”.

Mungkin Anda punya kisah tentang kultur kerja pekerja media yang berubah karena konvergensi digital, atau beban kerja yang semakin meningkat dengan imbalan yang stagnan. Mungkin Anda punya ide tentang model bisnis yang mampu bertahan dalam iklim digital tanpa mengorbankan kualitas, atau Anda justru ingin berargumen bahwa jurnalisme klik bisa berjalan beriringan dengan jurnalisme berkualitas. Mungkin juga Anda tertarik mendekati jurnalisme daring dari aspek pembaca yang bersifat sosiologis-antropologis, atau bahkan mendekati jurnalisme dari kacamata ekonomi-politik.

Apapun itu, kami tertarik dengan pendapat dan analisis Anda. Jika Anda tertarik untuk berkontribusi, Anda dapat mencari tahu lebih lanjut tentang cara berkontribusi di sini. Tulisan Anda, tentunya, akan melalui tahapan diskusi dan penyuntingan lebih lanjut dengan editor Remotivi.

Kami menanti ide dan kontribusi Anda! []

Bacaan Terkait
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Mendukung Propaganda Orde Baru, TV One Memang Beda
Bolehkah Jurnalis Mengekspresikan Dukungan Politiknya di Media Sosial?
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Generasi Jurnalis yang Hilang