REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
04/04/2018
Remotivi Memilih Direktur Baru
Roy Thaniago menjadi Direktur Remotivi, didampingi Yovantra Arief sebagai Wakil Direktur.
04/04/2018
Remotivi Memilih Direktur Baru
Roy Thaniago menjadi Direktur Remotivi, didampingi Yovantra Arief sebagai Wakil Direktur.

Kalau kami memiliki kabar baik, kami ingin Anda yang paling segera tahu. April ini, kabar baik itu adalah tentang kami yang memiliki direktur baru.

Adalah Roy Thaniago yang ditunjuk menjadi Direktur Remotivi secara musyawarah mufakat oleh Perkumpulan Remotivi—badan hukum di mana Remotivi bernaung. Roy menggantikan Muhamad Heychael yang telah menjabat sebagai Direktur Remotivi sejak April 2015. Dalam peraturan yang kami buat, periode kepengurusan seorang direktur memang dipilih ulang tiap tiga tahun. Untuk mendampinginya, Roy menunjuk Yovantra Arief menjadi Wakil Direktur.

Roy bukanlah wajah baru di Remotivi. Selain sebagai pendiri, Roy adalah direktur pertama Remotivi sejak 2010. Pada 2015 ia berangkat kuliah master bidang Kajian Media dan Komunikasi di Universitas Lund, Swedia. Kembali ke Indonesia pada pertengahan tahun lalu, Roy langsung kembali bekerja di Remotivi. Selain itu, ia kini juga bekerja sebagai pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara.

Sementara itu, Yovantra Arief sebelumnya pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Remotivi.or.id pada 2014. Bergabung dengan Remotivi sejak 2011 sebagai pengarsip, ia kemudian dipercaya mengepalai kanal YouTube Remotivi sejak 2017, dengan rubrik utamanya yaitu Yang Tidak Media Katakan.

Sekadar kilas balik Remotivi dalam tiga tahun terakhir, Heychael telah memperluas lingkup kajian Remotivi dari sebatas kajian televisi menjadi kajian media dan komunikasi yang lebih umum. Selama periode ini Remotivi juga aktif mengawal revisi Undang-Undang Penyiaran, dengan turut serta mendirikan Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran (KNRP). Dalam kerjanya, KNRP telah mengorganisir ratusan akademisi dan lebih dari 20 organisasi masyarakat sipil untuk menuntut DPR memuat isu-isu publik dalam Undang-Undang baru. Namun lepas dari beberapa pekerjaan yang telah dilakukan, kepengurusan lalu memiliki banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, utamanya dalam hal membangun alternatif pendanaan mandiri dan manajerial organisasi.

Di bawah kepemimpinan baru ini, Remotivi merancang beberapa agenda utama. Pertama adalah agenda memodernisasi organisasi. Dalam konteks ini, isu manajemen, sumber daya manusia, dan kemandirian ekonomi organisasi adalah hal yang akan paling mendapat perhatian. Untuk mengatasinya, dua divisi baru dibentuk: Divisi Unit Usaha dan Divisi Pengembangan Manusia.

Agenda kedua adalah pemantapan kedudukan Remotivi sebagai lembaga studi dan pemantauan media di Indonesia. Setelah sebelumnya Remotivi lebih banyak berkutat pada sektor advokasi dan pengelolaan laman daring, sektor penelitian kini akan menjadi pekerjaan yang pertama dan utama. Maksud dari fokus ini terutama adalah untuk menyediakan data dan analisis mengenai situasi media di Indonesia, yang diharapkan membantu aktivis penyiaran dalam melakukan advokasi dan kampanye, membantu regulator dalam merumuskan kebijakan, dan membantu perusahaan media dan wartawan dalam mengevaluasi kinerjanya.

Agenda ketiga adalah pengembangan laman Remotivi.or.id dan YouTube Remotivi dengan kesadaran baru untuk melayani publik pembaca dalam lingkungan digital. Perubahan paradigma ini dilandasi semangat untuk menghadirkan sebuah program literasi media kritis bagi publik luas.

Agenda keempat akan bersifat tematik, yakni kami akan secara khusus memberikan perhatian pada isu media dan minoritas. Yang kami maksud minoritas di sini adalah mereka yang sedikit dalam jumlah dan/atau termarjinalisasi posisi sosial-politiknya dalam masyarakat. Mereka di antaranya adalah para lansia, masyarakat adat, agama minoritas, perempuan, LGBTQ, anak, etnis minoritas, kelompok miskin kota, dan penyandang difabilitas.

Dengan kesadaran bahwa percakapan publik melulu ditentukan oleh logika pasar dan dominasi elit politik, media arus utama kerap abai mengakomodasi aspirasi kelompok minoritas. Kalau pun tak abai, perspektif pemberitaannya pun melulu berada dalam kerangka ideologi dominan, yang kerap gagal memahami atau merepresentasi kelompok minoritas dengan lebih baik. Terpinggirkannya isu minoritas di media, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, kami anggap berkontribusi pada kebijakan publik yang tak berpihak sekaligus menebalkan kondisi sosial-kultural yang diskriminatif.

Selain menyampaikan kabar terbaru tadi, lewat ini kami juga ingin kembali menegaskan posisi yang sedari mula kami pegang: kami tak netral, kami selalu berpihak. Kami tidak bekerja untuk menyenangkan semua orang. Kerja-kerja kami dilandasi pada semangat melawan dominasi dan penindasaan, yang ditempuh melalui kerja-kerja akademik. Pada nilai-nilai itulah kami bersandar dan memelihara sikap dan konsistensi.

Akhirulkalam, kami ingin mengucapkan beribu terima kasih kepada Heychael untuk tiga tahun kepemimpinannya, dan kami dengan suka cita menyambut Roy untuk kepemimpinannya ke depan. []

Bacaan Terkait
Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal